Wonosobo – Musim kemarau tahun ini membawa berkah tersendiri bagi para petani tembakau di Kabupaten Wonosobo. Cuaca yang mendukung membuat kualitas panen meningkat tajam. Merespons kondisi positif ini, Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah, Amir Masduki, turun langsung ke Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, untuk melihat hasil panen sekaligus mendengar aspirasi warga.
Dalam kunjungan kerjanya, politikus Fraksi PKS ini berdialog santai dengan Sukirno Kusumo, tokoh petani setempat sekaligus pengurus Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI). Kepada Amir, Sukirno bercerita banyak soal suka duka mengolah lahan hingga akhirnya bisa menikmati hasil panen yang maksimal.
Ia menyebutkan, minimnya curah hujan pada masa panen membuat kualitas daun tembakau sangat prima. Kondisi ini secara otomatis mendongkrak harga jual di tingkat pabrikan.
“Tahun ini kami para petani sangat bersyukur atas nikmat Allah. Kualitas tembakau sangat bagus, dan harganya juga naik signifikan dibandingkan tahun lalu. Sekarang harganya berkisar Rp70.000 hingga Rp75.000 per kilogram,” ungkap pria yang akrab disapa Sukir tersebut.
Kenaikan harga ini menjadi kabar baik, mengingat Wonosobo merupakan salah satu sentra utama penghasil tembakau di Jawa Tengah. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), Jawa Tengah secara konsisten menjadi salah satu lumbung tembakau terbesar di Indonesia, menyumbang lebih dari 20 persen total produksi nasional.
Sebagai anggota dewan yang membidangi urusan perekonomian dan pertanian, Amir Masduki mengapresiasi ketangguhan para petani yang terus menjadi penggerak ekonomi daerah. Meski demikian, ia mengingatkan agar kesejahteraan petani tidak boleh dibiarkan hanya bergantung pada faktor alam semata. Pemerintah harus hadir memberikan jaminan jangka panjang.
Amir secara khusus menyoroti pentingnya penyaluran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang tepat sasaran. Ia menilai, dana triliunan rupiah yang disumbang dari sektor ini harus dikembalikan secara proporsional untuk menuntaskan masalah-masalah dasar petani di lapangan.
“Kesejahteraan petani tembakau jangan sampai cuma untung-untungan karena cuaca sedang bagus. Sebagai representasi masyarakat di Komisi B, saya akan memastikan DBHCHT ini benar-benar dirasakan oleh petani. Dana cukai tersebut harus dialokasikan secara nyata untuk subsidi pupuk khusus tembakau, bantuan alat pertanian pascapanen, dan perlindungan harga saat pasar sedang jatuh,” tegas Amir.
Ia juga menegaskan komitmennya untuk terus mengawal tata niaga tembakau lokal agar tidak kalah saing dengan gempuran tembakau impor yang kerap merugikan petani daerah.
Rangkaian kunjungan tersebut berlangsung hangat. Setelah berdiskusi, Amir menyempatkan diri berjalan bersama warga meninjau langsung lokasi penjemuran tembakau rajangan yang tengah dipersiapkan untuk dikirim ke pasar luas.
