5 Bangunan Saksi Sejarah Pertempuran Lima Hari Semarang

5 Bangunan Saksi Sejarah Pertempuran Lima Hari Semarang
Tugu Muda adalah monumen simbol perjuangan masyarakat Semarang (Gambar: jogjasuper.co.id)

Jatengkita.id – Sudah 80 tahun peristiwa Pertempuran Lima Hari Semarang berlalu, yaitu tanggal 14-19 Oktober 1945. Sejarah mencatatnya sebagai salah satu perjuangan heroik pasca-Kemerdekaan dengan para tokoh yang terjun langsung hingga puputan.

Sejarah juga membahas mengenai bangunan-bangunan yang menjadi saksi bisu pertempuran. Tak hanya sebagai markas, ada juga bangunan yang menjadi bangsal perawatan dan sebab lahirnya Pertempuran Lima Hari Semarang.

  1. Tugu Muda

Monumen ini didirikan sebagai simbol perjuangan masyarakat Semarang. Peletakan batu pertamanya dilakukan pada tanggal 28 Oktober 1945 oleh Gubernur Jawa Tengah yang saat itu menjabat, yaitu KRMT Wongsonegoro.

Bentuk tugu mirip obor, melambangkan semangat pejuang Semarang yang tak pernah padam. Terdapat hiasan 12 relief yang merepresentasikan momen-momen penting selama Pertempuran Lima Hari Semarang.

Tugu Muda terletak di Jalan Pandanaran yang merupakan kawasan pusat Kota Semarang. Ada gedung pemerintahan, wisata Lawang Sewu, dan Museum Mandala Bhakti. Dulu, nama kawasan ini adalah Wilhelminaplein.

  1. Reservoir Siranda

Reservoir menjadi salah satu bangunan historis karena menjadi cikal bakal meletusnya Pertempuran Lima Hari Semarang. Tempat penampungan air ini diduga sudah diracun oleh tentara Jepang.

Reservoir Siranda didirikan pada tahun 1912 dan menjadi salah satu sumber air yang digunakan masyarakat Semarang. Penampungan air ini berlokasi di jalan Diponegoro.

pertempuran lima hari semarang
(Gambar: idsejarah.net)
  1. Rumah Sakit Purusara

Para pejuang yang mengalami luka selama pertempuran akan dirujuk ke Rumah Sakit Purusara. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tahun 1964, rumah sakit ini resmi diubah namanya menjadi RSUP dr. Kariadi.

Hal tersebut dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa yang dilakukan dr. Kariadi selama peristiwa Pertempuran Lima Hari Semarang.

Ia diketahui tewas ditembak tentara Jepang saat dalam perjalanan menuju Reservoir Siranda untuk menguji kandungan air yang diduga diracun oleh tentara Jepang. RSUP dr. Kariadi terletak di Jalan Dr. Sutomo, nomor 16, Semarang.

  1. Hotel Du Pavillon

Di sini, proses diplomatik antara Gubernur Jawa Tengah, KRMT Wongsonegoro dan perwakilan Jepang dilaksanakan. Pertemuan tersebut membahas tentang kesepakatan mengakhiri Pertempuran Lima Hari Semarang.

Selain itu, hotel ini juga digunakan sebagai tempat perlindungan kaum muda. Dulu, nama hotel ini sempat berganti menjadi Hotel Dibya Puri. Kini, Hotel Du Pavillon sudah tidak beroperasi lagi. Lokasi bangunan ini berada di Jalan Pemuda nomor 11, Semarang Tengah.

  1. Bodjong Weg

Di antara sekian banyak tempat perlindungan, Bodjong Weg adalah salah satu yang populer. Kawasan ini adalah markas utama untuk membahas rencana perlawanan terhadap tentara Jepang.

Kini, Bodjong Weg bertransformasi menjadi kawasan pusat pemerintahan dan bisnis yang berada di sepanjang Jalan Pemuda.

Selain di Bodjong Weg, markas atau tempat perlindungan lain yang digunakan oleh para pejuang di antaranya adalah Stadstuin Jomblang dan Gereja Gedangan yang telah diresmikan sebagai bangunan cagar budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *