Jejak Perjuangan Pati Unus dan Kisah Epik Melawan Portugis

Jejak Perjuangan Pati Unus dan Kisah Epik Melawan Portugis
Pati Unus terus berjihad melawan Portugis (Ilustrasi: suararadarcakrabuana.com)

Jatengkita.id – Sejarah Nusantara mencatat banyak nama besar yang berjasa dalam memperjuangkan kedaulatan dan kehormatan bangsa di masa lampau. Di antara para tokoh besar itu, sosok Pangeran Sabrang Lor atau Pati Unus menempati posisi istimewa.

Ia bukan hanya dikenal sebagai Sultan Demak kedua, tetapi juga sebagai pahlawan maritim yang berani menyeberangi lautan demi melawan kekuasaan kolonial Portugis di Selat Malaka.

Nama aslinya adalah Raden Abdul Qadir, dan dunia mengenalnya dengan berbagai sebutan: Adipati Unus, Pati Unus, atau Yat Sun dalam sumber-sumber asing.

Julukan “Pangeran Sabrang Lor” sendiri lahir dari keberaniannya menyeberang ke “sabrang lor”, yakni seberang utara Pulau Jawa untuk menyerang Malaka yang telah jatuh ke tangan Portugis.

Kisah perjuangannya mencerminkan semangat pantang menyerah, patriotisme, serta tekad menegakkan kehormatan negeri Islam Demak pada masa awal kebangkitannya.

Asal-usul dan Latar Keluarga

Pangeran Sabrang Lor atau Adipati Unus lahir sekitar tahun 1488 M. Berdasarkan berbagai sumber, termasuk karya sejarawan Slamet Muljana dalam buku Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, disebutkan bahwa nama aslinya adalah Raden Abdul Qadir.

Ia merupakan putra dari Raden Muhammad Yunus, seorang ulama terpandang yang dikenal alim dan berpengaruh di wilayah pesisir utara Jawa.

Ibunya adalah putri dari seorang pembesar Kerajaan Majapahit, yang memperlihatkan bagaimana garis keturunan Adipati Unus menjembatani dua tradisi besar Nusantara, yaitu Islam dan Majapahit.

Kedekatannya dengan Kesultanan Demak dimulai ketika Raden Abdul Qadir dinikahkan dengan putri dari Sultan Demak I, Raden Patah. Pernikahan ini mempererat hubungan politik sekaligus meneguhkan posisinya sebagai bagian dari keluarga kerajaan.

Setelah menikah, ia diberi gelar Adipati Bin Yunus. Namun, dalam kehidupan masyarakat, nama Adipati Unus lebih dikenal luas. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai dua orang putra, yang kemudian menjadi bagian penting dalam kelanjutan dinasti Demak.

Baca juga: Mengenal 3 Tokoh Wali Songo yang Berdakwah di Jawa Tengah

Demak dan Latar Sejarah Nusantara

Untuk memahami kiprah Pangeran Sabrang Lor, penting melihat kondisi Nusantara pada masa itu. Setelah keruntuhan Majapahit sekitar akhir abad ke-15, muncul kerajaan-kerajaan Islam di pesisir utara Jawa, salah satunya Kesultanan Demak.

Kerajaan ini berdiri di bawah kepemimpinan Raden Patah, yang tidak hanya menjadi simbol transisi dari era Hindu-Buddha ke era Islam, tetapi juga pelopor dalam membangun kekuatan politik Islam di Jawa.

Demak tumbuh sebagai pusat perdagangan dan kekuasaan maritim. Letaknya yang strategis di pesisir utara Jawa menjadikannya pusat aktivitas pelayaran antara Jawa, Malaka, dan kepulauan lainnya di Nusantara.

Namun, pada saat yang sama, bangsa Eropa mulai memasuki wilayah Asia Tenggara. Setelah menguasai Goa di India, Portugis berhasil menaklukkan Malaka pada tahun 1511 M, di bawah pimpinan Afonso de Albuquerque.

Peristiwa ini mengguncang dunia perdagangan Nusantara, sebab Malaka saat itu merupakan pelabuhan terpenting di Asia Tenggara.

Demak yang selama ini menjalin hubungan dagang dan keagamaan dengan Malaka merasa terancam. Raden Patah dan para pemimpin Demak lainnya memandang kehadiran Portugis sebagai ancaman terhadap eksistensi Islam dan kedaulatan perdagangan Nusantara.

Dari sinilah semangat jihad maritim mulai tumbuh dan tokoh yang paling menonjol dalam perjuangan ini tak lain adalah Adipati Unus.

Perang Pertama ke Malaka, Semangat Awal Melawan Penjajahan

Pada tahun 1512 M, hanya setahun setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, Raden Patah mengutus menantunya, Adipati Unus, untuk memimpin ekspedisi militer ke Malaka.

Tujuannya jelas, merebut kembali kota pelabuhan itu dari cengkeraman Portugis dan mengembalikan supremasi Islam di kawasan tersebut.

Ekspedisi pertama ini dilakukan dengan persiapan terbatas. Namun, semangat jihad dan keberanian pasukan Demak sangat tinggi. Adipati Unus memimpin armada laut.

Ia juga mendapatkan dukungan dari kerajaan-kerajaan Islam lain seperti Jepara, Tuban, dan Gresik. Namun, pertempuran di Malaka tidak mudah. Portugis memiliki teknologi persenjataan yang jauh lebih canggih, terutama meriam dan kapal perang besar yang disebut carrack dan caravel.

Pasukan Adipati Unus akhirnya kalah dalam pertempuran. Namun, dari sanalah tumbuh tekad baru untuk mempersiapkan serangan yang lebih besar.

Serangan Kedua, 1513 dan Catatan Tomé Pires

Setelah kegagalan pertama, Adipati Unus mempersiapkan serangan kedua ke Malaka pada tahun 1513 M dengan kekuatan yang lebih besar dan strategi yang lebih matang.

Dalam catatan Tomé Pires, seorang penulis Portugis dalam karya Suma Oriental, disebutkan bahwa Pati Unus (disebut “Pate Onus”) memimpin serangan besar-besaran menggunakan sekitar 100 kapal dan 5.000 pasukan.

Serangan ini merupakan salah satu ekspedisi maritim terbesar di Asia Tenggara pada awal abad ke-16. Adipati Unus memimpin langsung pasukannya menyeberangi Laut Jawa menuju Selat Malaka.

pati unus
Di bawah kepemimpinan Pati Unus, Kerajaan Demak menjadi penguasa maritim yang kuat di Asia Tenggara (Gambar: daerah.sindonews.com)

Dari sinilah muncul julukan “Pangeran Sabrang Lor”, karena ia menyeberangi lautan di sebelah utara Jawa untuk berjihad melawan penjajah asing.

Namun lagi-lagi, mereka harus menghadapi kenyataan pahit. Kekuatan Portugis masih terlalu besar. Mereka memiliki benteng pertahanan kokoh, senjata api modern, dan strategi militer yang berpengalaman.

Meskipun pasukan Demak berhasil menimbulkan kerugian di pihak lawan, mereka akhirnya dipukul mundur. Serangan 1513 menjadi simbol perjuangan besar dunia Islam di Nusantara melawan kolonialisme Eropa.

Bahkan, Portugis mencatat bahwa sosok “Pate Onus” atau “Pati Unus” adalah musuh yang paling berani dan disegani di antara raja-raja Asia Tenggara.

Baca juga: Mengakrabi Raden Saleh, Maestro Lukis Asal Semarang

Naiknya Adipati Unus sebagai Sultan Demak Kedua

Tahun 1518 M, Sultan Raden Patah wafat. Setelah kematiannya, para pemuka agama dan bangsawan Demak sepakat mengangkat Adipati Unus sebagai Sultan Demak kedua.

Pengangkatannya tidak hanya karena statusnya sebagai menantu Raden Patah, tetapi juga karena keberaniannya dalam melawan Portugis serta kemampuannya memimpin armada laut.

Sebagai sultan, Pati Unus bertekad menjadikan Demak bukan sekadar pusat kekuasaan politik, tetapi juga simbol kekuatan Islam di Asia Tenggara.

Ia memperkuat armada laut, mempererat hubungan dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya seperti Cirebon, Banten, dan Palembang, serta meningkatkan hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan di Kalimantan dan Sulawesi.

Demak pada masa pemerintahannya dikenal sebagai kerajaan Islam pertama yang benar-benar memiliki visi maritim dan kesadaran geopolitik tinggi. Pati Unus memahami bahwa penguasaan laut adalah kunci untuk mengimbangi dominasi Eropa yang datang dengan kapal-kapal perangnya.

