Brebes — Anggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah, Sururul Fuad, kembali menyoroti peran penting pengasuhan dalam rumah tangga sebagai fondasi utama untuk menjaga generasi muda dari berbagai pengaruh negatif lingkungan.
Pesan tersebut ditekankan oleh Sururul Fuad saat hadir memberikan arahan dalam acara Peningkatan Kualitas Pengawasan Pelaksanaan Peraturan Daerah (Perda) tentang Ketahanan Keluarga, yang diselenggarakan di Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes.
Dalam pemaparannya, Sururul Fuad yang juga mengemban amanah sebagai Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah ini menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi masyarakat modern saat ini semakin kompleks. Ia menyampaikan bahwa fenomena sosial seperti penyimpangan orientasi seksual (lesbian, gay, biseksual, dan transgender atau LGBTQ) kini menjadi perhatian serius pemerintah.
Sururul Fuad memaparkan bahwa hal tersebut telah diklasifikasikan sebagai salah satu bentuk ancaman negara non-militer, yang tertuang dalam kebijakan resmi pemerintah melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 111 Tahun 2025. Menghadapi ancaman yang menyasar moral dan karakter generasi muda tersebut, Sururul Fuad menilai bahwa pendidikan keluargalah yang menjadi benteng pertahanan paling awal.
Keresahan yang disampaikan Sururul Fuad bukan tanpa alasan jika melihat ancaman nyata di Jawa Tengah, khususnya pada aspek kesehatan masyarakat. Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, perilaku seksual menyimpang seperti Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) telah menjadi salah satu kelompok populasi kunci yang menjadi prioritas dalam penularan HIV/AIDS. Tercatat, sepanjang Januari hingga Juni 2025 saja, terdapat 3.028 kasus baru HIV/AIDS di Jawa Tengah, yang membuat total Orang dengan HIV (ODHIV) di provinsi ini melonjak hingga 22.410 orang. Tingginya penyebaran virus di kalangan kelompok penyimpangan seksual ini menjadi bukti nyata dampak fatal fenomena tersebut terhadap ketahanan sosial dan kesehatan daerah.
Menghadapi ancaman yang menyasar moral dan karakter generasi muda tersebut, Sururul Fuad menilai bahwa pendidikan keluargalah yang menjadi benteng pertahanan paling awal. Menurutnya, penanaman nilai-nilai akhlak yang baik sejak usia dini sangat bergantung pada kualitas hubungan antara orang tua dan anak.
“Orang tua harus benar-benar memperhatikan dan menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anaknya, agar mereka tidak mencari pelarian dan validasi (pengakuan) ke tempat lain dengan cara yang salah,” tutur Sururul Fuad memberikan nasihat kepada para peserta yang hadir.
Lebih lanjut, Sururul Fuad menyoroti isu kerentanan psikologis pada anak yang sering kali dipicu oleh kurangnya kehangatan di dalam rumah. Secara khusus, Sururul Fuad mengingatkan pentingnya kehadiran sosok figur ayah secara emosional dalam keseharian anak, bukan sekadar hadir secara fisik. Ia menyinggung fenomena fatherless (kehilangan sosok ayah), yang dinilai membuat anak kehilangan arah dan lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan luar.
“Keluarga harus menjadi tempat cerita yang nyaman bagi anak, jangan sampai ada fatherless, di mana anak merasa kehilangan sosok ayah dalam keluarganya,” tegas Sururul Fuad.
Di akhir pemaparannya, Sururul Fuad kembali merangkum bahwa peran sentral keluarga tidak dapat digantikan oleh institusi mana pun. Bagi Sururul Fuad, upaya untuk membangun pilar negara yang tangguh dan masyarakat yang sejahtera harus selalu diawali dari satu langkah dasar, yaitu mewujudkan sebuah keluarga yang utuh dan kuat.
