Jatengkita.id – Garam umumnya identik dengan wilayah pesisir dan air laut. Namun berbeda dengan yang ada di Grobogan, tepatnya di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo. Di wilayah ini, garam justru dihasilkan dari air sumur tua yang berada di tengah ladang, jauh dari garis pantai.
Fenomena langka ini melahirkan Garam Jono, produk tradisional yang tidak hanya unik secara proses, tetapi juga menyimpan nilai sejarah panjang sejak zaman kolonial Belanda.
Asal-Usul Garam Jono dari Sumur Air Asin
Garam Jono berasal dari sumber air tanah yang memiliki kandungan garam alami. Sumur-sumur tersebut telah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat secara turun-temurun bahkan sejak era penjajahan Belanda.
Meski lokasinya berjarak lebih dari 100 kilometer dari laut, air sumur di Desa Jono memiliki rasa asin layaknya air laut.
Keberadaan air asin di wilayah ini menjadi fenomena yang jarang ditemukan di daerah lain. Warga setempat memanfaatkan kondisi tersebut sebagai sumber penghidupan dengan memproduksi garam secara tradisional. Tradisi ini terus bertahan hingga kini, meski jumlah pelakunya semakin berkurang.
Proses Tradisional Pembuatan Garam dari Air Sumur
Pembuatan Garam Jono masih mempertahankan metode tradisional yang sederhana. Para petani menimba air dari sumur, kemudian mengalirkannya ke media berupa belahan bambu yang disusun memanjang di area ladang.
Setelah itu, air dibiarkan terpapar sinar matahari hingga menguap dan membentuk kristal garam. Proses ini membutuhkan waktu antara tujuh hingga lima belas hari, tergantung intensitas panas matahari.
Saat musim kemarau, produksi bisa berjalan lebih cepat dan menghasilkan garam dalam jumlah lebih banyak. Sebaliknya, saat musim hujan, proses penguapan menjadi terhambat.
Bambu yang digunakan biasanya merupakan jenis petung karena lebih kuat dan tahan lama. Teknik sederhana ini menjadi ciri khas sekaligus warisan budaya yang tetap dipertahankan hingga sekarang.
Cita Rasa dan Karakteristik Garam Jono
Salah satu keunggulan Garam Jono terletak pada cita rasanya yang khas. Tidak hanya asin, garam ini juga memiliki sentuhan gurih alami yang berbeda dari garam laut biasa. Warnanya cenderung putih kecokelatan dengan tekstur kristal yang lebih lembut.
Kandungan mineral dari air tanah diyakini menjadi faktor yang memengaruhi rasa tersebut. Hal ini menjadikan Garam Jono memiliki keunikan tersendiri yang sulit ditiru oleh produk lain.

Distribusi dan Nilai Ekonomi Garam Jono
Meski diproduksi secara tradisional, Garam Jono telah dipasarkan ke berbagai daerah seperti Semarang, Kudus, Pati, hingga Surakarta dan Yogyakarta. Harga jualnya cukup stabil dan memberikan penghasilan bagi para petani.
Dalam satu kali panen, petani bisa menghasilkan puluhan hingga ratusan kilogram garam, tergantung kondisi cuaca dan luas area produksi. Selain garam, terdapat pula produk sampingan berupa cairan bleng yang juga memiliki nilai ekonomi.
Namun, ketergantungan terhadap cuaca menjadi tantangan utama. Produksi hanya optimal saat cuaca panas, sehingga penghasilan petani juga sangat dipengaruhi oleh musim.
Tantangan Produksi dan Regenerasi Petani
Di balik keunikannya, Garam Jono menghadapi sejumlah tantangan serius. Salah satunya adalah keterbatasan teknologi produksi yang masih sangat tradisional. Proses manual membuat produksi tidak bisa dilakukan secara maksimal.
Selain itu, regenerasi petani menjadi persoalan penting. Banyak generasi muda yang enggan melanjutkan profesi ini karena dianggap kurang menjanjikan. Akibatnya, jumlah petani garam di Desa Jono terus berkurang.
Alih fungsi lahan juga menjadi faktor lain yang mengancam keberlangsungan produksi. Sejumlah area ladang garam kini berubah menjadi permukiman, sehingga ruang produksi semakin terbatas.
Upaya Pelestarian dan Pengembangan
Sebagai bentuk perlindungan, Garam Jono telah terdaftar sebagai produk Indikasi Geografis. Status ini bertujuan menjaga keaslian sekaligus meningkatkan nilai jual produk di pasar.
Pengembangan ke depan dapat dilakukan melalui inovasi teknologi sederhana untuk meningkatkan produksi, serta strategi pemasaran yang lebih modern. Pengemasan yang menarik dan branding yang kuat juga menjadi kunci agar Garam Jono mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
