Jatengkita.id – Di tengah kehidupan modern, sebagian masyarakat Jawa masih mempertahankan tradisi puasa weton, yakni berpuasa berdasarkan hari kelahiran dalam penanggalan Jawa.
Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini dipercaya menjadi sarana introspeksi diri dan pengendalian diri. Namun, di balik makna budayanya, puasa weton juga menarik ditinjau dari sisi medis, terutama terkait dampak pembatasan makan dan minum terhadap kesehatan tubuh.
Bagi sebagian masyarakat, tujuan puasa weton ini beragam, mulai dari introspeksi diri, ungkapan syukur, hingga menjalankan kebiasaan yang diwariskan keluarga. Namun, tata cara pelaksanaannya berbeda-beda sesuai tradisi dan keyakinan masing-masing.
Bagian dari Warisan Budaya Jawa
Puasa weton merupakan bagian dari praktik budaya yang memperlihatkan hubungan masyarakat Jawa dengan sistem penanggalan tradisional.
Baca juga: Puasa Mutih: Makna, Tata Cara, Manfaat, dan Risiko
Tradisi ini diwariskan melalui lingkungan keluarga dan masyarakat, sehingga pelaksanaannya dapat berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya.
Sebagian pelaku memaknai puasa weton sebagai sarana melatih kesabaran, mengendalikan keinginan, serta mendekatkan diri kepada Tuhan. Ada pula yang menjalankannya sebagai bentuk penghormatan terhadap kebiasaan leluhur.
Meski demikian, kepercayaan mengenai keberuntungan, keselamatan, atau perubahan nasib yang dikaitkan dengan weton merupakan bagian dari keyakinan budaya dan spiritual. Klaim tersebut tidak dapat dianggap sebagai fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.
Keberadaan tradisi ini menunjukkan bahwa praktik budaya tidak hanya berkaitan dengan ritual, tetapi juga dengan nilai-nilai yang diyakini dan diwariskan antargenerasi.
Dampak Puasa terhadap Kesehatan
Dari sudut pandang medis, dampak puasa weton terhadap tubuh bergantung pada durasi puasa, pola konsumsi makanan, kecukupan cairan, serta kondisi kesehatan orang yang menjalankannya.
Tidak ada bukti ilmiah yang cukup untuk menyatakan bahwa puasa berdasarkan weton memiliki manfaat kesehatan khusus dibandingkan pola puasa lainnya.
Sejumlah penelitian mengenai intermittent fasting atau puasa berselang menunjukkan bahwa pengaturan waktu makan dapat membantu pengelolaan berat badan dan memperbaiki beberapa indikator metabolik pada sebagian orang.
Namun, hasilnya bervariasi dan tidak berarti semua bentuk puasa memberikan manfaat yang sama.
Sebaliknya, pembatasan makanan dan minuman juga berpotensi menimbulkan rasa lapar, sakit kepala, lemas, sulit berkonsentrasi, serta dehidrasi. Risiko dapat meningkat apabila puasa dilakukan dalam waktu panjang, aktivitas fisik tetap berat, atau asupan cairan tidak mencukupi.
Karena itu, manfaat maupun risiko puasa tidak dapat ditentukan hanya dari nama atau tujuan ritualnya. Pola pelaksanaan dan kondisi tubuh menjadi faktor penting dalam menilai dampaknya terhadap kesehatan.
Kelompok Rentan Perlu Memperhatikan Kondisi Tubuh
Orang dengan diabetes, penyakit ginjal, dan penyakit kronis tertentu perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menjalankan puasa yang membatasi makan dan minum.
Baca juga: Menyelami Deretan Menu Bancakan Weton dan Filosofinya
Pada penderita diabetes, perubahan pola makan dapat memengaruhi kadar gula darah, khususnya bagi mereka yang menggunakan obat penurun gula darah.
Ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, lansia yang rentan, serta orang dengan riwayat gangguan makan juga perlu mempertimbangkan kondisi kesehatannya sebelum menjalankan puasa secara ketat.
Jika selama berpuasa muncul gejala seperti pusing berat, gemetar, kebingungan, lemas berlebihan, atau tanda dehidrasi, keselamatan perlu menjadi prioritas. Puasa sebaiknya dihentikan apabila muncul tanda bahaya dan bantuan medis dicari sesuai kebutuhan.
Bagi masyarakat yang ingin mempertahankan tradisi puasa weton, pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan kondisi fisik dan saran tenaga kesehatan. Dengan demikian, tradisi tetap dapat dijalankan tanpa mengabaikan risiko yang mungkin muncul.
