Jatengkita.id – Ibadah haji merupakan salah satu momen agung bagi setiap Muslim. Bagi masyarakat Jawa, ibadah haji ibarat kejatuhan rezeki nomplok saking istimewanya.
Mereka tentu merasa menjadi “The Special One” karena akhirnya dipanggil Allah ke Baitullah. Dalam pandangan mereka, undangan tersebut tidak sebatas akhirnya gilirannya tiba.
Penantian panjang itu ditempuh dengan kerja keras menghimpun lembaran rupiah untuk pelunasan.
Hal ini tentu menjadi tantangan sendiri lantaran umumnya masyarakat Jawa bermata pencaharian sebagai petani yang hanya mengandalkan penghasilan dari panen raya.
Selain itu, mereka juga berupaya menyiapkan fisik agar tetap fit untuk berjaga-jaga bila mana nanti mendapat undangan.
Semua orang Jawa pasti memimpikan undangan ibadah haji ini. Namun, tak semuanya mendapat kesempatan, baik itu dari sisi finansial, fisik, atau lainnya.
Tradisi Pengajian yang Masih Banyak Dijumpai
Karena kesempatan istimewa tersebut, beberapa masyarakat Jawa yang melaksanakan ibadah haji masih menjalankan sebuah tradisi.
Namanya pengajian. Aktivitas ngaji dilaksanakan di rumah jemaah haji tersebut oleh saudara atau tetangga sesuai dengan amanah yang diberikan jemaah.
Pengajian bisa diisi dengan khataman Al-Qur’an atau pembacaan Surat Yasin, tahlil, dan dzikir-dzikir lainnya.
Adapun pelaksanannya, berbeda-beda di setiap daerah dan sesuai permintaan jemaah haji. Ada yang melaksanakannya setiap hari Kamis malam Jumat. Bisa setelah salat maghrib atau salat isya.
Hari tersebut memang diyakini sebagai hari baik oleh masyarakat Jawa. Biasanya, hari ini digunakan untuk pengajian yasin-tahlil atau barzanji.
Selain Kamis malam Jumat, ada juga yang melaksanakan pengajian hanya saat pelaksanaan puncak haji, yaitu saat wukuf di Arafah dan mabit di Mina dan Muzdalifah.
Tujuan Pengajian bagi Jemaah Haji
Bukan tanpa alasan. Beberapa jemaah masih melaksanakan tradisi ini karena dinilai memberi dampak dan kekuatan lewat doa-doa yang dipanjatkan.
Pengajian ditujukan untuk memberikan doa keselamatan bagi jemaah selama melaksanakan ibadah haji.
Selain itu, pengajian ini juga mendoakan agar jemaah bisa menjadi haji mabrur, di mana pelaksanaan ibadahnya dilakukan dengan sempurna dan sesuai syariat.
.jpeg)
Sedekah dan Tradisi Berbagi
Bagi masyarakat Jawa yang sangat identik dengan perayaan, pengajian bagi jemaah haji ini juga menjadi bentuk kedermawanan.
Seusai pengajian, pasti ada ubo rampe yang disiapkan oleh utusan jemaah haji yang ada di rumah. Dilihat dari aspek sosial, tradisi ini sangat berdampak untuk menjaga kerukunan antartetangga.
Mereka yang datang pun tidak hanya sekadar ngaji lalu pulang ketika selesai. Sebagian masih bercengkerama meramaikan kondisi rumah yang sepi. Bahkan ada juga yang menginap meski hanya semalam.
Selama 40 hari jemaah haji pergi, tetangga sekitar lah yang membantu mengamankan rumah. Mereka turut bahagia dan minta didoakan agar bisa ikut menyusul segera.
Konsep berbagi ini menjadi salah satu nilai gotong-royong yang masih mengikat. Sedekah bisa saling membantu mereka yang sedang kekurangan sekaligus berbagi kebahagiaan.
Dari aspek spiritual, sedekah juga menjadi bentuk syukur kepada Allah yang akan dikembalikan berlipat ganda. Selain itu, sedekah bisa menjadi salah satu jalan kemudahan dan datangnya pertolongan.
Menanggapi Kritik
Terlepas dari tradisi pengajian yang sarat nilai spiritual dan sosial, ada kritik yang cukup menarik. Dengan adanya tradisi pengajian, beban pengeluaran jemaah haji dinilai cukup bertambah tinggi.
Karena itu, beberapa jemaah haji (dalam lingkup masyarakat Jawa) juga tidak menggelar pengajian di rumah karena alasan keterbatasan finansial. Belum lagi beban pikiran yang mungkin cukup mengganggu kekhusuyukan ibadah haji.
Ada waktu yang harus disempatkan untuk berkoordinasi dengan utusan rumah: bagaimana menjamu tamu dengan layak disesuaikan dengan anggaran dana yang ada.
Masyarakat Jawa sangat rentan dengan budaya lisan. Untuk menjaga marwah keluarga dari prasangka-prasangka negatif, kadang jemaah memutuskan untuk mengikuti apa yang diminta.
Perlu dicermati, bahwa yang salah bukanlah tradisinya, tapi bagaimana kita mengelolanya dengan bijak. Jika ingin mengadakan pengajian, penuhilah sesuai kemampuan keuangan.
Mulailah untuk berhenti menanggapi komentar buruk tetangga yang pada akhirnya membuat kewalahan dan tidak totalitas dalam sedekah.




Plus minus tradisi Indonesia