Jatengkita.id – Keindahan ekosistem mangrove kini bisa dinikmati di Desa Pasar Banggi, Kabupaten Rembang. Wisata Hutan Mangrove Pasar Banggi ini telah diresmikan dan dikelola masyarakat setempat yang tergabung dalam Kelompok Tani Tambak Sidodadi Maju sejak tahun 2013.
Ekowisata Mangrove Park Desa Pasar Banggi merupakan kawasan hutan mangrove yang telah dikembangkan dengan pemanfaatan sumber daya alam sebagai pariwisata. Pemanfaatan ini tidak sekadar mencari keuntungan, tetapi juga mengedepankan prinsip keberlanjutan dan kelestarian alam.
Kawasan ini juga lebih dikenal dengan mangrove jembatan merah dan menjadi daya tarik serta wisata unggulan. Letaknya yang berada di bibir pantai pantura memudahkan jangkauan karena tempatnya masih terbilang dekat dengan alun-alun.
Desa yang memiliki keindahan alam serta potensi yang besar ini menjadi tempat keberagaman hayati dan hasil bumi yang melimpah. Tanahnya yang berlumpur dan kawasan pesisir pantai membuat kawasan ini kaya akan hasil laut.
Sejak didirikan, kawasan ini menjadi garis pelindung pantai dari abrasi dan habitat dari berbagai biota laut. Selanjutnya, kawasan ini terkenal dengan sebutan Ekowisata Hutan Mangrove Jembatan Merah Rembang (EHMJMR).
Ekosistem mangrove di kawasan ini tumbuh dengan baik. Hal ini menggerakkan pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk membangun kawasan wisata hutan mangrove.
Baca juga : Ancaman Ketahanan Ekosistem Mangrove Pantura

Ekowisata Hutan Mangrove Pasar Banggi
Kawasan mangrove di sini punya lanskap yang indah. Rimbunnya mangrove seluas 30 hektare masih terjaga dan tumbuh menghijau dengan sehat, sehingga memberikan nuansa relaksasi yang alami.
Melewati jembatan merah yang panjang, wisatawan akan menemukan beberapa gazebo yang sudah disediakan untuk beristirahat. Pembangunan beberapa gazebo dan papan teduh di sepanjang jalan dimaksudkan agar wisatawan bisa berteduh dan merasa nyaman saat berjalan-jalan.
Wisatawan bisa menikmati biota laut dan keragaman fauna melalui wisata perahu. Selain berkeliling, pengunjung juga bisa berpartisipasi menanam mangrove.
Pengelola juga menyediakan tempat sampah di area sekitar agar wisatawan diharapkan tetap bisa menjaga kebersihan alam. Fasilitas penunjang lain yang juga disediakan diantaranya adalah toilet, musala, dan area parkir.
Selain itu, banyaknya sumber daya yang tersedia di wilayah pesisir pantai ikut mendorong terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian. Kekayaan alam di daerah pesisir ini bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat.
Ekowisata Hutan Mangrove Pasar Banggi ini sangat mudah dijangkau wisatawan, baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Wisatawan hanya butuh waktu sekitar 10 menit dari Alun-Alun Kota Rembang untuk sampai di tujuan dengan jarak tempuh 5 kilometer saja.
Destinasi ini buka mulai jam 6 pagi hingga jam 5 sore. Untuk biaya parkir hanya dibutuhkan Rp5.000,00 bagi pengguna roda dua dan Rp10.000,00 untuk pengguna roda 4. Uniknya, tiket masuk di tempat ini di bandrol seikhlasnya saja.
Tantangan Konservasi Mangrove
Beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam pengelolaan mangrove ini di antaranya adalah ancaman reklamasi pantai, perluasan tambak untuk kepentingan bisnis, penebangan pohon mangrove, dan pencemaran sampah.
Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!






