Jatengkita.id – Perang Baratayuda tidak hanya menjadi kisah tentang peperangan antara Pandawa dan Kurawa.
Di balik pertempuran besar tersebut terdapat tokoh-tokoh yang menghadapi pilihan sulit antara kewajiban, kesetiaan, dan prinsip yang mereka pegang. Salah satunya adalah Resi Bhisma, tokoh sepuh yang berdiri di pihak Kurawa sebagai panglima perang.
Bhisma merupakan sosok yang memiliki kedudukan penting dalam keluarga besar Kuru. Ia dikenal sebagai seorang kesatria yang teguh memegang sumpah dan memiliki kemampuan perang yang luar biasa.
Dalam Perang Baratayuda, Bhisma dipercaya menjadi panglima utama pasukan Kurawa pada hari-hari pertama pertempuran.
Kedudukannya sebagai panglima membuat Bhisma berada di posisi yang rumit. Di satu sisi, ia memiliki hubungan yang kuat dengan keluarga Kuru dan terikat oleh kewajiban untuk membela kerajaan.
Di sisi lain, ia mengetahui bahwa Pandawa dan Kurawa masih memiliki hubungan sebagai keluarga.
Baca juga: Tokoh Wayang Bawor dan Nilai-Nilai Masyarakat Banyumas
Karena itu, perang yang dihadapinya bukan sekadar pertarungan antara dua pasukan. Bhisma harus berhadapan dengan orang-orang yang memiliki hubungan darah dengannya.
Kesetiaan pada Hastina dan Pandawa
Dalam kisah pewayangan, Bhisma dikenal sebagai tokoh yang memegang teguh sumpahnya. Sumpah tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya dan membuatnya mengabdikan diri kepada kerajaan Hastina.
Ketika konflik antara Pandawa dan Kurawa berkembang menjadi perang besar, Bhisma berada di pihak Hastina. Ia kemudian dipercaya memimpin pasukan Kurawa sebagai panglima.
Namun, keberpihakan Bhisma kepada Kurawa tidak serta-merta membuatnya membenci Pandawa. Ia tetap memiliki kasih sayang kepada para Pandawa yang sejak kecil berada dalam lingkungan keluarga Kuru.
Posisi inilah yang membuat Bhisma menjadi salah satu tokoh paling menarik dalam kisah Baratayuda. Ia menjalankan kewajibannya sebagai kesatria dan panglima. Tetapi pada saat yang sama tidak kehilangan rasa kasih terhadap keluarganya.
Dalam sejumlah versi pewayangan, Bhisma bahkan disebut tidak sepenuhnya mengerahkan kekuatannya untuk membunuh Pandawa. Ia tetap menjalankan perang sebagai kewajibannya, tetapi terdapat batas yang tidak ingin dilampauinya.
Konflik batin tersebut memperlihatkan bahwa Baratayuda tidak selalu menghadirkan tokoh yang sepenuhnya baik atau jahat. Para tokohnya juga menghadapi dilema ketika kewajiban dan hubungan keluarga berada di dua sisi yang berbeda.
Bhisma Mundur dari Medan Perang
Sebagai panglima Kurawa, Bhisma memimpin pertempuran selama beberapa hari. Kemampuannya sebagai kesatria membuat pasukan Pandawa mengalami kesulitan untuk menghentikannya.
Namun, posisi Bhisma sebagai panglima akhirnya berubah setelah Pandawa menemukan cara untuk menghadapi dirinya. Dalam kisah Baratayuda, Shikhandi menjadi sosok yang memiliki kaitan penting dengan jatuhnya Bhisma.
Bhisma mengetahui latar belakang Shikhandi dan tidak bersedia mengangkat senjata untuk melawannya. Dalam kesempatan tersebut, Arjuna kemudian melepaskan banyak anak panah ke arah Bhisma.
Tubuh Bhisma akhirnya dipenuhi anak panah hingga ia tidak lagi mampu melanjutkan pertempuran. Ia kemudian jatuh dari kereta perang, tetapi tubuhnya tidak langsung menyentuh tanah karena tertahan oleh anak-anak panah yang menancap di tubuhnya.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu adegan paling terkenal dalam kisah Baratayuda. Bhisma tidak benar-benar tewas pada saat itu. Ia memilih menunggu waktu kematiannya sendiri karena memiliki anugerah untuk menentukan kapan ajal datang.
Dengan jatuhnya Bhisma, berakhir pula tugasnya sebagai panglima Kurawa. Ia tidak lagi memimpin pasukan di medan perang. Tetapi kisahnya masih berlanjut setelah dirinya meninggalkan pertempuran.
Dari Panglima Menjadi Saksi Akhir Baratyuda
Setelah jatuh dari medan perang, Bhisma berbaring di atas ranjang anak panah. Dari tempat tersebut, ia menyaksikan kelanjutan perang yang semakin banyak memakan korban.
Kedudukannya kemudian berubah. Jika sebelumnya ia berada di tengah pertempuran sebagai panglima, kini ia menjadi seorang sesepuh yang menyaksikan kehancuran keluarga Kuru.
Bhisma juga memberikan berbagai nasihat kepada Yudhistira setelah perang berakhir. Dalam kisah Mahabharata, bagian tersebut dikenal sebagai rangkaian ajaran Bhisma mengenai kepemimpinan, kewajiban seorang raja, keadilan, dan kehidupan.
Kisah Bhisma menunjukkan sisi lain dari Perang Baratayuda. Seorang panglima tidak selalu berakhir dengan kemenangan atau kematian di tengah pertempuran.
Bhisma justru mengakhiri perannya sebagai panglima setelah jatuh di medan perang, kemudian menjadi saksi dari kehancuran dunia yang selama hidupnya ia lindungi.
Karena itu, sosok Bhisma tidak hanya dikenang sebagai kesatria tangguh. Ia juga menjadi gambaran tentang seseorang yang harus menjalankan sumpah dan kewajiban di tengah konflik keluarga.
Dari panglima yang berdiri di garis depan, Bhisma akhirnya mundur dari perang dan menghabiskan sisa hidupnya dengan memberikan wejangan kepada generasi yang datang setelahnya.
Kisahnya menjadi salah satu bagian penting dalam Baratayuda. Ia juga mengingatkan bahwa di balik sebuah peperangan selalu terdapat manusia dengan pilihan, ikatan, dan konsekuensi yang tidak sederhana.
