Jatengkita.id – Tahukah kamu fauna khas Jawa Tengah itu apa? Ternyata Kepodang Kuduk Hitam adalah fauna khas Jawa Tengan yang ikonik dan jadi simbol dari provinsi ini, loh!
Dikenal dengan nama ilmiah Oriolus chinensis, burung khas Jawa Tengah ini masuk dalam spesies pengicau dan famili Oriolidae yang cantik. Hewan ini ada dan tersebar di berbagi wilayah di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Hal ini membuat Kepodang Kuduk Hitam jadi spesies burung dengan penampilan yang mencolok. Memiliki nama lain Kepodang Kapas, burung ini ternyata biasa hidup di berbagai habitat.
Mulai dari habitat hutan terbuka, hutan sekunder, hutan mangrove, perkebunan, pedesaan, dan tersebar hingga ketinggain 1.600 mdpl. Kepodang Kuduk Hitam bisa hidup dan berkembang biak.
Dalam kebudayaan Jawa, burung ini basa digunakan untuk tradisi mitoni atau memeringati kehamilan yang memasuki bulan ketujuh. Tak hanya biasa dijumpai di daerah Jawa Tengah saja, burung satu ini juga punya beragam sbeutan dari beragam daerah tempat biasa dia ditemui.
Mulai dari burung Bincarung sebutan dari daerah Sunda, Gantialuh sebutan oleh sejumlah orang dari Sumatera, dan Gulalahe sebutan dari masyarakat Sulawesi.
Burung ini juga punya ciri khusus yang membedakan antara jantan dan betina. Untuk jantan, biasa ditandai degan bagian tubuh atas dominan berwarna kuning keemasan dengan garis hitam lebar dari dada hingga tengkuk.
Paruh tebal dengan warna oranye-merah muda dan sayap hitam-kuning juga jadi tanda lainnya. Sementara itu, tanda khusus yang bisa diamati untuk membedakan Kepodang Kuduk Hitam betina adalah bagian tubuh atasnya yang dominan berwarna kuning zaitun.
Tanda lainnya untuk membedakan Kepodang remaja adalah warna bulu yang lebih kusam dengan bagian samping kepala berwarna kuning dan garis mata samar. Bagian bawahnya berwarna krem atau putih kekuningan dengan garis tipis kehitaman dengan bagian samping berwarna kuning.

Warna sayapnya sebagian besar hijau kekuningan dengan warna paruh kehitaman. Burung ini dikenal sebagai burung dengan siulan yang merdu serupa seruling. Kepodang Kuduk Hitam jantan akan bernyanyi dengan serangkaian nada siulan yang kaya dan mirip seruling.
Siulan itu biasa didengar di masa musim kawin dan jadi bentuk upaya mempertahankan teritorialnya serta upaya untuk memikat lawan jenisnya.
Makanan burung penyiul satu ini umumnya adalah serangga, buah-buahan, dan nektar. Mereka aktif mencari makan di puncak pohon dengan mangsa ulat, kumbang, hingga belalang.
Baca juga : Biodiversitas Hutan Lindung Gunung Slamet
Persebarannya yang luas membuat burung satu ini masuk dalam daftar risiko rendah, yang berarti tren populasinya stabil. Dengan perkiraan musim kawin Kepodang Kuduk Hitam dibulan April dan Juli, burung satu ini hanya akan kawin dengan satu pasangan saja seumur hidupnya.
Sang betina akan membangun sarang berbentuk cangkir dari rumput, ranting, dan bahan tanaman lain. Sarang mereka biasa ada di cabang luar pohon. Betina Kepodang Kuduk Hitam biasa akan menghasilkan 2-4 butir telur dan akan diinkubasi oleh Kepodang Kuduk Hitam betina selama dua minggu.
Baik burung jantang maupun betina, akan bekerjasama memberi makan anak-anak mereka hingga mereka menjadi dewasa. Wah, ternyata fauna khas Jawa Tengah ini punya identitas yang kuat dan unik, ya.
Selain tergolong sebagai burung pengicau yang jumlahnya tak mengkhawatirkan, kamu juga harus menjaga kekayaan fauna khas Jawa Tengah ini dengan menjaga ekosistemnya. Jangan sampai generasi berikutnya hanya tahu perwujudan burung Kepodang Kuduk Hitam dari foto saja!
Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!
