Filosofi di Balik Aksara Jawa: Pelajaran Moral dan Spiritual

Filosofi di Balik Aksara Jawa: Pelajaran Moral dan Spiritual
(Gambar: Pinterest)

Jatengkita.id – Pada tanggal 02 Oktober 2009, aksara Jawa resmi diakui UNESCO melalui lembaga di bawah naungannya, yaitu Unicode.

Pengakuan tersebut menjadikan aksara Jawa bisa diakses di perangkat komputer, setara dengan huruf lain seperti Latin, China, Arab, dan Jepang.

Aksara Jawa sendiri muncul dalam dua versi menurut sejarahnya. Pertama, didasarkan pada legenda Ajisaka. Kedua, didasarkan pada hasil riset arkeologis tentang perkembangan aksara Jawa.

Dalam versi pertama, dikisahkan Ajisaka menciptakan puisi yang didedikasikan bagi abdi setianya, Dora dan Sembada yang meninggal karena saling bertarung dalam menjaga perintah pemimpinnya. Puisi tersebut berbunyi,

Ha-Na-Ca-Ra-Ka (ada utusan (Dora dan Sembada)

Da-Ta-Sa-Wa-La (mereka ada perselisihan)

Pa-Dha-Ja-Ya-Nya (keduanya seimbang kesaktiannya)

Ma-Ga-Ba-Tha-Nga (maka inilah mayatnya)

Baca juga: Evolusi Aksara Jawa, Dari Papan Tulis ke Layar Smartphone

Sementara itu dalam versi kedua, aksara Jawa lahir dari perkembangan aksara Pallawa yang diteliti secara arkeologis.

Seiring perkembangan aksara Jawa, munculah gagasan standardisasi penulisan untuk menyelaraskan tata tulis dalam rangka menghindari kesalahpahaman makna.

Aturan pertama muncul tahun 1922 dari hasil Rapat Komisi Kesusasteraan di Sriwedari, Surakarta. Berlanjut pada tahun 1996 melalui Kongres Bahasa Jawa II, acuan penulisan aksara Jawa terbaru diterbitkan dan digunakan hingga saat ini.

Filosofi Aksara Jawa

Sebagai bagian dari kesusasteraan Jawa yang jadi bagian dari kehidupan masyarakat, aksara Jawa tidak lepas dari filosofi. Setiap hurufnya memiliki makna yang  berkaitan dengan pelajaran kehidupan.

  • Hana Huripwening Suci (Adanya hidup  adalah kehendak yang Maha Suci)
  • Nur Candra, Gaib Warsitaning Candra (Pengharapan manusia hanya selalu ke Nur Ilahi)
  • Cipta Wening, Cipta Mandulu, Cipta Dadi (Satu arah dan tujuan ke Yang Maha Tunggal)
  • Rasaingsun Handulusih (Rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani)
  • Kersaningsung Memayuhayuning Bawana (Hasrat diarahkan untuk kesejahteraan alam)
  • Dumadining Dzat Kang Tanpa Winangenan (Menerima hidup apa adanya)
  • Tatas, tutus, titis, titi, lan wibawa (Mendasar, totalitas, satu visi, dan ketelitian dalam memandang hidup)
  • Sifat ingsun handulu sifatullah (Membentuk kasih sayang seperti Tuhan)
  • Wujud Hana tan Kena Kinira (Ilmu manusia hanya terbatas, namun implikasinya bisa tanpa batas)
  • Lir handaya paseban jati (Mengalirkan hidup semata pada tuntunan Ilahi)
  • Papan kang tanpa kiblat (Hakikat Allah yang ada di segala arah)
  • Dhuwur wekasane endhek wiwitane (Untuk bisa di atas, tentu dimulai dari bawah)
  • Jumbuhing Kawula lan Gusti (Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya)
  • Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi (Yakin atas titah/kodrat Ilahi)
  • Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki (Memahami kodrat kehidupan)
  • Madhep mantep manembah mring Ilahi (Yakin, mantap dalam menyembah ilahi)
  • Guru sejati sing muruki (Belajar pada guru nurani)
  • Bayu Sejati Kang Andalani (Menyelaraskan diri pada gerak alam)
  • Thukul saka niat (Sesuatu harus dimulai tumbuh dari niatan)
  • Ngracut busananing manungso (Melepaskan egoisme-pribadi manusia)
filosofi aksara jawa
(Gambar: Pinterest)

Filosofi Pasangan, Sandhangan, dan Tetenger

Aksara Jawa merupakan aksara abugida, artinya setiap hurufnya melambangkan satu suku kata yang terdiri atas konsonan dan vokal. Karena merupakan aksara dasar (legena), aksara Jawa membutuhkan pelengkap lain, misalnya sandhangan untuk bisa dimaknai.

Makna aksara dasar di sini dipahami sebagai gambaran kehidupan manusia di dunia yang dilahirkan dalam keadaan telanjang.

  • Pasangan
    Setiap manusia akan mendapatkan apsangan yang menjadikan hidupnya lebih utuh.
  • Sandhangan
    Kehidupan manusia membutuhkan hal-hal dasar seperti sandang, pangan, dan papan.
  • Tetenger pada tanda baca
    Manusia tidak bisa hidup seenaknya sendiri. Mereka harus diikat dengan norma sebagai bagian dari tatanan kehidupan di bumi.

Baca juga: Jejak Sejarah Aksara Jawa, Legenda, dan Filosofinya

Filosofi Sandhangan

  • Wulu (i)
    Melambangkan sarana menggapai Tuhan. Wulu merepresentasikan sesuatu yang bisa digunakan untuk terbang ke angaksa (tempat tanpa batas untuk mencapai kesempurnaan hidup, tempat di mana Tuhan bertahta).
  • Suku (u)
    Suku memiliki makna laku atau jalan dalam bahasa Indonesia. Sandhangan ini dimaksudkan agar manusia menjalani kehidupan yang baik untuk memahami arti dan tujuan hidup.
  • Taling (e)
    Artinya pendengaran. Taling mengajarkan manusia untuk mendengarkan hal-hal yang baik.
  • Taling Tarung (o)
    Taling tarung berarti pendengaran yang selalu dipertarungkan. Artinya, manusia harus mencerna dan mengolah informasi yang masuk dengan analisis yang kritis dan arif agar menjadi bijaksana.
  • Ceceg (ng)
    Penulisan ceceg dimulai dari arah kanan ke kiri, yang menjelaskan maksud mengutamakan kebaikan. Filosofi yang terkandung dalam ceceg adalah manusia akan mati dan kembali pada Tuhannya.
  • Layar (r)
    Memiliki makna luas, layar dalam aksara Jawa bermakna manusia harus memiliki hati yang luas (lapang) untuk menerima kenyataan hidup.
  • Pepet (e)
    Sandhangan ini mengajarkan manusia untuk selalu berdzikir mengingat Penciptanya agar amalannya diterima.
  • Pangkon
    Penulisan sandhangan ini selalu di akhir huruf. Filosofi yang terkandung pada pangkon adalah manusia yang hidupnya bergantung pada orang lain, ia akan sengsara dan mati bila tak ada lagi tempat bergantung.

Begitulah aksara Jawa diterjemahkan melalui filosofi tiap hurufnya. Ada pelajaran berharga tentang sikap hidup, bagaimana memperlakukan sesama manusia, hingga bersahabat dengan alam. Semua pelajaran tersebut bermuara pada satu hal, yaitu penghambaan pada Tuhan.

Sumber:

Puspitorini, Bungsu Ratih. (2018). Jelajah Jawa Tengah Ragam Bahasa dan Sastra Jawa Tengah. Surakarta: Borobudur Inspira Nusantara.

Join saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi menarik seputar Jawa Tengah, klik di sini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *