Salatiga — Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah, Hj. Ida Nurul Farida, M.Pd., menegaskan pentingnya pendidikan politik bagi perempuan sebagai bekal untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan. Hal tersebut disampaikan saat dirinya menjadi narasumber utama dalam kegiatan Sosialisasi Pendidikan Politik Bagi Perempuan yang diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Salatiga di Bale Uti Cebongan, Salatiga, Kamis (22/10/2026).
Kegiatan tersebut diikuti puluhan peserta yang terdiri dari pengurus dan anggota Tim Penggerak PKK se-Kota Salatiga. Hadir pula Ketua TP PKK Kota Salatiga Hj. Retno Robby (Istri Walikota Salatiga), Kepala Bakesbangpol Kota Salatiga Sri Sarwanti, S.H., M.Si., serta Kepala Bidang Politik Dalam Negeri (Poldagri) Bakesbangpol Kota Salatiga Sri Rachmini Boganiwati, S.E., M.Acc.
Dalam pemaparannya yang mengangkat tema “Perempuan Cerdas Berpolitik, Harmoni dalam Peran, Berintegritas dalam Kepemimpinan”, Ida Nurul Farida menyoroti besarnya peran perempuan dalam pembangunan bangsa. Mengutip data kependudukan Kemendagri pertengahan 2026, jumlah perempuan di Indonesia mencapai lebih dari 143,7 juta jiwa atau hampir separuh dari total populasi.
“Jumlah yang besar ini menunjukkan bahwa perempuan bukan sekadar objek kebijakan, melainkan subjek utama yang berhak ikut menentukan arah pembangunan. Pendidikan politik menjadi modal penting agar perempuan memahami hak, kewajiban, serta cara menyuarakan aspirasi demi kesejahteraan keluarga dan masyarakat,” tegas Ida Nurul Farida di hadapan para kader PKK.
Partisipasi Politik Perempuan Tak Terbatas pada Jabatan Formal
Lebih lanjut, legislator Jawa Tengah dari Komisi E ini menguraikan bahwa partisipasi politik perempuan tidak selalu diartikan dengan menduduki jabatan politik formal. Kiprah aktif di lingkungan seperti penggerak Posyandu, kegiatan PKK, hingga keterlibatan dalam musyawarah pembangunan daerah (Musrenbang) merupakan bentuk nyata kepemimpinan publik perempuan.
Ida juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara tanggung jawab domestik dan peran sosial perempuan di tengah masyarakat. Menurutnya, keluarga tetap menjadi fondasi utama dalam menjalankan kepemimpinan dan pengabdian publik.
“Keluarga adalah fondasi kepemimpinan utama. Keseimbangan bukan berarti harus memilih antara keluarga dan pengabdian, melainkan menyelaraskan keduanya dengan komunikasi yang baik, kejelasan prioritas, serta dukungan penuh dari pasangan dan keluarga,” jelasnya.
Perempuan Didorong Bijak Bermedia Sosial dan Menolak Politik Uang
Dalam menghadapi perkembangan digitalisasi dan dinamika sosial politik, Ida turut menyoroti pentingnya kecerdasan bermedia sosial bagi para ibu. Perempuan diharapkan menjadi benteng keluarga dalam menyaring berita bohong (hoaks), menghindari ujaran kebencian, serta mendidik anak-anak agar bijak memanfaatkan teknologi digital.
Pada akhir sesi, Ida mengajak seluruh anggota PKK Kota Salatiga untuk membawa pulang tiga komitmen utama, yakni menjadi perempuan yang Cerdas, Berintegritas, dan Berdaya.
Cerdas berarti memahami hak dan kebijakan. Berintegritas diwujudkan melalui sikap santun, menolak politik uang, dan menjaga persatuan. Sementara itu, Berdaya berarti berani menyampaikan aspirasi dan mengawal pembangunan.
“Perempuan berdaya akan membawa ketahanan pada keluarga, dan keluarga yang kuat akan melahirkan masyarakat serta negara yang sejahtera,” pungkasnya.