Serangan Ketiga, Puncak Perjuangan dan Gugurnya Sang Pangeran

Pada tahun 1521 M, Pati Unus kembali memimpin ekspedisi laut menuju Malaka. Kali ini, ia tidak sendiri. Kesultanan Banten dan Cirebon turut memberikan bantuan pasukan dan kapal. Menurut catatan sejarah, armada gabungan itu terdiri dari sekitar 360 kapal—jumlah yang sangat besar untuk ukuran zaman itu.

Serangan tersebut membuat Portugis panik. Mereka melaporkan kepada pemerintah pusat di Goa bahwa “musuh dari Jawa” datang dengan kekuatan laut yang sangat besar.

Pertempuran sengit pun terjadi selama tiga hari tiga malam. Sayangnya, nasib berkata lain. Dalam salah satu serangan besar, sebuah meriam Portugis menghantam kapal utama Pati Unus.

Ledakan besar itu menewaskannya di tempat. Gugurnya sang sultan membuat pasukan Demak kehilangan pemimpin, dan akhirnya mundur kembali ke Jawa.

Kabar gugurnya Adipati Unus tersebar ke seluruh Nusantara. Rakyat Demak mengenangnya dengan gelar Pangeran Sabrang Lor, yang berarti pangeran yang gugur di seberang utara (Lor) Pulau Jawa, sebuah penghormatan tertinggi bagi seorang pejuang maritim yang rela mati demi membela tanah air dan agamanya.

Kepemimpinan dan Warisan Perjuangan

Warisan Pati Unus tidak hanya dalam bentuk keberanian, tetapi juga dalam bentuk kesadaran geopolitik dan strategi laut. Ia adalah salah satu tokoh pertama yang memahami pentingnya laut sebagai jalur utama pertahanan dan perdagangan Nusantara.

Konsep “maritimisme” yang kini digaungkan oleh Indonesia modern, sejatinya sudah dihayati oleh tokoh seperti Pangeran Sabrang Lor lebih dari lima abad silam.

Pandangan Portugis terhadap Adipati Unus

Menariknya, tokoh Portugis seperti Tomé Pires dalam Suma Oriental menyebut Adipati Unus dengan penuh rasa hormat. Ia menulis tentang seorang “Pate Onus” yang berani menyerang Malaka dengan kekuatan besar dan disegani di seluruh Jawa.

Dalam pandangan Portugis, Pati Unus bukan sekadar penguasa lokal, melainkan ancaman serius terhadap dominasi mereka di Asia Tenggara.

Catatan-catatan Eropa juga menyebutkan bahwa meskipun gagal merebut Malaka, serangan Pati Unus membuat Portugis menyadari potensi besar kekuatan maritim di Nusantara.

Mereka kemudian memperkuat pertahanan di Malaka karena khawatir akan serangan lanjutan dari Demak. Hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh seorang Pangeran Sabrang Lor terhadap peta politik Asia Tenggara kala itu.

Dimensi Religius dan Semangat Jihad

Sebagai kerajaan Islam, perjuangan Pangeran Sabrang Lor tidak hanya bersifat politik, tetapi juga memiliki dimensi religius yang kuat.

Dalam berbagai naskah seperti Serat Catur Kanda Cirebon dan Kronik Cin Sam Po Kong, disebutkan bahwa Pati Unus berperang bukan semata-mata untuk kekuasaan, melainkan untuk membela agama Islam yang terancam oleh bangsa asing non-Muslim.

Dalam konteks ini, Pati Unus dipandang sebagai mujahid, pejuang di jalan Allah yang rela mengorbankan nyawanya demi menegakkan keadilan dan melindungi umat Islam.

Semangat jihad yang ditunjukkannya menjadi inspirasi bagi banyak generasi setelahnya, termasuk Sultan Trenggana dan tokoh-tokoh Islam lainnya di Jawa.

Demak Sebagai Kerajaan Islam Maritim

Kepemimpinan Pangeran Sabrang Lor mempertegas karakter Demak sebagai kerajaan Islam maritim pertama di Nusantara. Jika Majapahit dikenal dengan kekuatan armadanya di abad ke-14, maka Demak-lah yang mewarisi dan mengislamkan tradisi tersebut.

Armada laut Demak bukan hanya alat perang, tetapi juga sarana dakwah dan perdagangan. Jepara, pelabuhan utama Demak, berkembang pesat di bawah pengaruh Pati Unus.

Di tempat inilah cikal bakal pelaut-pelaut tangguh Nusantara lahir. Kelak, semangat itu diteruskan oleh tokoh-tokoh besar lain seperti Ratu Kalinyamat dan Fatahillah, yang juga meneruskan perjuangan melawan Portugis di laut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *