Jatengkita.id – Tak banyak yang menyadari bahwa kawasan Candi Baru di Semarang bukan sekadar kawasan permukiman di dataran tinggi. Pada masa kolonial Belanda, wilayah ini dirancang sebagai kompleks hunian elit pertama di Semarang.
Kawasan ini mengusung konsep garden city atau kota taman, sebuah gagasan tata kota modern yang mengedepankan ruang hijau, udara sehat, dan lingkungan yang tertata.
Kehadiran Candi Baru menjadi jawaban atas persoalan kepadatan dan buruknya sanitasi di Kota Bawah, sekaligus menandai arah baru perkembangan Kota Semarang pada awal abad ke-20.
-
Kota Bawah yang Semakin Padat
Hingga akhir abad ke-19, pusat aktivitas pemerintahan, perdagangan, dan permukiman orang Eropa di Semarang masih terkonsentrasi di kawasan Kota Lama dan sekitarnya.
Seiring berkembangnya pelabuhan serta jalur kereta api, jumlah penduduk meningkat pesat. Dampaknya, kawasan kota bawah menjadi semakin padat.
Selain sesak, wilayah tersebut juga kerap dilanda banjir dan genangan air. Kondisi sanitasi yang buruk membuat berbagai penyakit mudah menyebar.
Lingkungan yang semakin tidak sehat mendorong pemerintah kolonial mencari lokasi permukiman baru yang memiliki udara lebih segar dan jauh dari kawasan rawa.
Pilihan kemudian jatuh pada daerah perbukitan di selatan Kota Semarang, yang saat itu masih didominasi lahan perkebunan dan hutan kecil.
- Lahirnya Kawasan Candi Baru
Pengembangan Candi Baru dimulai pada awal abad ke-20. Pemerintah kolonial menunjuk arsitek dan perencana kota ternama, Thomas Karsten, untuk merancang kawasan tersebut.
Karsten tidak sekadar membangun deretan rumah. Ia menerapkan konsep garden city yang saat itu mulai berkembang di Eropa. Gagasan ini menekankan keseimbangan antara bangunan, ruang terbuka hijau, serta jaringan jalan yang mengikuti kontur alam.
Berbeda dengan kawasan Kota Lama yang dipenuhi bangunan rapat, Candi Baru dirancang dengan jalan yang lebar, pepohonan rindang, taman, dan halaman rumah yang luas.
Tata ruang seperti ini membuat sirkulasi udara lebih baik sekaligus menciptakan lingkungan yang nyaman untuk ditinggali.
-
Mengusung Konsep Garden City
Konsep garden city pertama kali diperkenalkan oleh Ebenezer Howard di Inggris pada akhir abad ke-19. Tujuannya adalah menciptakan kota yang sehat dengan memadukan fungsi permukiman, ruang hijau, dan fasilitas publik secara seimbang.
Prinsip tersebut kemudian diterapkan di Candi Baru. Jalan-jalan dibuat melengkung mengikuti kondisi perbukitan sehingga tidak memerlukan banyak pemotongan lahan.
Pohon peneduh ditanam di sepanjang ruas jalan, sementara ruang terbuka dipertahankan agar kawasan tetap terasa sejuk.
Pendekatan ini membuat Candi Baru berbeda dibanding kawasan permukiman lain di Semarang pada masa itu. Tidak heran jika kawasan tersebut sering disebut sebagai salah satu contoh awal perencanaan kota modern di Indonesia.
-
Kawasan Hunian Kalangan Elit
Sejak awal pembangunannya, Candi Baru memang ditujukan sebagai kawasan hunian bagi masyarakat Eropa dan kalangan elit kolonial.
Banyak pejabat pemerintahan, pengusaha, hingga profesional memilih tinggal di kawasan ini karena lingkungannya lebih nyaman dibanding pusat kota.
Rumah-rumah yang dibangun juga memiliki karakter khas. Bangunannya berdiri di atas lahan luas dengan halaman depan dan belakang. Atap dibuat tinggi agar udara mengalir lancar, sedangkan jendela berukuran besar membantu pencahayaan alami masuk ke dalam rumah.
Desain seperti ini tidak hanya mencerminkan gaya arsitektur kolonial, tetapi juga menyesuaikan dengan iklim tropis di Indonesia.
-
Jejak Arsitektur yang Masih Bertahan
Meski Semarang terus berkembang, sejumlah bangunan peninggalan kolonial di kawasan Candi Baru masih dapat ditemukan hingga sekarang. Beberapa rumah masih mempertahankan bentuk asli dengan fasad khas, teras lebar, serta taman yang mengelilinginya.
Karakter jalan yang berkelok mengikuti kontur bukit juga tetap menjadi ciri khas kawasan ini. Pepohonan besar yang tumbuh di sepanjang jalan menghadirkan suasana teduh yang berbeda dibanding kawasan pusat kota.
Keberadaan bangunan-bangunan tersebut menjadi bukti bagaimana konsep tata kota yang dirancang lebih dari satu abad lalu masih dapat dikenali hingga saat ini.
-
Berkembang Menjadi Kawasan Pendidikan dan Layanan Publik
Seiring perjalanan waktu, fungsi Candi Baru tidak lagi terbatas sebagai kawasan permukiman elit. Berbagai institusi pendidikan, rumah sakit, perkantoran, hingga tempat ibadah mulai berkembang di kawasan ini.
Akses jalan yang semakin baik membuat Candi Baru menjadi salah satu kawasan strategis di Semarang. Meski aktivitas perkotaan semakin padat, karakter wilayah yang berada di dataran lebih tinggi masih menghadirkan udara yang relatif lebih sejuk dibanding kawasan pesisir.
Perubahan fungsi tersebut menunjukkan bahwa Candi Baru mampu beradaptasi dengan perkembangan kota tanpa sepenuhnya kehilangan identitas historisnya.
-
Warisan Perencanaan Kota Modern
Candi Baru bukan hanya menyimpan deretan bangunan tua. Tetapi juga menjadi saksi perubahan wajah Semarang dari kota pelabuhan yang padat menuju kota yang mulai menerapkan perencanaan modern.
Konsep garden city yang diterapkan di kawasan ini memperlihatkan bagaimana tata ruang, kesehatan lingkungan, dan kualitas hidup mulai menjadi perhatian dalam pembangunan kota pada masa kolonial.
Hingga kini, jejak perencanaan tersebut masih dapat dirasakan melalui tata jalan, ruang hijau, serta arsitektur bangunan yang menjadi identitas Candi Baru.
Nilai sejarah inilah yang membuat kawasan tersebut tetap penting sebagai bagian dari perkembangan Kota Semarang dan layak dikenal lebih luas oleh masyarakat.
