Jatengkita.id – Lahir di Kota Semarang, Jawa Tengah, Tri Mumpuni menjadi salah satu sosok inspiratif Indonesia yang membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi jalan untuk mengubah kehidupan masyarakat.
Selama lebih dari tiga dekade, ilmuwan perempuan ini mendedikasikan dirinya untuk menghadirkan energi bersih bagi desa-desa terpencil yang belum menikmati akses listrik.
Berkat komitmennya tersebut, Tri Mumpuni berhasil meraih Ramon Magsaysay Award, penghargaan bergengsi yang dijuluki sebagai Nobel Asia.
Nama Tri Mumpuni kembali menjadi sorotan setelah dipercaya menjadi panelis dalam program Genera-Z Berbakti 2026. Kehadirannya dalam program tersebut dinilai sejalan dengan rekam jejaknya.
Selama puluhan tahun, ia membuktikan bahwa inovasi tidak hanya lahir di laboratorium, tetapi juga tumbuh bersama masyarakat.
Perjalanan Tri Mumpuni menjadi inspirasi karena menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari kepedulian terhadap persoalan sederhana yang dihadapi masyarakat, terutama mereka yang tinggal di wilayah terpencil.
Berawal dari Semarang, Lahir Sosok Inovator Energi Indonesia
Tri Mumpuni lahir dan tumbuh di Semarang. Kota ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan dan perkembangan ekonomi di Jawa Tengah. Dari kota inilah semangatnya untuk mengabdi kepada masyarakat mulai terbentuk.
Sejak muda, Tri memiliki ketertarikan terhadap persoalan pembangunan, khususnya yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Ketertarikan tersebut kemudian membawanya menempuh pendidikan di bidang pertanian.
Namun, seiring waktu ia menyadari bahwa salah satu tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat desa bukan hanya soal hasil pertanian, melainkan keterbatasan akses terhadap energi.
Baginya, listrik bukan sekadar fasilitas penunjang kehidupan modern. Energi merupakan fondasi penting yang mampu membuka akses pendidikan, meningkatkan layanan kesehatan, mengembangkan usaha kecil, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Pandangan inilah yang kemudian menjadi landasan seluruh perjalanan kariernya.
Menghadirkan Energi Bersih Melalui IBEKA
Untuk mewujudkan gagasannya, Tri Mumpuni bersama suaminya, R. Sangkoyo, mendirikan Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA).
Organisasi nirlaba tersebut berfokus pada pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan desa secara berkelanjutan.
Melalui IBEKA, Tri mengembangkan berbagai proyek pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber energi ramah lingkungan.
Berbeda dengan proyek pembangunan pada umumnya, pendekatan yang dilakukan tidak hanya membangun pembangkit listrik. Ia juga melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pengelolaan.
Menurut Tri, masyarakat harus menjadi pemilik sekaligus pengelola sumber energi mereka sendiri. Tujuannya, agar manfaat pembangunan dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa program-program yang dikembangkannya mampu bertahan dan terus berkembang hingga saat ini.
Menerangi Lebih dari 80 Desa di Indonesia
Selama lebih dari 30 tahun mengabdikan diri di bidang energi terbarukan, Tri Mumpuni telah mendampingi lebih dari 80 desa terpencil di berbagai wilayah Indonesia.
Desa-desa yang sebelumnya hidup tanpa listrik kini mampu menikmati penerangan, mengoperasikan fasilitas pendidikan, hingga mengembangkan berbagai kegiatan ekonomi produktif.
Kehadiran listrik juga membawa perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat. Anak-anak dapat belajar pada malam hari dengan pencahayaan yang memadai. Layanan kesehatan menjadi lebih optimal.
Sementara pelaku usaha lokal memperoleh kesempatan memperluas usahanya berkat tersedianya pasokan energi yang stabil.
Tri percaya bahwa pembangunan energi tidak boleh berhenti pada penyediaan infrastruktur semata. Yang lebih penting adalah bagaimana energi tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.
Karena itu, setiap program yang dijalankan selalu disertai pelatihan, pendampingan, dan penguatan kapasitas masyarakat agar mampu mengelola pembangkit listrik secara mandiri tanpa bergantung pada pihak luar.
Filosofi Energi yang Mengubah Kehidupan
Berbeda dengan banyak proyek pembangunan yang hanya berorientasi pada hasil fisik, Tri Mumpuni memiliki filosofi bahwa energi adalah alat pemberdayaan masyarakat.
Baginya, listrik bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk menciptakan kesempatan baru.
Dengan adanya listrik, masyarakat dapat mengembangkan usaha rumahan dan mengolah hasil pertanian menggunakan peralatan modern. Selain itu juga meningkatkan produktivitas ekonomi dan memperluas akses terhadap informasi dan pendidikan.
Pendekatan inilah yang membuat berbagai program yang dikembangkan Tri tidak hanya menghasilkan pembangkit listrik, tetapi juga menciptakan desa-desa yang lebih mandiri secara ekonomi.
Konsep tersebut kemudian menjadi salah satu contoh pembangunan berkelanjutan yang banyak dipelajari oleh berbagai lembaga internasional.
Pengakuan Dunia Lewat Ramon Magsaysay Award
Dedikasi panjang Tri Mumpuni akhirnya mendapat pengakuan internasional. Ia menerima Ramon Magsaysay Award, penghargaan bergengsi yang dikenal sebagai Nobel Asia.
Penghargaan tersebut diberikan kepada individu yang dinilai mampu memberikan kontribusi luar biasa bagi masyarakat melalui kepemimpinan, inovasi, dan pelayanan publik.
Bagi Indonesia, penghargaan ini menjadi bukti bahwa inovasi karya anak bangsa mampu memberikan dampak nyata hingga diakui dunia internasional.
Tak hanya itu, nama Tri Mumpuni juga pernah masuk dalam daftar ilmuwan Muslim paling berpengaruh di dunia. Ia telah berkontribusi di bidang energi terbarukan dan pembangunan masyarakat berbasis komunitas.
Prestasi tersebut semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu tokoh perempuan Indonesia yang memiliki pengaruh besar dalam pengembangan energi berkelanjutan.
Kiprah di BRIN dan Genera-Z Berbakti 2026
Selain aktif mendampingi masyarakat desa, Tri Mumpuni juga dipercaya mengemban berbagai peran strategis di tingkat nasional.
Ia pernah menjadi anggota Dewan Pengawas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hal ini menunjukkan kepercayaan pemerintah terhadap pengalaman dan kompetensinya di bidang riset serta inovasi.
Belum lama ini, Tri kembali menjadi perhatian publik setelah dipercaya menjadi salah satu panelis Genera-Z Berbakti 2026.
Program tersebut mengajak mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk menciptakan inovasi yang mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan desa.
Kehadiran Tri sebagai panelis bukan tanpa alasan. Pengalaman panjangnya membangun desa melalui energi bersih dinilai menjadi inspirasi bagi generasi muda agar mampu menghadirkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Lebih dari sekadar ilmuwan, Tri adalah inovator sosial yang mengajarkan bahwa pembangunan harus berpihak kepada manusia.
Baginya, keberhasilan sebuah inovasi tidak diukur dari kecanggihan teknologi yang digunakan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.
Di tengah tantangan pembangunan berkelanjutan dan kebutuhan energi bersih yang terus meningkat, kisah Tri Mumpuni menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki banyak putra-putri bangsa yang mampu membawa solusi lokal menuju panggung global.
