Jatengkita.id – Ketika hidup terasa semakin bising, manusia justru semakin sering mencari cara untuk menjadi tenang. Tidak heran jika Stoikisme kembali populer dan banyak dibicarakan melalui buku, media sosial, hingga berbagai konten pengembangan diri.
Filsafat yang berasal dari Yunani-Romawi kuno itu antara lain mengajarkan manusia untuk membedakan hal yang berada dalam kendali diri dan hal yang berada di luar kendali.
Namun, jauh sebelum istilah Stoikisme ramai digunakan dalam percakapan sehari-hari, masyarakat Jawa telah mengenal sejumlah filosofi hidup Jawa yang mengajarkan pengendalian diri, penerimaan, dan ketenangan batin.
Salah satunya terangkum dalam pitutur “aja kagetan, aja gumunan, aja getunan, aja aleman.” Empat kalimat pendek tersebut dapat dibaca sebagai nasihat agar manusia tidak mudah terguncang oleh keadaan, tidak berlebihan mengagumi sesuatu, tidak terjebak penyesalan, serta tidak terlalu bergantung pada kenyamanan.
Menariknya, nasihat tersebut justru terasa semakin relevan ketika diterapkan pada kehidupan modern.
Stoikisme dan Falsafah Jawa Bertemu pada Pengendalian Diri
Salah satu gagasan yang sering diperkenalkan dalam Stoikisme adalah kemampuan membedakan hal-hal yang berada dalam kendali seseorang dengan sesuatu yang berada di luar kendalinya.
Manusia dapat berusaha mengatur pikiran, tindakan, keputusan, dan responsnya. Sebaliknya, hasil akhir, pendapat orang lain, perubahan keadaan, atau berbagai peristiwa eksternal tidak selalu dapat dikendalikan.
Gagasan tersebut memiliki titik temu dengan sejumlah falsafah Jawa, terutama dalam hal bagaimana seseorang mengelola respons terhadap kehidupan.
Kajian mengenai filsafat Jawa dan Stoikisme juga menemukan kesamaan dalam penekanan terhadap pengendalian emosi dan pencarian ketenangan batin. Namun, keduanya tidak berarti sama persis karena memiliki latar budaya, bahasa, serta kerangka pemikiran yang berbeda.
Di sinilah Stoikisme ala Jawa menarik untuk dibicarakan. Bukan karena falsafah Jawa harus disebut sebagai “versi lokal” dari Stoikisme, melainkan karena keduanya dapat memperlihatkan bahwa persoalan manusia menghadapi emosi dan ketidakpastian, sudah lama menjadi bagian dari pemikiran manusia.
Baca juga: Memaknai Filosofi Jawa: Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman
-
Aja Kagetan, Jangan Mudah Terguncang
Pitutur pertama adalah aja kagetan, yang secara sederhana dapat dimaknai sebagai jangan mudah kaget atau terkejut.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa saja menghadapi perubahan mendadak. Rencana yang sudah disusun gagal, pekerjaan tidak berjalan sesuai harapan, hubungan mengalami masalah, atau kabar yang tidak diinginkan tiba-tiba datang.
Aja kagetan bukan berarti seseorang tidak boleh merasa terkejut atau sedih. Pesannya lebih dekat pada bagaimana seseorang tidak membiarkan reaksi sesaat mengambil alih seluruh dirinya.
Prinsip tersebut memiliki kemiripan dengan gagasan Stoikisme tentang mengendalikan respons terhadap peristiwa. Peristiwa mungkin terjadi di luar kuasa manusia, tetapi cara seseorang meresponsnya masih dapat diupayakan.
Dalam konteks sekarang, aja kagetan bahkan dapat diterapkan pada kehidupan digital. Tidak semua berita harus langsung dipercaya, tidak semua komentar harus dibalas, dan tidak setiap perubahan di media sosial perlu membuat seseorang ikut panik.

-
Aja Gumunan, Jangan Mudah Silau
Selanjutnya ada aja gumunan, yakni jangan mudah terheran-heran atau terpukau secara berlebihan.
Nasihat ini terasa sangat relevan di era media sosial. Setiap hari seseorang melihat pencapaian orang lain, rumah mewah, perjalanan ke luar negeri, pekerjaan bergengsi, penampilan sempurna, hingga berbagai bentuk gaya hidup yang tampak ideal.
Masalahnya, apa yang terlihat di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Aja gumunan mengingatkan manusia agar tidak mudah kehilangan ukuran dirinya hanya karena terpukau oleh sesuatu yang berada di luar dirinya.
Kekaguman boleh saja muncul, tetapi tidak harus berubah menjadi rasa rendah diri, iri, atau keinginan mengejar sesuatu secara membabi buta.
Di dalam Stoikisme sendiri, hal-hal eksternal seperti kekayaan, status, dan popularitas tidak ditempatkan sebagai sumber utama kebahagiaan. Fokus utamanya berada pada kebajikan dan bagaimana seseorang menggunakan akal serta tindakannya dalam menghadapi kehidupan.
Dengan demikian, Stoikisme dan filsafat Jawa sama-sama dapat dibaca sebagai pengingat agar manusia tidak menyerahkan ketenangan batinnya kepada sesuatu yang berada di luar dirinya.
-
Aja Getunan, Jangan Terjebak Penyesalan
Hampir semua orang pernah mengambil keputusan yang salah. Karena itu, pitutur aja getunan mengajarkan agar manusia tidak terus-menerus tenggelam dalam penyesalan.
Masa lalu memang dapat menjadi sumber pembelajaran. Namun, seseorang tidak dapat kembali ke waktu ketika keputusan tersebut dibuat.
Yang masih dapat dilakukan adalah mengevaluasi, memperbaiki kesalahan jika memungkinkan, kemudian melanjutkan kehidupan.
Gagasan ini kembali memiliki titik temu dengan Stoikisme. Sesuatu yang telah terjadi berada di luar kendali kita. Energi mental yang terus digunakan untuk mengulang “seandainya” tidak mengubah peristiwa tersebut.
Bukan berarti penyesalan harus dihilangkan sepenuhnya. Penyesalan dapat menjadi bahan refleksi. Yang perlu dihindari adalah menjadikannya tempat tinggal.
-
Aja Aleman, Jangan Terlalu Dimanjakan Kenyamanan
Pitutur terakhir adalah aja aleman, yang secara umum dimaknai sebagai jangan manja.
Dalam kehidupan modern, kenyamanan semakin mudah ditemukan. Teknologi memungkinkan banyak hal dilakukan tanpa harus meninggalkan rumah. Hiburan tersedia sepanjang waktu dan berbagai kebutuhan dapat dipenuhi hanya melalui layar.
Kenyamanan tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, falsafah Jawa mengingatkan bahwa manusia juga perlu memiliki ketahanan menghadapi keadaan yang tidak nyaman.
Aja aleman mengajarkan kedewasaan untuk tidak selalu menuntut kehidupan berjalan sesuai keinginan. Ada kalanya manusia harus menghadapi kegagalan, penolakan, keterbatasan, dan ketidakpastian. Di titik inilah pengendalian diri menjadi penting.
Nrimo Ing Pandum Bukan Berarti Berhenti Berusaha
Selain empat pitutur tersebut, pembahasan Stoikisme ala Jawa juga sulit dilepaskan dari konsep nrimo ing pandum.
Istilah ini kerap disalahpahami sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Padahal, penelitian tentang nrimo ing pandum menunjukkan bahwa konsep tersebut berkaitan dengan pengelolaan emosi, penerimaan diri, dan upaya menjaga ketenangan setelah manusia melakukan usaha.
Bahkan, kajian Universitas Gadjah Mada menyebut nrimo sebagai bagian akhir dari proses kerja keras, bukan alasan untuk menghentikan usaha.
Baca juga: Nrimo ing Pandum: Rahasia Orang Jawa Hidup Tenang
Menyebut Stoikisme ala Jawa lebih tepat dipahami sebagai cara populer untuk membaca adanya sejumlah titik temu, bukan sebagai pernyataan bahwa kedua tradisi tersebut identik.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, mungkin ketenangan bukan sesuatu yang perlu dicari jauh-jauh. Sebagian jawabannya justru telah lama tersimpan dalam kearifan lokal Jawa yang diwariskan melalui kalimat-kalimat sederhana.






