Pahlawan Perempuan dari Jawa Tengah dan Yogyakarta

Pahlawan Perempuan dari Jawa Tengah dan Yogyakarta
Nyai Ahmad Dahlan (Gambar: aisyiyah.or.id)

Jatengkita.id – Jawa Tengah adalah salah satu daerah yang punya sejarah penting terkait dengan perjuangan bangsa Indonesia. Banyak pahlawan yang melawan penjajah lahir di sini, termasuk pahlawan perempuan yang namanya populer hingga kini.

Para pahlawan perempuan tersebut, selain berani secara fisik juga memiliki kecerdasan yang tinggi. Mereka dengan lantang menunjukkan perlawanannya terhadap kolonial demi membantu memperjuangkan hak-hak pribumi yang tertindas di masa lalu.

  1. Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat atau Retna Kencana merupakan Putri Sultan Trenggana seorang penguasa Kerajaan Islam Demak pada tahun 1521-1546. Ia adalah salah satu tokoh dari Kabupaten Jepara yang berperan penting pada masanya.

Memimpin Jepara pada tahun 1549-1579, Ratu Kalinyamat dikenal sebagai pemimpin wanita yang tegas dan disegani oleh rakyatnya. Saat masa kepemimpinannya berlangsung, ia berhasil mengembangkan wilayah Jepara sebagai pelabuhan dagang dan pusat maritim.

Kala itu, Jepara merupakan pintu masuk dan pertahanan utama Kerajaan Demak. Bersama suaminya, Raden Thoyib dari Aceh membangun galangan kapal dan mempekerjakan ratusan tukang kayu di wilayah bawahan kekuasaannya seperti Jepara, Kudus, Pati, Juwana, dan Rembang.

Ia dikenal sebagai penguasa yang berani mengusir Portugis dari Nusantara karena dianggap mengancam kedaulatan negara. Namanya tercatat dalam historiografi Jawa dan Portugis sebagai sosok wanita penguasa yang tegas dan tak kenal rasa takut.

  1. Raden Ajeng Kartini

Raden Ajeng Kartini merupakan tokoh yang berjasa dalam memperjuangkan nasib perempuan Jawa. Ia merasa adanya perbedaan gender yang tidak adil terutama di bidang pendidikan bagi perempuan.

Kartini membangun sekolah kecil bagi perempuan yang isinya mengajarkan menulis, membaca, dan keterampilan seperti menjahit dan memasak.

Selain itu, ia juga menyadarkan hak kepada khalayak melalui surat yang ditulisnya kepada teman-temannya di Belanda (seperti Abendanon). Surat tersebut berisi pemikiran kritis tentang penderitaan perempuan Jawa yang kini kita kenal sebagai buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Tak sampai disitu, R.A. Kartini juga mengkritik ketidaksetujuannya terhadap tradisi pingitan dan pernikahan paksa, di mana hal tersebut dianggap mengekang kebebasan perempuan.

Ia berjuang keras melalui cara-cara agar perempuan mendapatkan kesempatan dan kesetaraan dalam segala aspek tanpa memandang gender. 

Berkat jasanya yang peduli terhadap nasib kaum perempuan pribumi, R.A. Kartini menjadi salah satu sosok yang penting dan berpengaruh pada masanya yang kini diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional.

pahlawan perempuan dari jawa tengah
Nyi Ageng Serang (Gambar: budaya.jogjaprov.go.id)
  1. Nyi Ageng Serang

Pahlawan dengan nama asli RA Kustiyah merupakan panglima perang wanita yang terkenal cerdik dengan taktiknya melawan Belanda. Sebagai sosok keturunan darah pejuang dari Sunan Kalijaga dan Leluhur Ki Hajar Dewantara, ia dikenal sebagai pemimpin yang pemberani dan tangguh.

Sebagai seorang pemimpin militer yang menggantikan posisi sang ayah, yakni Pangeran Notoprojo, ia menjadi komandan tertinggi yang memimpin pasukan di wilayah Serang, Purwodadi, Demak, Semarang, Kudus, dan Rembang.

Nyi Ageng Serang terkenal akan kecerdasannya dalam menggunakan senjata dan menaiki kuda, serta caranya dalam melakukan perlawanan.

Taktik perang terkenalnya di masa itu adalah strategi daun lumbu, yaitu memerintahkan prajurit melakukan perang gerilya dengan cara menutupi kepala menggunakan daun lumbu (keladi), untuk menyamarkan diri agar tampak seperti kebun saat Perang Diponegoro tahun 1825-1830.

Meski tidak membuat Belanda kalah total, namun taktiknya, berhasil memberikan peran besar terhadap kondisi Belanda, sehingga mereka mengalami kesulitan militer dan finansial selama Perang Diponegoro.

4. Nyai Ahmad Dahlan

Riwayat Yogyakarta sebagai Kota Pelajar rupanya dimulai sudah sejak dulu. Sosok Nyai Ahmad Dahlan, yang merupakan istri dari KH Ahmad Dahlan adalah salah satu pahlawan dalam perjuangan pendidikan bagi kaum perempuan.

Nyai Ahmad Dahlan banyak mendirikan sekolah khusus putri. Ia juga aktif menggelar diskusi terkait dengan perang bersama Jenderal Soedirman dan KH Ahmad Dahlan. Atas jasa dan perannya, Nyai Ahmad Dahlan mendapat gelar pahlawan nasional dari pemerintah pada tahun 1971.

5. Oemiyah dan Ngaisyah

Nama pahlawan selanjutnya yang mungkin kurang akrab bagi kita adalah Oemiyah dan Ngaisyah. Keduanya adalah ahli stenografi di Jawatan Pos Telepon Telegraf (PTT). Pekerjaan yang dilakoni ini menjadi langkah bagi mereka untuk menyadap pesan rahasia Jepang yang saat itu menjajah Indonesia.

Hasil olahan pesan tersebut kemudian dikirimkan pada kelompok perlawanan bawah tanah untuk melawan Jepang.

Salah satu momen fenomenal Oemiyah dan Ngaisyah adalah keberanian menurunkan bendera Jepang dan menggantinya dengan bendera Indonesia di Gedung Agung Yogyakarta pada bulan September 1945.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *