Sehari Full Jelajah Klaten, Bisa Kemana Aja?

Sehari Full Jelajah Klaten, Bisa Kemana Aja?
(Gambar: Atourin)

Jatengkita.id – Diapit dua kota besar, Yogyakarta dan Solo. Klaten kerap kali hanya dipandang sebelah mata. Banyak yang melintasinya, namun sedikit yang benar-benar berhenti dan singgah. Sehari jelajah Klaten cukup untuk memantik ketertarikan akan kota ini.

Alamnya jernih dan asri, peninggalan sejarahnya membisikkan kisah cinta masa lampau, kulinernya merakyat tapi kaya rasa, dan keramahan warganya menyatu dalam denyut kehidupan desa yang damai.

Klaten bukan kota yang menawarkan kemewahan modern. Tapi di sinilah letak kekuatannya. Ia memberi ruang bagi siapa saja yang ingin berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan, untuk sekadar bernapas lega, menyesap keheningan, dan menyapa kembali sisi-sisi sederhana dalam hidup. 

Dalam perjalanan singkat ini, mari kita coba menelusuri sudut-sudut Klaten. Dari pagi yang segar di kolam alami, siang yang sarat makna sejarah, sore yang syahdu di pelukan alam, hingga malam yang ditutup dengan cita rasa tradisional.

Pagi: Menyapa Mentari di Umbul Ponggok

Pagi hari di Klaten dimulai dengan nuansa yang sejuk. Angin semilir dan suasana pedesaan yang damai langsung menyambut wisatawan saat menginjakkan kaki di destinasi pertama, Umbul Ponggok.

Kolam alami yang kini populer sebagai spot snorkeling dan fotografi bawah air ini menawarkan pengalaman berbeda dari kolam pada umumnya.

Airnya begitu jernih, dasarnya tampak dari atas permukaan. Batu-batu besar menghiasi bagian dasar, dan ikan-ikan kecil berenang bebas. Yang membuat Umbul Ponggok istimewa adalah keberadaan properti fotografi bawah air seperti sepeda, motor, bahkan kursi taman.

Tak perlu jauh-jauh ke laut, sensasi “menyelam” ala laut bisa dirasakan di sini. Banyak wisatawan dari berbagai kota datang hanya untuk merasakan serunya bermain air di umbul ini. Harga tiket masuknya adalah Rp15.000 per orang untuk hari biasa dan hari libur.

Namun harga tidak termasuk kamera bawah air, alat snorkeling, dan paket diving. Untuk menuju ke sana, wisatawan bisa memulai perjalanan dari Alun-alun Klaten dan pergi ke arah Lapangan Mayungan.

Dari sana, wisatawan hanya perlu berjalan lurus mengikut jalan utama sebelum sampai ke pertigaan besar dan belok ke arah kanan lalu ke kiri.

Selanjutnya, wisatawan hanya perlu berjalan lurus melewati sungai, Lapangan Desa Kadirejo, hingga ke pertigaan besar dekat Puskesmas Karanganom dan belok ke arah kiri lalu belok kanan.

Wisatawan hanya perlu berjalan lurus mengikuti jalur utama hingga melewati Kantor Desa Gledeg dan Pasar Jeblog sebelum akhirnya sampai ke tempat wisata tersebut. Jarak tempuh dari Alun-alun Klaten ke Umbul Ponggok adalah 12.5 km dengan waktu tempuh sekitar 30 menit menggunakan mobil.

Menjelang Siang: Sejarah dan Spiritualitas di Candi Plaosan

(Gambar: Atourin)

Dari Umbul Ponggok, perjalanan berlanjut ke arah timur laut menuju Candi Plaosan. Candi Buddha ini terletak di Desa Bugisan, Prambanan, hanya sekitar 30 menit berkendara. Suasana di sekitar candi sungguh menyejukkan, dengan hamparan sawah hijau mengelilingi kompleks candi kembar ini.

