Mengapa Lagu Bengawan Solo Sangat Populer di Kancah Global?

Mengapa Lagu Bengawan Solo Sangat Populer di Kancah Global?
Gesang, pencipta lagu Bengawan Solo (Gambar: ensiklopopindonesia.wordpress.com)

Jatengkita.id – Lagu berjudul Bengawan Solo merupakan syair populer yang berasal dari Surakarta. Bengawan Solo sendiri merupakan sungai terpanjang di Jawa yang mengalir dari Wonogiri (Jawa Tengah) hingga muara di utara Surabaya (Jawa Timur).

Lagu ini diciptakan oleh seorang maestro keroncong bernama Gesang Martohartono yang lahir pada tahun 1917. Tempat tersebut dibuat pada tahun 1940, di mana liriknya menggambarkan keindahan sungai Solo yang mengalir tenang melalui jantung kota.

Bengawan Solo

Riwayatmu ini

Sedari dulu jadi perhatian insani

Itulah sepenggal lirik lagu Bengawan Solo. Lagu tersebut begitu legendaris bagi masyarakat Indonesia karena melintasi masa bersejarah dari kolonial hingga kemerdekaan. 

Dahulu, ketika Jepang mendarat di Pulau Jawa, lagu Bengawan Solo seringkali diputar dan didengar oleh serdadu Jepang dari radio Indonesia.

Tepatnya selama perang dunia ll, lagu ini sangat populer hingga dilantunkan oleh tentara Jepang. Mereka menganggap bahwa Bengawan Solo sebagai sebuah hiburan ketika dalam masa sulit.

Musik keroncongnya enak didengar, berpadu dengan unsur Nusantara dan Portugis. Melodi ini dianggap mewakili konsep Bhinneka Tunggal Ika, yang saat itu disukai pihak kolonial Jepang.

Setelah berakhirnya perang, pihak Jepang akhirnya kembali ke negara asalnya, dan tak lupa membawa pulang lagu Bengawan Solo dengan versi tanah air mereka.

bengawan solo
Lagu Bengawan Solo yang jadi soundtrack film Jepang berjudul Stray Dogs (Gambar: idntimes.com)

Melodinya yang lembut dan menceritakan tentang keindahan alam, serta liriknya yang sangat puitis, menjadi daya tarik tersendiri bagi pihak Jepang hingga mereka berani memperkenalkan Bengawan Solo. 

Bahkan, setelah Perang Dunia II, Bengawan Solo menjadi soundtrack semacam “zeitgeist” atau penanda identitas bagi masyarakat Asia yang pernah dijajah.

Menariknya, karya Gesang ini ditulis saat iamasih sangat muda, yaitu 23 tahun. Rasa kekagumannya terhadap Sungai Bengawan Solo yang indah dan berperan penting bagi kehidupan masyarakat Jawa Tengah saat itu, membuatnya tergerak menciptakan karya luar biasa.

Dengan melodi dan ritmik yang sederhana, Bengawan Solo berhasil menarik jutaan pendengar. Meski karyanya sudah lama, masih tetap relevan dan sering dinyanyikan dari masa ke masa.

Lagu Bengawan Solo pernah digunakan sebagai soundtrack film Jepang, yang disutradarai oleh Kon Ichikawa pada tahun 1951 berjudul Aishû no Minato.

Selain itu, ada film Jepang lainnya seperti film Stray Dogs tahun 1949 dan An Autumn Afternoon tahun 1962, hingga Film Tiongkok berjudul In the Mood for Love di tahun 2002.

Hal tersebut telah membuktikan, bahwa popularitas lagu Bengawan Solo telah menyebar luas menembus batas negara, terutama di kawasan Asia. Bahkan liriknya telah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa asing, yang membuatnya semakin populer di seluruh dunia. 

Selain di Asia, lagu Bengawan Solo juga dilantunkan di beberapa negara eropa, termasuk Polandia. Iramanya yang begitu populer pernah menjadi lagu perjuangan Polandia sekitar tahun 1960-an, dengan judul Kiedy Allach Szedl.

Lagu Bengawan Solo tidak pernah redup, bahkan popularitasnya semakin luas ketika lagu ini pernah dicover oleh penyanyi Internasional seperti Teresa Teng, penyanyi pop Taiwan dan The Shadow Blows, band asal Belanda.

Bengawan Solo telah mendapatkan popularitas yang cukup luas secara internasional, hingga banyak seniman luar negeri membawakan lagu tersebut.

Baca juga: Bengawan Solo : Sungai Kehidupan, Tantangan, dan Harapan di Tanah Jawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *