Jatengkita.id – Ada satu hal menarik dari sejarah Indonesia yang sering luput dari pembahasan. Perjuangan menuju kesadaran kebangsaan ternyata tidak hanya berlangsung melalui organisasi politik atau perlawanan terhadap kolonialisme.
Jauh sebelum Indonesia merdeka, perdebatan tentang budaya, pendidikan, identitas, dan masa depan masyarakat sudah menjadi bagian dari proses membangun kesadaran sebagai sebuah bangsa.
Salah satu momentum pentingnya terjadi di Surakarta pada 1918 melalui Kongres Kebudayaan Jawa. Forum tersebut mempertemukan kaum terpelajar bumiputra, tokoh kebudayaan, bangsawan, serta sejumlah intelektual Belanda untuk membicarakan arah perkembangan kebudayaan Jawa.
Lebih dari sekadar pertemuan membahas kesenian tradisional, kongres ini memperlihatkan bagaimana masyarakat pribumi mulai mempertanyakan posisi budaya sendiri di tengah derasnya pengaruh Barat.
Dari sinilah muncul gagasan bahwa kemajuan tidak harus berarti meninggalkan akar kebudayaan.
Kongres Kebudayaan Jawa 1918 Digelar di Surakarta
Kongres yang dikenal dengan nama Congres voor Javaansche Cultuur Ontwikkeling tersebut diselenggarakan di Surakarta pada 5 hingga 7 Juli 1918. Salah satu pusat kegiatan berada di lingkungan Kepatihan Surakarta.
Persiapannya sendiri tidak berlangsung sederhana karena sejak awal terdapat perbedaan pandangan mengenai cakupan pembahasan kongres.
Gagasan penyelenggaraan kongres datang dari beberapa kelompok dan tokoh dengan latar belakang berbeda. Salah satunya berkaitan dengan kalangan Teosofi yang sebelumnya mengusulkan pembahasan mengenai bahasa Jawa.
Di sisi lain, kaum terpelajar bumiputra, termasuk mereka yang berkaitan dengan Boedi Oetomo, mendorong pembahasan yang lebih luas mengenai perkembangan kebudayaan Jawa.
Perbedaan gagasan tersebut justru membuat forum berkembang menjadi ruang diskusi yang jauh lebih besar. Kongres akhirnya tidak hanya berbicara tentang pelestarian budaya, tetapi juga membahas bagaimana masyarakat Jawa dapat menghadapi perubahan zaman.
Ketika Identitas Budaya Dipertanyakan
Salah satu persoalan terbesar yang muncul dalam Kongres Kebudayaan Jawa 1918 adalah bagaimana masyarakat Jawa seharusnya menyikapi pengaruh peradaban Barat.
Pada awal abad ke-20, pendidikan dan ilmu pengetahuan Barat semakin memiliki pengaruh dalam kehidupan masyarakat Hindia Belanda. Bagi sebagian kalangan, penguasaan ilmu modern merupakan jalan menuju kemajuan.
Namun, muncul pula kekhawatiran bahwa proses tersebut dapat membuat masyarakat semakin jauh dari kebudayaan sendiri. Perdebatan inilah yang membuat kongres menjadi menarik.
Para peserta tidak sekadar mempertanyakan apakah budaya Jawa perlu dipertahankan, tetapi juga bagaimana kebudayaan tersebut dapat berkembang tanpa kehilangan identitas.
Dengan kata lain, persoalannya bukan memilih antara budaya Jawa atau modernitas, melainkan mencari cara agar keduanya dapat berjalan beriringan.
Kajian sejarah mengenai kongres tersebut menunjukkan bahwa salah satu pokok pembahasannya berkaitan dengan sejauh mana pendidikan Barat diperlukan bagi perkembangan masyarakat Jawa, metode pengetahuan Barat apa yang dapat digunakan, serta bagaimana kebudayaan yang hidup dalam masyarakat dapat menjadi landasan pendidikan. Gagasan seperti ini terasa cukup maju jika melihat konteks zamannya.
Hoesein Djajadiningrat dan Perdebatan tentang Arti Budaya
Salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam dinamika kongres adalah Hoesein Djajadiningrat. Ia mendorong agar pembahasan tidak dibuat terlalu sempit hanya pada persoalan kebudayaan Jawa.
Menurut catatan sejarah, keterlibatan Hoesein turut membuat peserta kongres berasal dari latar belakang etnis yang lebih beragam.
Sementara itu, Pangeran Prangwadono, yang kelak dikenal sebagai Mangkunegara VII, mendorong agar tema kongres diarahkan pada bagaimana kebudayaan Jawa dapat dikembangkan.
Kompromi dari berbagai pandangan tersebut kemudian melahirkan cakupan diskusi yang lebih luas.
Perdebatan juga melibatkan sejumlah intelektual dengan pandangan berbeda. Nama seperti Soetatmo Soerjokoesoemo, Tjipto Mangoenkoesoemo, Radjiman Wedyodiningrat, Z. Stokvis, hingga tokoh intelektual lainnya tercatat ikut menyuarakan gagasan mengenai kebudayaan Jawa dan arah perkembangannya.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa kongres bukan forum seremonial. Ada perdebatan intelektual yang serius mengenai identitas, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan masa depan masyarakat.
Pendidikan Jadi Kunci Masa Depan Budaya Jawa
Salah satu gagasan menarik dari Kongres Kebudayaan Jawa 1918 adalah perhatian besar terhadap pendidikan.
Para peserta menyadari bahwa mempertahankan budaya tidak cukup hanya dengan menyimpan peninggalan masa lalu. Kebudayaan perlu dipahami, dipelajari, dan diwariskan melalui pendidikan.
Dalam pembahasan kongres, muncul gagasan bahwa pendidikan bagi masyarakat Jawa perlu memiliki hubungan dengan lingkungan, bahasa, serta sejarah mereka sendiri. Namun, hal tersebut bukan berarti menutup diri dari ilmu pengetahuan Barat.
Justru terdapat gagasan mengenai perpaduan antara pengetahuan modern dan kebijaksanaan lokal. Ilmu dan teknologi dari Barat dapat dipelajari, sementara nilai serta identitas budaya tetap menjadi fondasi masyarakat.
Pandangan tersebut memperlihatkan adanya kesadaran bahwa modernisasi tidak harus identik dengan westernisasi.
Masyarakat dapat mengambil pengetahuan baru tanpa harus kehilangan jati diri.
Dari Kongres Menuju Java Instituut
Pemikiran yang muncul dalam kongres tidak berhenti setelah pertemuan selesai. Salah satu hasil pentingnya adalah munculnya gagasan untuk membentuk lembaga yang secara khusus mempelajari dan mengembangkan kebudayaan.
Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui pendirian Java Instituut pada 1919. Lembaga ini secara resmi bertujuan memajukan kebudayaan Jawa, Sunda, Madura, dan Bali.
Java Instituut menjadi bukti bahwa diskusi kebudayaan mulai bergerak dari sekadar wacana menuju kegiatan penelitian dan dokumentasi yang lebih terorganisasi.
Perkembangan tersebut penting karena memperlihatkan perubahan cara masyarakat memandang kebudayaan.
Budaya tidak hanya dianggap sebagai warisan yang dinikmati, tetapi juga sebagai sesuatu yang perlu diteliti, dicatat, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dengan demikian, Kongres Kebudayaan Jawa 1918 dapat dilihat sebagai salah satu titik awal berkembangnya pemikiran kelembagaan mengenai kebudayaan di Indonesia.
Nasionalisme Tidak Selalu Berawal dari Politik
Hal paling menarik dari kongres ini justru terletak pada hubungannya dengan perkembangan nasionalisme Indonesia.
Pada masa tersebut, gagasan mengenai bangsa Indonesia memang belum mengambil bentuk seperti setelah kemerdekaan.
Namun, diskusi mengenai siapa diri masyarakat pribumi, bagaimana mereka harus memperoleh pendidikan, bagaimana kebudayaan dipertahankan, serta bagaimana menghadapi pengaruh asing menunjukkan tumbuhnya kesadaran baru.
Kesadaran tersebut menjadi bagian dari proses intelektual yang lebih panjang menuju nasionalisme.
Kongres ini juga memperlihatkan bahwa identitas tidak selalu dibangun melalui politik. Bahasa, pendidikan, sejarah, kesenian, dan kebudayaan juga menjadi ruang untuk mengenali diri sendiri.
Karena itu, membicarakan sejarah budaya Jawa pada 1918 sebenarnya juga berarti membicarakan salah satu bagian dari perjalanan munculnya kesadaran kebangsaan.
Mengapa Kongres 1918 Masih Relevan Sekarang?
Lebih dari satu abad berlalu, pertanyaan yang muncul dalam kongres tersebut masih terasa dekat dengan kehidupan hari ini.
Bagaimana menjaga budaya lokal ketika teknologi dan budaya global berkembang begitu cepat? Apakah melestarikan tradisi berarti harus menolak perubahan? Dan bagaimana generasi muda dapat memanfaatkan pengetahuan modern tanpa kehilangan akar budaya?
Kongres Kebudayaan Jawa 1918 memberikan salah satu perspektif menarik: kemajuan dan kebudayaan tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang bertentangan.
Justru, pengetahuan baru dapat digunakan untuk memperkuat kebudayaan sendiri. Prinsip itulah yang membuat warisan pemikiran dari Surakarta pada 1918 tetap menarik untuk dibaca kembali.
Pada akhirnya, kongres tersebut bukan hanya cerita tentang pertemuan para tokoh di Solo lebih dari seratus tahun lalu. Ia merupakan gambaran tentang masyarakat yang mulai berani bertanya mengenai masa depan mereka sendiri.
Dan mungkin, di situlah letak warisan terbesarnya. Menjadi modern tidak harus berarti melupakan asal-usul. Sebaliknya, mengenal akar budaya dapat menjadi bekal untuk menentukan ke mana sebuah masyarakat ingin melangkah.
