Jatengkita.id – Dusun Sarip merupakan salah satu bagian dari Desa Karangasem yang terletak di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Wilayah ini dikenal sebagai kampung genteng karena masyarakatnya bermata pencaharian utama sebagai pengusaha atau pekerja genteng.
Dusun Sarip sudah sejak lama populer sebagai sentra industri bahan bangunan yang berasal dari tanah liat. Beberapa produk yang dihasilkan di antaranya adalah genteng, bata merah press, bata expose, bata tempel, kerpus/wuwung, dan loster putih.
Menariknya, produk-produk tersebut dikerjakan langsung oleh warga, mulai dari tahap pengolahan tanah liat, pencetakan, penjemuran hingga kering, sampai pembakaran, sehingga menghasilkan genteng yang kuat dan tahan terhadap cuaca.
Melansir dari berbagai sumber, industri genteng di Dusun Sarip ini mampu meningkatkan pendapatan lokal dan membuka lapangan kerja yang luas bagi warga. Tidak heran, industri genteng di sini sangat potensial dan berkelanjutan.

Dorongan Gentengisasi oleh Presiden Prabowo
Pada awal Februari tahun 2026, Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya mendorong konsep gentengisasi bagi rumah-rumah di Indonesia. Gentengisasi sendiri merupakan konsep mengganti atap rumah seng dengan genteng tanah liat.
Tujuannya, untuk membuat rumah lebih adem dan lingkungan lebih layak huni. Indonesia terkategorikan dalam iklim tropis, di mana saat musim kemarau, panas akan terasa terik dan sebaliknya, saat musim hujan akan terasa dingin.
Dalam ilmu fisika, genteng yang terbuat dari tanah liat merupakan isolator yang baik. Panas yang masuk ke rumah bisa ditahan oleh pori-pori tanah liat, sehingga suhunya relatif stabil. Berbeda dengan sifat seng yang merupakan penghantar panas.
Rumah yang beratapkan seng akan cepat panas, pengap, dan membuat kondisi di dalamnya tidak nyaman. Jika pengguna atap seng di suatu lingkungan sangat banyak, hal ini tentu dapat mengurangi kenyamanan dan kesehatan lingkungan itu sendiri.
Apalagi jika ditambah kondisi seng yang berkarat, maka polusi korosi dan potensi terbawanya zat beracun dari karat saat diguyur hujan akan semakin memperburuk kesehatan lingkungan.
Selain itu, dari segi estetika, rumah yang beralaskan seng dalam kurun waktu tertentu akan berkarat. Kondisi ini dapat menimbulkan kesan pemukiman yang kumuh.
Namun, gentengisasi bukan soal estetika atau budaya modern, melainkan bagaimana membuat lingkungan yang kita tinggali menjadi lebih sehat dan nyaman. Konsep ini merupakan solusi bagi Indonesia yang beriklim tropis.
Baca juga: Semen Grobogan, Pilar Konstruksi Unggulan Jawa Tengah
