Jatengkita.id – Di balik bentuknya yang khas, bunga Wijaya Kusuma menyimpan cerita panjang dalam kebudayaan Jawa.
Bunga ini tidak hanya dikenal karena dikaitkan dengan mitologi pewayangan, tetapi juga memiliki posisi khusus dalam berbagai cerita mengenai raja, pusaka, dan kepemimpinan.
Dalam tradisi yang berkembang di Jawa, Wijaya Kusuma kerap disebut sebagai bunga para raja. Bahkan, Kamus Bahasa Jawa-Indonesia yang dikelola Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat wijaya kusuma sebagai nama bunga yang digunakan sebagai syarat seseorang yang sudah dinobatkan sebagai raja.
Di balik makna tersebut terdapat sejumlah legenda yang menghubungkan Wijaya Kusuma dengan Sri Bathara Kresna, perjalanan ke Laut Selatan, serta sebuah pulau karang di kawasan Nusakambangan.
Namun, kisah ini tidak berdiri sebagai satu cerita tunggal. Sejumlah versi berkembang melalui babad, sastra keraton, cerita rakyat, dan tradisi lisan masyarakat Jawa.
Wijaya Kusuma dan Makna sebagai Bunga Kemenangan
Nama Wijaya Kusuma sendiri sering dimaknai sebagai kembang kemenangan. Dalam penafsiran budaya Jawa, bunga ini kemudian diasosiasikan dengan kejayaan, keluhuran, serta keberhasilan seorang pemimpin.
Makna tersebut semakin kuat karena Wijaya Kusuma dikaitkan dengan kehidupan kerajaan dan proses pergantian kepemimpinan.
Dalam sejumlah tradisi keraton, bunga ini dipercaya memiliki kedudukan simbolis dalam konteks seorang raja. DetikJogja, misalnya, mencatat kepercayaan masyarakat Yogyakarta dan Surakarta mengenai bunga Wijaya Kusuma sebagai perlambang watak dan pribadi seorang raja.
Karena itu, bunga ini tidak sekadar dipandang sebagai tanaman, tetapi menjadi bagian dari simbol budaya mengenai kepemimpinan, kejayaan, dan tanggung jawab seorang penguasa.
Kisah Wijaya Kusuma dalam Mitologi Prabu Kresna
Salah satu cerita yang paling populer menghubungkan bunga Wijaya Kusuma dengan Prabu Kresna.
Dalam tradisi pewayangan Jawa, Wijaya Kusuma disebut sebagai pusaka istimewa milik Kresna. Ia adalah tokoh yang dikenal sebagai Raja Dwarawati.
Dalam sejumlah versi cerita, pusaka tersebut memiliki kekuatan luar biasa dan berkaitan dengan kemampuan menghidupkan kembali seseorang yang meninggal sebelum waktunya.
Karena Kresna merupakan tokoh penting dalam pewayangan, keberadaan Wijaya Kusuma kemudian ikut memperoleh kedudukan istimewa.
Kisah tersebut membuat bunga ini tidak hanya dipahami sebagai lambang keindahan, tetapi juga sebagai simbol kehidupan, kemenangan, dan kekuatan seorang pemimpin.
Sumber budaya Jawa Tengah juga mencatat adanya kaitan nama Wijaya Kusuma dengan bunga pusaka milik Dewa Wisnu yang menjelma sebagai Kresna dalam kisah pewayangan.
Namun, penting dicatat bahwa hubungan Kresna dan Wijaya Kusuma merupakan bagian dari tradisi mitologis dan pewayangan, bukan fakta sejarah yang dapat diverifikasi secara ilmiah.
Dari Perjalanan Kresna hingga Laut Selatan
Legenda lain kemudian membawa kisah Wijaya Kusuma menuju kawasan Laut Selatan Jawa.
Dalam narasi yang berkembang di masyarakat, setelah peperangan besar Baratayuda, Kresna bersama Pandawa melakukan perjalanan ke berbagai wilayah. Dalam perjalanan tersebut, rombongan disebut sampai ke kawasan pesisir selatan.
Di sinilah cerita tentang bunga Wijaya Kusuma mulai dikaitkan dengan laut.
Salah satu versi legenda menyebut Kresna kemudian melarungkan atau melepaskan Wijaya Kusuma ke lautan. Ia berharap pusaka tersebut dapat menjadi simbol keluhuran dan kepemimpinan bagi para penguasa di Tanah Jawa.
Cerita tersebut kemudian berkembang dalam tradisi lisan masyarakat Jawa bagian selatan, terutama di sekitar Cilacap.
Versi lain mengenai asal-usul bunga justru mengaitkannya dengan Prabu Aji Pamasa dan Dewi Wasowati.
Dalam kisah tersebut, Aji Pamasa memperoleh bunga Wijaya Kusuma, tetapi bunga itu kemudian jatuh ke laut. Setelah itu, bunga dipercaya tumbuh di sebuah pulau karang dekat Nusakambangan.
Perbedaan versi tersebut menunjukkan bahwa legenda Wijaya Kusuma berkembang melalui berbagai jalur cerita.
Pulau Majethi dan Nusakambangan
Dalam cerita yang populer di masyarakat Cilacap, bunga Wijaya Kusuma Nusakambangan dikaitkan dengan sebuah pulau karang yang dikenal sebagai Pulau Majethi.
Letaknya berada di kawasan selatan Jawa. Hal ini membuat cerita Wijaya Kusuma semakin dekat dengan berbagai tradisi masyarakat pesisir selatan.
Dalam versi legenda Aji Pamasa, bunga yang jatuh ke laut kemudian dipercaya tumbuh di pulau karang tersebut. Sementara dalam cerita lain, tempat tersebut menjadi lokasi keberadaan pusaka yang memiliki hubungan dengan kekuasaan raja-raja Jawa.
Kawasan Nusakambangan pun akhirnya tidak hanya dikenal sebagai wilayah dengan lanskap alam yang khas. Wilayah ini juga menjadi bagian dari narasi budaya mengenai Wijaya Kusuma dan Laut Selatan.
Dokumen Petunjuk Wisata Budaya Jawa Tengah mencatat tradisi mengenai bunga Wijaya Kusuma di Pulau Majethi. Juga tentang kepercayaan tradisional bahwa bunga tersebut memiliki tuah bagi raja-raja Jawa.
Dokumen yang sama membedakan tanaman Wijaya Kusuma yang dikaitkan dengan Pulau Majethi dari tanaman hias juga populer dengan nama Wijaya Kusuma.
Mengapa Wijaya Kusuma Dikaitkan dengan Kekuasaan Raja?
Pertanyaan ini menjadi bagian paling menarik dari kisah bunga Wijaya Kusuma. Dalam tradisi Jawa, seorang pemimpin tidak hanya dipandang sebagai orang yang memiliki kekuasaan.
Mereka juga diharapkan mempunyai watak utama, kebijaksanaan, dan kemampuan menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat.
Karena itu, Wijaya Kusuma kemudian berkembang sebagai simbol yang berkaitan dengan kualitas kepemimpinan.
Kepercayaan mengenai bunga ini bahkan masuk ke dalam narasi tentang penobatan raja. Sejumlah sumber kebudayaan menyebut calon raja dipercaya perlu mendapatkan atau memetik bunga Wijaya Kusuma yang sedang mekar sebagai bagian dari simbol kesiapan menerima kekuasaan.
Dalam konteks tersebut, bunga tidak harus dipahami secara harfiah sebagai sumber kekuatan seorang raja. Ia dapat dibaca sebagai simbol legitimasi dan harapan terhadap sosok pemimpin.
Dengan kata lain, bunga Wijaya Kusuma menjadi semacam pengingat bahwa kekuasaan dalam pandangan budaya Jawa tidak hanya berkaitan dengan kedudukan. Kekuasaan juga berkaitan dengan tanggung jawab.
Wijaya Kusuma sebagai Simbol Pergantian Kekuasaan
Hubungan bunga Wijaya Kusuma dengan raja juga terlihat dalam perkembangan budaya keraton.
Penelitian mengenai pengembangan motif batik Wijaya Kusuma yang diterbitkan dalam jurnal seni kriya ISI Surakarta mencatat bunga ini dikenal sebagai bunga khas Keraton Surakarta. Wijaya Kusuma menandai adanya pergantian kekuasaan raja.
Sementara sumber lain mengenai budaya keraton menyebut Wijaya Kusuma sebagai bagian dari simbol kemenangan dan kejayaan raja.
Dari sini terlihat bahwa Wijaya Kusuma bukan sekadar cerita tentang bunga mistis. Ia telah menjadi simbol yang masuk ke dalam berbagai bentuk kebudayaan. Sebut saja cerita pewayangan, tradisi lisan, hingga seni dan simbol keraton.
Antara Legenda, Tradisi, dan Tanaman Nyata
Menariknya, pembicaraan tentang Wijaya Kusuma juga perlu membedakan antara tanaman secara biologis dan makna simbolis yang berkembang di masyarakat.
Wijaya Kusuma dikenal sebagai Epiphyllum oxypetalum. Tanaman ini juga populer sebagai bunga malam karena bunganya mekar pada malam hari.
Sementara dokumen kebudayaan Jawa Tengah mencatat jenis tanaman yang dikaitkan dengan Pulau Majethi sebagai Pisonia sylvestris.
Karena itu, tidak semua tanaman yang sehari-hari disebut Wijaya Kusuma otomatis merujuk pada bunga pusaka dalam legenda Jawa.
Kepercayaan mengenai kemampuan bunga membawa keberuntungan atau memberikan legitimasi kepada pemimpin berada dalam ranah tradisi dan kepercayaan budaya, bukan sesuatu yang telah dibuktikan secara ilmiah.
DetikJogja juga menegaskan bahwa keyakinan mengenai keberuntungan yang dibawa bunga tersebut tidak dapat dijelaskan secara ilmiah.
Legenda Wijaya Kusuma dan raja-raja Jawa tetap menarik untuk dibaca bukan hanya sebagai cerita mistis, tetapi sebagai bagian dari cara masyarakat Jawa memaknai kepemimpinan dan warisan budaya dari masa ke masa.
Sumber: Wahyuningrum, Sulistyati. (2025). Perancangan Scarf dengan Pewarna Lidah Buaya dan Perintang Warna Gutta Tamarind Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya. Vol. 22 No. 2.
