Jatengkita.id – Kemarau panjang membuat tanah di kawasan Gemawang, Temanggung, Jawa Tengah, semakin kering. Selama sekitar empat setengah bulan, hujan belum juga turun.
Cuaca yang sangat panas mulai memberikan dampak terhadap tanaman, termasuk pohon kopi yang mengering hingga mati.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat kembali menjalankan sebuah tradisi yang hanya dilakukan ketika kemarau berlangsung panjang.
Puluhan warga berkumpul di kawasan petilasan Bon Gedhe untuk mengikuti Perang Cendol Dawet, sebuah tradisi yang digelar sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan.
Sebelum tradisi dimulai, warga terlebih dahulu melaksanakan salat Istisqa. Setelah itu, doa bersama dilakukan sebagai bagian penting dari rangkaian ritual.
Barulah setelah rangkaian doa selesai, suasana berubah menjadi meriah. Warga saling menyiram menggunakan dawet dan cendol yang telah dibawa dari rumah masing-masing.
Dawet dan cendol yang biasanya disajikan sebagai minuman pelepas dahaga, dalam tradisi ini justru menjadi “amunisi”. Cairan minuman membasahi pakaian warga, sementara butiran cendol berjatuhan di sekitar lokasi.
Di balik kemeriahannya, Perang Cendol Dawet menyimpan harapan sederhana. Masyarakat ingin hujan segera turun sehingga kekeringan yang berlangsung cukup lama dapat berakhir.
Tradisi yang Digelar Saat Kemarau Parah
Perang Cendol Dawet bukan tradisi yang dilaksanakan setiap tahun. Pelaksanaannya bergantung pada kondisi kemarau yang terjadi di wilayah tersebut.
Ketika musim kering berlangsung normal, tradisi ini tidak dilakukan. Sebaliknya, ketika kemarau menjadi lebih panjang dan mulai berdampak terhadap kehidupan masyarakat, warga kembali menjalankan ritual tersebut.
Tradisi serupa pernah dilakukan pada 1999 dan 2023 ketika wilayah tersebut mengalami kemarau parah.

Pelaksanaan yang relatif jarang membuat Perang Cendol Dawet menjadi salah satu tradisi yang kembali diingat ketika kekeringan melanda. Warga berkumpul, membawa dawet dan cendol dari rumah, kemudian mengikuti seluruh rangkaian ritual bersama-sama.
Pemilihan dawet dan cendol sebagai bagian utama tradisi tersebut juga bukan sesuatu yang baru. Penggunaannya sebagai “amunisi” telah diwariskan secara turun-temurun.
Meski disebut perang, kegiatan tersebut tidak mengandung pertikaian. Saling siram dilakukan dalam suasana meriah sebagai bagian dari ritual dan simbol kebersamaan masyarakat.
Tradisi ini memperlihatkan pertemuan antara kebudayaan lokal dan kehidupan keagamaan masyarakat. Salat Istisqa dan doa bersama menjadi bagian awal, sedangkan Perang Cendol Dawet menjadi rangkaian budaya yang mengiringinya.
Dari Doa Bersama hingga Saling Siram
Rangkaian Perang Cendol Dawet dimulai dengan kegiatan keagamaan. Warga terlebih dahulu melaksanakan salat Istisqa untuk memohon turunnya hujan.
Setelah itu, doa bersama dilakukan. Warga berkumpul untuk menyampaikan harapan agar hujan segera turun dan kondisi kekeringan tidak semakin parah.
Usai doa, warga kemudian melakukan tradisi saling siram. Dawet dan cendol yang telah disiapkan dari rumah dibawa ke lokasi untuk digunakan dalam ritual tersebut.
Berbagai warna cendol dan dawet membuat suasana semakin semarak. Warga saling menyiram hingga pakaian mereka basah oleh cairan minuman.
Tradisi berlangsung dalam suasana penuh kegembiraan. Warga yang mengikuti kegiatan tersebut kemudian berjalan pulang setelah seluruh rangkaian selesai.
Namun, kemeriahan itu tidak menghilangkan persoalan yang menjadi latar belakang pelaksanaan tradisi. Kekeringan masih menjadi kenyataan yang dihadapi masyarakat. Selama berbulan-bulan tanpa hujan, kondisi tanaman semakin mengkhawatirkan.
Pohon kopi yang menjadi salah satu tanaman masyarakat bahkan mulai mengering dan mati akibat cuaca yang sangat panas.
Karena itu, Perang Cendol Dawet bukan sekadar tradisi yang menghadirkan keramaian. Di dalamnya terdapat doa dan harapan masyarakat yang sedang menunggu datangnya hujan.
Bagi masyarakat setempat, tradisi tersebut menjadi cara untuk menjaga warisan budaya sekaligus menguatkan kebersamaan ketika menghadapi kemarau panjang.
Ketika cendol dan dawet digunakan sebagai “amunisi”, yang sebenarnya sedang dipertaruhkan bukan kemenangan dalam sebuah perang. Masyarakat hanya berharap satu hal: langit kembali menurunkan hujan, tanah kembali basah, dan tanaman yang mengering dapat kembali hidup.