Arsitektur Candi Plaosan menunjukkan ciri khas tersendiri yang terlihat dari dua candi induk “kembar” berlantai dua yang dikelilingi candi perwara dan stupa perwara, dan parit yang mengelilingi keseluruhan komplek.

Candi Plaosan juga menunjukkan ciri khas tersendiri dalam hal konsep religi yang tercermin dari keberadaan Pantheon tiga Trikaya Buddha serta relief dewa-dewi wewangian dan cahaya di kedua candi induknya.

Siang Hari: Mencicipi Segarnya Es Gempol Pleret dan Sego Gudangan

Menjelang siang, perjalanan berlanjut menuju pusat kota Klaten untuk menyantap kuliner khas. Di kawasan Alun-alun Klaten, kalian dapat menemukan sebuah warung legendaris yang menjual es gempol pleret, minuman tradisional berbahan dasar tepung beras dengan sirup gula merah dan santan.

Tak hanya itu, wisatawan juga mencicipi sego gudangan, nasi putih yang disajikan dengan aneka sayur rebus dan sambal kelapa yang pedas gurih. Meski terlihat sederhana, rasanya sangat menggugah selera. 

Sore: Relaksasi di Umbul Manten dan Umbul Kapilaler

Setelah makan siang, wisatawan bisa melanjutkan eksplorasi ke arah timur menuju kawasan Umbul Manten dan Umbul Kapilaler. Kedua tempat ini berada di Desa Sidowayah dan bisa dijangkau dalam waktu 20 menit dari pusat kota.

Berbeda dengan Umbul Ponggok yang ramai dan penuh aktivitas, Umbul Manten terasa lebih tenang dan privat. Kolamnya dikelilingi pohon besar dan rimbun, menghadirkan suasana yang sejuk dan cocok untuk relaksasi. Di tempat ini, banyak orang memilih sekadar berendam atau menikmati semilir angin.

Umbul Kapilaler yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari Umbul Manten juga menawarkan nuansa serupa, bahkan lebih alami. Konon katanya, air di Umbul Kapilaler dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit kulit karena mengandung mineral alami.

Menjelang Senja: Menyambut Matahari Terbenam di Bukit Sidoguro

sehari jelajah klaten
(Gambar: jatengprov.go.id)

Senja tiba dan menjadi waktu yang tepat untuk menikmati pemandangan dari ketinggian. Maka, tujuan terakhir adalah Bukit Sidoguro, yang berada di kawasan Waduk Klaten Jombor. Bukit ini menjadi salah satu spot favorit wisatawan untuk menyaksikan matahari terbenam.

Dari atas bukit, panorama Waduk Jombor tampak membentang luas. Cahaya jingga memantul di permukaan air, menciptakan lukisan alam yang begitu memesona. Bukit ini dilengkapi gardu pandang dan jalur anak tangga yang tertata rapi.

Beberapa pengunjung mengabadikan momen dengan latar belakang siluet pegunungan dan perairan. Di sisi lain, para pedagang kecil mulai menyalakan lampu lapak mereka, menjual gorengan, kopi jahe, dan wedang ronde.

Suasana yang tercipta begitu damai. Tak ada kebisingan kendaraan, hanya suara burung dan angin yang berhembus pelan.

Malam: Oleh-Oleh dan Kuliner Malam Khas Klaten

Sebelum pulang, sempatkan untuk berburu oleh-oleh. Salah satu yang paling terkenal adalah jenang Sari Rasa, jenang khas Klaten yang dibuat secara tradisional dan dikemas rapi. Ada juga tape ketan, abon sapi, dan keripik belut, yang semua dibuat oleh UMKM lokal.

Tak lengkap rasanya tanpa mencicipi kuliner malam. Di Jalan Mayor Kusmanto, ada warung tenda yang menjual tengkleng kambing, menu khas Solo-Klaten yang kini semakin langka. 

Potensi wisata Klaten terus berkembang, namun tetap menjaga akar budaya dan kesederhanaannya. Klaten seperti taman kecil yang tersembunyi di antara dua kota besar, tenang, bersahaja, namun penuh warna.

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *