Sejarah Teh Tubruk, Berawal dari Kisah Tragis Zaman Penjajahan

Sejarah Teh Tubruk, Berawal dari Kisah Tragis Zaman Penjajahan
(Gambar: Pinterest)

Jatengkita.id – Siapa penikmat teh tubruk? Tahukah kalian di balik harum dan nikmatnya teh tubruk, ada sejarah yang sangat mengharukan. Minuman ini merupakan bukti tragisnya zaman penjajahan,

Sebelum teh celup dikenal luas, teh tubruk sudah banyak digemari oleh masyarakat. Teh ini merupakan potongan daun teh kasar (tak sehalus teh di dalam kantong teh celup) dan harus diseduh dengan air panas.

Daun-daun teh yang tadinya menggulung, perlahan akan terbuka dan membuat air panas perlahan berubah warna menjadi kecoklatan.

Sejarah Teh Tubruk

Pada abad ke 19, zaman kolonial belanda masih menjajah Indonesia, sejarah masuk dan berkembangnya teh di Indonesia tak lepas dari pengaruh kolonial. Kaum penjajah saat itu terbiasa meminum teh. Kebiasaan ini kemudian mulai ditiru oleh bangsawan pribumi.

Baca juga: Pesona Kebun Teh Bedakah Wonosobo di Tengah 6 Gunung Menawan

Menurut catatan sejarah saat penanaman paksa, kasta kuliner memilih pucuk daun teh termuda dan terbaik.

Pribumi hanya boleh mengambil sisa daun yang keras, ranting, dan batang teh. Batang teh dan daun yang keras ini rasanya sepat dan bau langu. 

Agar bisa minum teh dengan nikmat, pribumi membuat taktik untuk membuat teh, yaitu  dengan cara mencampurkan bunga melati utuh untuk mengurangi aroma kasar dari batang tersebut.

Cara itulah yang menghasilkan teh Nusantara, yakni teh tubruk, teh khas indonesia yang memiliki ciri khas yang unik. 

(Gambar: Pinterest)

Dari sejarah ini pula, muncul filosofi WASGITEL (wangi, sepet, legi, kentel). Uniknya, teh Indonesia berasal dari daun tua & batang, maka lebih menyerap aroma melati (dibanding pucuk teh).

Batang teh punya asam amino lebih tinggi dan kafein yang lebih rendah. Daun teh tua juga lebih rendah oxalic acidnya dibanding pucuk (zat yang bisa menyebabkan batu ginjal).

Penyajian Teh

Teh tubruk disajikan dengan cara mencampur teh dengan air panas langsung dalam gelas atau teko, kemudian diaduk, tanpa disaring.

Kadang teh juga dicampur dengan gula batu sehingga rasanya lebih manis. Karena ketiga bahan ini bercampur atau ditubruk jadi satu dalam wadah, maka dinamakan teh tubruk.

Baca juga: “Teh Hijau” Tulus dan Tradisi Ngeteh di Tegal, Filosofi yang Ternyata Sejalan

Dikutip dari laman cnnindonesia.com Ketua Dewan Teh Indonesia Rachmad Gunadi mengatakan, penyajian teh tubruk disinyalir berkembang di masa Keresidenan Banyumas saat zaman kolonial Hindia-Belanda.

Beberapa daerah yang mungkin jadi cikal bakal cara penyajian teh ini adalah Purwokerto, Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara.

Dari sampah ampas bekas teh para penjajah, leluhur kita membalikkan keadaan menjadi teh yang memiliki rasa yang berkarakter. 

Join saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi menarik seputar Jawa Tengah

Exit mobile version