Mengenal 3 Tokoh Wali Songo yang Berdakwah di Jawa Tengah

Mengenal 3 Tokoh Wali Songo yang Berdakwah di Jawa Tengah
(Ilustrasi : tvberita.co.id)

Jatengkita.id – Pada abad ke-14, dikenal sembilan penyebar agama Islam yang populer dengan sebutan Wali Songo. Mereka adalah tokoh penting yang menjadi simbol penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Sesuai namanya, “wali” berarti wali dan “songo” berasal dari Bahasa Jawa yang artinya sembilan.

Wali Songo dikenal dengan dakwah yang damai, toleran, dan adaptif dengan budaya lokal. Metode dakwah dan strategi yang digunakan pun bervariasi, bergantung wilayah dan kondisi masyarakatnya. Di tanah Jawa khususnya Jawa Tengah, ada sejumlah daerah yang menjadi sasaran dakwah dari Wali Songo.

Berikut ini ulasan singkatnya.

  1. Sunan Kalijaga – Demak
(Gambar : Pinterest)

Sunan Kalijaga yang lahir dengan nama Raden Abdurrahman, dikenal karena dakwahnya yang unik dan inovatif. Sebelumnya, Sunan Kalijaga sering dipanggil Syeh Malaya atau Raden Said. Ayahnya bernama Raden Sahur Tumenggung Wilwatikta yang menjadi Bupati Tuban.

Sedangkan ibunya bernama Nawang Rum. Disebutkan bahwa gelar Kalijaga berasal dari bahasa Arab, yakni “Qadhi Zaka” yang bermakna pemimpin yang senantiasa menegakkan kebenaran dan kesucian ajaran Islam. Orang Jawa melafalkan Qadhi Zaka menjadi Kalijaga.

Kesenian dan kebudayaan dipilih  sebagai sarana untuk berdakwah. Pendekatan dilakukan kepada seniman, budayawan, dan filsuf untuk bisa masuk ke dalam lingkup masyarakat. Dalam dakwahnya, Sunan Kalijaga memadukan antara tradisi Jawa dan ajaran Islam.

Pendekatan tersebut secara bertahap melalui seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai medianya. Di antara dakwah yang dilakukan adalah dengan menceritakan kisah-kisah tentang ajaran agama Islam melalui pewayangan.

Kisah-kisah dalam perwayangan dimodifikasi dengan memasukkan nilai dan ajaran Islam. Cara inipun sukses diterima oleh kalangan masyarakat. Sunan Kalijaga juga menciptakan tembang Jawa yang terkenal, di antaranya adalah “lir-Ilir”, “Dandanggula”, dan “Gundul-Gundul Pacul”.

Bukan hanya itu, Sunan Kalijaga juga menciptakan bedug untuk sarana memanggil umat muslim dalam menjalankan ibadah salat. Sunan Kalijaga juga yang memprakarsai acara Grebeg Maulid di Demak dalam menyambut kelahiran Rasulullah.

Di sisi lain, Sunan Kalijaga merupakan seorang ahli dalam bidang arsitektur, politik, dan juga militer. Semasa hidupnya, ia ikut merancang pembangunan Masjid Agung Demak dan menata tata ruang Kota Demak.

Sunan Kalijaga wafat pada tahun 1586 M dan dimakamkan di Desa Kadilangu, Kabupaten Demak. Banyak peninggalan kesenian, di antaranya Wayang Purwa, Babat Alas Wonomarto,  Wahyu Tohjali, Jamus Kalisada, dan keris Kyai Carubuk.

  1. Sunan Kudus -Kudus
(Gambar : Pinterest)

Sunan Kudus lahir sekitar tahun 1400 Masehi dengan nama Ja’far Shadiq. Metode dakwahnya dikenal unik dan damai. Salah satu Wali Songo ini adalah putra dari Sunan Ngudung dan Syarifah Ruhul yang menjabat sebagai panglima perang di Kerajaan Demak.

Sunan Kudus berhasil mengalahkan Kerajaan Majapahit, sehingga Kerajaan Demak bisa memperluas wilayahnya ke arah timur hingga Madura dan ke arah barat hingga Cirebon.

Sunan Kudus terkenal pintar dalam ilmu fikih, usul fikih, tauhid, hadits, serta tafsir. Di antara para tokoh wali songo, Sunan Kudus mendapat julukan waliyyul ‘ilmi yang berarti orang yang kuat ilmunya.

Dalam menyebarkan Islam, Sunan Kudus melakukan pendekatan damai dan akulturasi budaya, misalnya dengan memasukkan unsur-unsur Hindu-Buddha dalam arsitektur Masjid Menara Kudus.

Baca juga : Jejak Sejarah Sunan Kudus pada Islamisme di Kota Santri

Sunan Kudus menggunakan sapi sebagai sarana dakwah, mengikatnya di halaman masjid untuk menarik perhatian masyarakat penganut Hindu. Ia kemudian menerangkan makna Surat Al-Baqarah (Sapi Betina) kepada mereka, menunjukkan bahwa Islam juga menghormati sapi.

Berbagai cerita agama dimasukkan, termasuk gending yang terkenal, yaitu Maskumambang dan Mijil. Dua tembang ini mengandung ajaran Islam yang mudah dipahami masyarakat.

Karena kecintaannya akan seni dan sikapnya yang sangat toleran terhadap agama lain, tidak heran jika peninggalan Sunan Kudus termasuk unik dan patut dilestarikan sebagai cagar budaya.

Sebut saja, Masjid Menara Kudus, Keris Kyai Cinthaka sebagai simbol kebijaksanaan dan kekuasaan, Mitoni, dan Makam Sunan Kudus yang masih berada di satu area dengan Masjid Menara Kudus.

  1. Sunan Muria – Gunung Muria
Wali Songo
(Gambar : Pinterest)

Sunan Muria merupakan tokoh Wali Songo yang berdakwah di daerah Gunung Muria. Tempat tersebut adalah sebuah gunung bertipe stratovolcano yang terletak di pantai utara Jawa Tengah yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Jepara, Pati, dan Kudus.

Nama asli Sunan Muria adalah Raden Umar Sa’id dan nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Lahir pada tahun 1450, Sunan Muria yang merupakan anak dari Sunan Kalijaga dianggap sebagai sunan termuda di antara para Wali Songo lainnya.

Ciri khas Sunan Muria dalam menyebarkan agama Islam adalah menjadikan desa-desa di pelosok sebagai lokasi dakwahnya.

Metode yang dilakukan lebih menekankan pendekatan secara langsung kepada masyarakat dan selalu mengedepankan metode dakwah bil hikmah, yaitu dengan cara-cara bijaksana dan tidak memaksa.

Sunan Muria lebih memusatkan pada rakyat jelata dan bukan kaum bangsawan dan lebih suka bergaul dengan rakyat biasa. Metode dakwahnya  sering disebut dengan “Topo Ngeli” yang berarti menghanyutkan diri di dalam masyarakat.

Sunan Muria menggunakan metode kursus bagi kaum pedagang, nelayan, dan rakyat biasa dalam mengajarkan ajaran islam. Seni gamelan dan wayang sebagai sarana dakwah menjadi salah satu yang dilestarikan.

Lakon pewayangan diubah karakternya dengan membawa pesan-pesan Islam, seperti kisah Dewa Ruci, Petruk dadi Ratu, Jimat Kalimasada, Mustakaweni, Semar Ambarang Jantur, dan lain sebagainya.

Beberapa lagu dan tembang juga diciptakan untuk mempraktikkan ajaran Islam. Beberapa tembang yang terkenal adalah tembang Sinom dan Kinanti. Melalui tembang, masyarakat akan dengan mudah menerimanya serta mampu mengingat ajaran Islam yang terkandung di dalamnya.

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *