Desa Sembungan, Desa Wisata Berjuluk Negeri di Atas Awan

Desa Sembungan, Desa Wisata Berjuluk Negeri di Atas Awan
(Gambar: travel.kompas.com)

Jatengkita.id – Tidak banyak desa di Indonesia yang setiap paginya seolah terbangun di antara awan. Saat fajar menyingsing, hamparan kabut putih perlahan menyelimuti rumah-rumah penduduk, ladang kentang, dan jalan-jalan desa.

Udara begitu dingin hingga hembusan napas berubah menjadi uap tipis. Bagi warga setempat, pemandangan itu adalah hal biasa. Namun bagi wisatawan, suasana tersebut menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.

Itulah Desa Sembungan, sebuah desa yang berada di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Desa ini menyandang predikat sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa, dengan ketinggian sekitar 2.300 mdpl.

Letaknya yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng menjadikan Sembungan memiliki panorama alam yang memukau sekaligus iklim pegunungan yang khas.

Dengan suhu rata-rata 10–17 derajat celsius, Desa Sembungan menawarkan kesejukan yang jarang ditemukan di daerah lain di Pulau Jawa. Saat musim kemarau, suhu pada malam hari bahkan dapat turun hingga mendekati nol derajat celsius.

Kabut tebal yang hampir selalu menyelimuti desa pada pagi dan sore hari menjadi ciri khas yang membuat Sembungan dijuluki sebagai “negeri di atas awan.”

Gerbang Menuju Keindahan Dieng

Desa Sembungan bukan sekadar tempat singgah menuju kawasan wisata Dieng. Desa ini justru menjadi salah satu destinasi favorit karena menawarkan pengalaman menikmati kehidupan masyarakat pegunungan yang masih alami.

Dari desa ini, wisatawan dapat mengunjungi berbagai destinasi terkenal. Salah satunya Bukit Sikunir, lokasi yang dijuluki sebagai salah satu tempat terbaik untuk menikmati matahari terbit di Indonesia.

Jalur pendakian menuju Bukit Sikunir relatif ramah bagi pemula dan hanya memerlukan waktu sekitar 30 hingga 45 menit.

Ketika cuaca cerah, pengunjung dapat menyaksikan matahari terbit dengan latar deretan gunung seperti Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, Lawu, hingga Slamet. Momen inilah yang membuat banyak wisatawan rela memulai perjalanan sejak pukul tiga dini hari.

Selain Bukit Sikunir, Desa Sembungan juga menjadi pintu masuk menuju Telaga Cebong, danau alami yang berada tepat di kaki bukit.

Permukaan air yang tenang dengan latar pegunungan menjadikan kawasan ini salah satu lokasi favorit untuk berfoto, berkemah, maupun menikmati suasana pagi yang tenang. 

Bukit Sikunir (Gambar: bob.kemenpar.go.id)

Aktivitas Bagi Wisatawan

Berkunjung ke Desa Sembungan tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga beragam pengalaman wisata. Selain untuk menyaksikan matahari terbit, pengunjung dapat berjalan menyusuri hamparan ladang kentang dan sayuran.

Selain itu, menikmati keindahan Telaga Cebong, hingga mengabadikan lanskap pegunungan yang hampir selalu diselimuti kabut.

Bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana lebih lama, tersedia area berkemah di sekitar Telaga Cebong. Menginap di kawasan ini memberikan pengalaman berbeda.

Pengunjung dapat menikmati langit malam yang dipenuhi bintang sebelum menyaksikan matahari terbit keesokan harinya. 

Fasilitas Wisata

Seiring meningkatnya jumlah wisatawan, Desa Sembungan terus mengembangkan berbagai fasilitas penunjang. Pengunjung kini dapat menemukan berbagai pilihan homestay yang dikelola langsung oleh warga.

Penginapan tersebut menawarkan suasana khas pedesaan dengan pemandangan pegunungan yang dapat dinikmati langsung dari halaman rumah.

Selain homestay, tersedia pula warung makan yang menyajikan kuliner khas Dieng. Ada area parkir yang memadai, musala, toilet umum, dan pusat informasi wisata.

Tak terlewat, banyak kios yang menjual hasil pertanian dan oleh-oleh khas seperti carica, keripik kentang, hingga berbagai olahan sayuran.

Bagi wisatawan yang ingin mendaki Bukit Sikunir, masyarakat setempat juga menyediakan jasa pemandu dan penyewaan perlengkapan berkemah. Selain itu, ada juga layanan transportasi lokal menuju beberapa titik wisata di kawasan Dieng.

Keberadaan fasilitas tersebut menjadikan Desa Sembungan semakin nyaman dikunjungi. Aman untuk wisatawan keluarga maupun pendaki pemula yang ingin menikmati pesona alam tanpa harus melakukan perjalanan ekstrim. 

Di balik berkembangnya sektor pariwisata, masyarakat Desa Sembungan tetap mempertahankan identitasnya sebagai desa pertanian.

Hamparan ladang kentang, kubis, wortel, daun bawang, hingga tanaman carica masih menjadi pemandangan utama yang menghiasi desa.

Warga menyadari bahwa keindahan alam merupakan aset terbesar yang dimiliki. Oleh karena itu, pengembangan wisata dilakukan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Kawasan hutan, sumber mata air, dan area pertanian dijaga agar tetap menjadi penyangga ekosistem Dataran Tinggi Dieng.

Di Desa Sembungan, wisata bukan hanya tentang menikmati pemandangan, melainkan juga tentang merasakan kehidupan yang berjalan selaras dengan alam.

Di tengah udara sejuk dan kabut yang hampir tak pernah absen, desa wisata ini membuktikan bahwa pesona sebuah tempat bukan hanya terletak pada keindahannya, tetapi juga pada pengalaman yang ditinggalkan bagi setiap orang yang datang berkunjung.

Exit mobile version