Reses di Tiga Kecamatan Semarang, Muhammad Afif Soroti Masalah Jalan, Banjir Genuk, hingga Tawuran Remaja

Semarang — Anggota Komisi C DPRD Provinsi Jawa Tengah, Muhammad Afif, menggelar reses di tiga wilayah—Kecamatan Semarang Utara, Genuk, dan Mijen—pada Kamis (15/10). Dialog tersebut menampung sejumlah keluhan utama warga, di antaranya kerusakan infrastruktur jalan, minimnya Penerangan Jalan Umum (PJU), ancaman banjir jelang musim hujan, serta maraknya tawuran remaja.

Dalam kunjungan lapangan tersebut, Afif mencatat perlunya penanganan cepat dari pemerintah daerah guna meminimalisasi potensi bahaya keselamatan serta gangguan roda perekonomian warga.

Perbaikan Infrastruktur dan Fasilitas Publik yang Belum Tuntas

Di wilayah Semarang Utara dan Mijen, keluhan utama yang mengemuka berkaitan erat dengan kualitas infrastruktur jalan serta fasilitas umum. Warga melaporkan banyaknya ruas jalan lingkungan maupun jalan penghubung yang mengalami kerusakan dan berlubang, yang berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Selain itu, warga menyoroti proyek revitalisasi fasilitas publik, seperti perbaikan sebagian fasilitas lapangan olahraga di wilayah setempat yang hingga kini belum direalisasikan secara menyeluruh. Keterlambatan penyelesaian fasilitas publik ini dinilai menghambat ruang interaksi sosial dan kegiatan positif masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Muhammad Afif menegaskan bahwa fungsi pengawasan dan penganggaran di legislatif akan dioptimalkan untuk mendorong percepatan perbaikan infrastruktur.

“Infrastruktur dasar seperti jalan dan fasilitas umum adalah hak publik yang harus dipenuhi secara layak. Kami di DPRD Jateng akan mengawal aspirasi ini agar masuk dalam prioritas alokasi anggaran, sehingga keluhan warga di Semarang Utara dan Mijen mendapatkan solusi konkret dalam waktu dekat,” ujar Afif.

Mitigasi Banjir dan Genangan di Genuk Menjelang Musim Hujan

Persoalan di kawasan pesisir dan dataran rendah, khususnya Kecamatan Genuk, kembali menjadi perhatian utama. Warga mendesak adanya langkah antisipasi terukur menghadapi datangnya musim hujan untuk meminimalisasi risiko banjir dan genangan air.

Permasalahan di Genuk makin kompleks akibat kombinasi antara sedimentasi yang menyebabkan saluran mampet, fenomena penurunan muka tanah (land subsidence), serta sistem drainase yang belum terintegrasi secara optimal. Genangan air yang kerap merendam permukiman merusak fasilitas warga sekaligus mengganggu aktivitas ekonomi lokal.

Afif menekankan pentingnya sinergi lintas sektoral antara pemerintah provinsi dan pemerintah kota untuk memperkuat infrastruktur pengendali banjir di kawasan Genuk sebelum puncak musim penghujan tiba.

“Kawasan Genuk memerlukan penanganan yang komprehensif dan berkelanjutan. Normalisasi saluran air, pembersihan drainase secara berkala, serta penguatan sistem pompa air harus segera dieksekusi agar warga tidak lagi dihantui kecemasan setiap kali musim hujan tiba,” tegasnya.

Kebutuhan Pemerataan Penerangan Jalan Umum (PJU)

Isu keamanan lingkungan turut menjadi poin penting yang disampaikan oleh para konstituen. Banyak laporan diterima terkait belum meratanya fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU). Sejumlah titik di kawasan permukiman warga dilaporkan minim cahaya atau mengalami kerusakan lampu PJU dalam jangka waktu lama tanpa perbaikan.

Kondisi jalan yang gelap pada malam hari tidak hanya memicu kekhawatiran terhadap potensi tindak kejahatan jalanan, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas bagi pengendara roda dua maupun pejalan kaki. Afif berjanji meneruskan laporan tersebut kepada Dinas Perhubungan dan instansi terkait agar segera dilakukan pendataan dan perbaikan lampu penerangan secara masif.

Respons Tegas terhadap Maraknya Tawuran Remaja

Selain isu fisik dan lingkungan, dialog dalam reses tersebut diwarnai keresahan masyarakat terhadap maraknya kenakalan remaja. Insiden tawuran antarpelajar yang belum lama ini terjadi di kawasan Banyumanik hingga merenggut nyawa korban jiwa menjadi perhatian serius seluruh pihak.

Warga mendesak penegak hukum dan pemerintah mengambil tindakan tegas yang memberikan efek jera secara hukum, sekaligus memperkuat program pencegahan melalui pendekatan sosial dan pendidikan karakter.

Sebagai representasi lembaga legislatif, Afif menyayangkan aksi kekerasan antar-remaja yang berujung pada jatuhnya korban jiwa. Ia menilai penegakan hukum yang transparan mutlak diperlukan untuk menghentikan siklus kekerasan serupa.

“Kasus tewasnya remaja akibat tawuran di Banyumanik beberapa waktu lalu harus menjadi titik balik bagi kita semua. Penegakan hukum yang tegas dan menjerakan wajib ditegakkan. Namun, di sisi lain, pencegahan dari hulu juga penting—mulai dari pengawasan keluarga, keaktifan lembaga pendidikan, hingga pembinaan ruang-ruang positif bagi anak muda agar energi mereka tersalurkan secara tepat,” pungkas Afif.

Exit mobile version