Jatengkita.id – Bagi sebagian masyarakat Kaliwungu, Kabupaten Kendal, ada satu makanan yang keberadaannya terasa begitu istimewa ketika Ramadan semakin dekat. Namanya Telur Mimi.
Jangan membayangkan telur ayam atau telur bebek. Telur Mimi merupakan olahan yang berasal dari telur hewan laut yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai mimi.
Kuliner tradisional ini menjadi salah satu makanan khas Kendal yang keberadaannya lekat dengan tradisi masyarakat pesisir, khususnya di wilayah Kaliwungu.
Keunikan tersebut membuat Telur Mimi tidak sekadar dikenal sebagai makanan. Pada 2022, Telur Mimi Kendal ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia dengan SK Nomor 414/P/2022.
Dalam database resmi kebudayaan pemerintah, Telur Mimi Kendal tercatat dalam domain Pengetahuan dan Kebiasaan Perilaku Mengenai Alam dan Semesta.
Muncul Menjelang Ramadan
Salah satu hal yang membuat Telur Mimi berbeda dari kuliner khas lainnya adalah waktu kemunculannya. Makanan ini biasanya mudah dijumpai menjelang bulan Ramadan, terutama dalam tradisi Tukudher di Kaliwungu.
Tradisi tersebut menjadi semacam pesta jajanan rakyat yang ditunggu masyarakat. Berbagai makanan tradisional dijajakan. Telur Mimi termasuk salah satu yang banyak diburu warga.
Pada gelaran Tukudher, masyarakat datang untuk membeli berbagai makanan sebagai persiapan menyambut bulan puasa. Telur Mimi menjadi salah satu kuliner yang dicari karena kemunculannya memang tidak berlangsung sepanjang tahun.
Bagi masyarakat setempat, menyantap Telur Mimi menjelang Ramadan bahkan telah menjadi bagian dari kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
/xretkuvms1k3zyc.jpeg)
Diolah dengan Cara Tradisional
Telur Mimi tidak bisa begitu saja diolah seperti telur pada umumnya. Bahan makanan ini berasal dari hewan laut yang memiliki cangkang keras. Masyarakat kemudian mengolah bagian telur dan dagingnya dengan cara tertentu sebelum disajikan.
Dalam penyajiannya, telur mimi yang telah dimasak dikerok dari cangkangnya. Setelah itu, telur dicampur dengan parutan kelapa muda yang telah diberi bumbu dan rempah.
Perpaduan tersebut menghasilkan cita rasa gurih, pedas, dan khas. Cara pengolahan yang diwariskan di masyarakat inilah yang turut menjadi alasan Telur Mimi memiliki nilai budaya, bukan hanya nilai kuliner.
Dalam proses pengusulan sebagai WBTB, Pemerintah Kabupaten Kendal juga melakukan kajian terhadap keberadaan dan pengolahan makanan tersebut.
Pemerintah Kabupaten Kendal sebelumnya mengusulkan Telur Mimi setelah melakukan riset dan kajian mengenai budaya lokal. Pada awalnya, karya budaya tersebut diusulkan dalam kategori Pengetahuan Tradisional.
Baca juga: Indahnya Curug Lawe Secepit, Surga Tersembunyi di Kendal, Jawa Tengah
Dalam proses penilaian, kategorinya kemudian tercatat sebagai bagian dari domain pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta.
Salah satu pertimbangannya adalah adanya pengetahuan khusus masyarakat dalam mengolah bahan dari hewan mimi menjadi makanan yang dapat dikonsumsi.
Makanan tradisional juga dapat menjadi bagian dari identitas budaya suatu daerah ketika di dalamnya terdapat pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, serta hubungan yang kuat antara masyarakat dengan lingkungan tempat mereka hidup.
Selalu Diburu Saat Tukudher
Keberadaan Telur Mimi hingga kini masih dapat ditemukan dalam tradisi Tukudher. Penetapannya sebagai WBTB tidak serta-merta membuat Telur Mimi berhenti sebagai catatan budaya.
Kuliner tersebut masih hidup di tengah masyarakat dan hadir dalam momentum yang sama seperti yang telah dilakukan sejak dahulu.
Di situlah menariknya Telur Mimi. Nilai budayanya bukan hanya terletak pada statusnya sebagai warisan yang telah ditetapkan pemerintah, tetapi pada kenyataan bahwa masyarakat masih mengenal, mengolah, menjual, membeli, dan menyantapnya.
Warisan Kuliner dari Pesisir Kendal
Bagi Kendal, Telur Mimi menjadi salah satu gambaran bagaimana hubungan masyarakat dengan lingkungan pesisir dapat melahirkan tradisi kuliner yang khas.
Keberadaannya juga memperlihatkan bahwa makanan tradisional memiliki cerita yang lebih panjang daripada sekadar soal rasa.
Ada pengetahuan mengenai bahan, cara mengolah, kebiasaan masyarakat, hingga tradisi yang membuat makanan tersebut terus dicari pada waktu tertentu.






