Saat Prabowo Kritik Pakar, Serat Wulangreh Ingatkan Pentingnya Etika Berilmu

Saat Prabowo Kritik Pakar, Serat Wulangreh Ingatkan Pentingnya Etika Berilmu
(Gambar: nawaksara.id)

Jatengkita.id – Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) pada 18 September 2026 memunculkan perdebatan. Pasalnya, ia menggunakan istilah “g.b..k” ketika menyinggung para pakar yang mengkritik pemerintah.

Dalam pidato tersebut, Prabowo mengatakan dirinya tidak mempersoalkan kritik, tetapi keberatan apabila kritik yang disampaikan menurutnya telah berubah menjadi fitnah.

Ia juga berbicara mengenai cita-cita membangun Indonesia yang sejahtera, termasuk memastikan anak-anak dapat bersekolah tanpa kondisi kelaparan dan memperoleh gizi yang layak.

BBC News Indonesia kemudian mengangkat persoalan tersebut dari sisi komunikasi kekuasaan dan respons terhadap kritik. Salah satu pandangan yang dikutip berasal dari Nicky Fahrizal dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

Ia menilai penggunaan istilah tersebut bermasalah terhadap ruang perbedaan pandangan. Itu merupakan penilaian narasumber yang dikutip BBC, bukan fakta yang berdiri sendiri.

Perdebatan ini menarik jika dibawa ke wilayah yang lebih mendasar: pendidikan seperti apa yang sebenarnya hendak dibangun?

Jauh sebelum istilah pendidikan modern seperti literasi, karakter, kompetensi, maupun berpikir kritis digunakan, masyarakat Jawa telah memiliki tradisi pemikiran pendidikan melalui karya sastra piwulang. Salah satunya adalah Serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV.

Di dalamnya, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memperoleh pengetahuan. Ada tuntutan agar ilmu membentuk moral, etika, pengendalian diri, serta perilaku manusia.

Serat Wulangreh, Pendidikan yang Tidak Berhenti pada Ilmu

Serat Wulangreh merupakan karya sastra Jawa berbentuk tembang macapat yang ditulis oleh Pakubuwana IV, raja Kasunanan Surakarta yang memerintah pada 1788–1820.

Karya tersebut dikenal sebagai salah satu sumber piwulang atau tuntunan moral dan kehidupan dalam tradisi Jawa.

Dalam kajian terbaru mengenai Serat Wulangreh, karya tersebut disebut memuat nilai moral, etika, spiritualitas, pengendalian diri, kerendahan hati, pentingnya ilmu, serta pemilihan teladan yang baik.

Baca juga: Lagi Viral, Londo Ireng Artinya Apa?

Artinya, ada gagasan penting yang bisa dibaca dari Wulangreh: orang berilmu belum selesai hanya karena telah memiliki pengetahuan. Ilmu harus memengaruhi cara seseorang bersikap.

Hal tersebut juga terlihat dalam materi Wulangreh Tresna Budaya yang menempatkan Serat Wulangreh sebagai media pengajaran Tridaya, yaitu tiga kekuatan potensial manusia: cipta, rasa, dan karsa.

Cipta berkaitan dengan kekuatan berpikir. Rasa berkaitan dengan kemampuan hati dalam menanggapi sesuatu. Sedangkan karsa merupakan dorongan atau kehendak untuk melakukan sesuatu.

Konsep inilah yang dapat menjadi pintu masuk untuk membaca kembali persoalan pendidikan hari ini.

  • Cipta: Pendidikan Harus Membentuk Nalar

Unsur pertama adalah cipta, yaitu daya pikir atau kemampuan manusia menggunakan nalar.

Dalam konteks pendidikan, cipta berarti kemampuan memahami informasi dan mencari ilmu. Juga berarti mempertimbangkan sesuatu secara rasional serta membedakan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan dengan klaim yang tidak memiliki dasar.

Serat Wulangreh memberi perhatian besar terhadap persoalan ilmu. Dalam Pupuh Dhandhanggula, misalnya, terdapat ajaran mengenai pentingnya menuntut ilmu dan memilih guru yang tepat.

Kajian Jurnal Ilmu Dakwah 2026 juga menunjukkan bahwa pupuh tersebut mengajarkan agar ilmu diterima dengan landasan yang benar dan disampaikan dengan kebijaksanaan.

Dengan perspektif ini, pendidikan tidak semestinya hanya membuat seseorang pandai berbicara, tetapi juga mampu berpikir sebelum berbicara.

Cipta menjadi fondasi bagi budaya akademik. Sebut saja menguji data, memeriksa argumen, menerima koreksi, dan mempertanggungjawabkan pendapat.

  • Rasa: Kepandaian Membutuhkan Pengendalian Diri

Namun, nalar saja tidak cukup. Unsur kedua dalam Tridaya adalah rasa. Dalam pembacaan terhadap Wulangreh, rasa berkaitan dengan kepekaan batin, moral, empati, dan kemampuan mengendalikan diri.

Pupuh Asmarandana dalam Wulangreh, misalnya, menekankan pengendalian diri dan kerendahan hati. Sementara Pupuh Gambuh mengangkat kejujuran serta pentingnya memilih teladan yang baik.

Di sinilah pendidikan mendapatkan dimensi etis. Seseorang boleh memiliki pengetahuan tinggi. Namun, pengetahuan itu idealnya berjalan bersama kemampuan mengendalikan emosi dan menghargai manusia lain.

Dalam konteks perdebatan mengenai pidato Prabowo, persoalannya bukan sekadar apakah seorang pemimpin boleh membantah kritik. Tentu pemerintah dapat membantah kritik, menunjukkan data yang berbeda, atau menyatakan bahwa suatu analisis keliru.

Yang menjadi bahan perdebatan adalah cara menyampaikan bantahan tersebut. BBC mencatat bahwa penggunaan istilah “g.b..k” terhadap pihak yang dikategorikan sebagai pakar menuai kritik dari sejumlah pihak.

Jika pendidikan juga bertujuan membangun karakter, maka konsep rasa dalam Wulangreh memberi pengingat bahwa kecakapan berpikir idealnya disertai pengendalian diri dan unggah-ungguh.

(Gambar: bbc.com)
  • Karsa: Ilmu Harus Berujung pada Tindakan

Unsur ketiga adalah karsa, yaitu kehendak atau dorongan untuk melakukan sesuatu. Dalam materi Wulangreh Tresna Budaya, cipta, rasa, dan karsa tidak berhenti sebagai potensi batin. Ketiganya harus diwujudkan melalui karya atau tindakan.

Pendidikan dianggap berhasil ketika manusia mampu menggunakan potensinya untuk berkarya, berkontribusi kepada sesama, lingkungan, bangsa, dan Tuhan.

Ini membuat konsep pendidikan dalam Wulangreh menjadi lebih luas. Cipta membuat manusia mampu berpikir. Rasa membuat manusia mampu mempertimbangkan nilai dan dampak tindakannya. Karsa mendorong manusia mengubah pemikiran tersebut menjadi tindakan.

Ketiganya perlu berjalan bersama. Sebab orang yang hanya memiliki cipta bisa saja pintar tetapi tidak memiliki kepekaan. Orang yang hanya memiliki rasa mungkin memiliki empati tetapi kesulitan mengambil keputusan.

Sementara karsa tanpa pertimbangan cipta dan rasa dapat berubah menjadi tindakan yang tergesa-gesa.

Karena itu, pendidikan idealnya bukan sekadar menghasilkan manusia yang tahu, tetapi manusia yang tahu, merasa, lalu mampu bertindak dengan tepat.

Dari Kritik terhadap Pakar hingga Etika Berpendidikan

Di sinilah relevansi Serat Wulangreh terhadap polemik pidato Prabowo menjadi menarik.

Perdebatan mengenai kritik pemerintah seharusnya tidak hanya dilihat sebagai pertarungan antara pemerintah versus pakar. Ada persoalan yang lebih besar tentang bagaimana sebuah masyarakat memperlakukan ilmu dan perbedaan pendapat.

Pemerintah membutuhkan kritik untuk menguji kebijakan. Pakar membutuhkan tanggung jawab ilmiah ketika menyampaikan analisis. Masyarakat membutuhkan kemampuan berpikir kritis untuk menilai keduanya.

Wulangreh sendiri tidak mengajarkan bahwa semua orang yang mengaku berilmu otomatis benar. Justru ada ajaran untuk memilih guru yang baik, memiliki perilaku yang patut diteladani, serta tidak menyombongkan kemampuan.

Baca juga: Kisah Resi Bhisma: Mundur sebagai Panglima dalam Perang Baratayuda

Dalam Pupuh Dhandhanggula juga terdapat kritik terhadap sifat adigang, adigung, adiguna, yakni menyombongkan kekuatan, kedudukan, dan kepandaian.

Pesan tersebut terasa relevan untuk siapa pun yang berada dalam ruang publik, baik pejabat, akademisi, maupun masyarakat. Kepandaian tidak semestinya menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.

Sebaliknya, kritik juga tidak otomatis menjadi benar hanya karena disampaikan oleh seseorang yang memiliki gelar atau menyandang status pakar. Di situlah cipta dan rasa perlu berjalan beriringan.

Pendidikan Jawa Mengingatkan: Pintar Saja Tidak Cukup

Serat Wulangreh pada akhirnya menawarkan gagasan pendidikan yang cukup sederhana tetapi mendalam: ilmu harus menghasilkan manusia yang lebih baik.

Penelitian mengenai nilai pendidikan karakter dalam Serat Wulangreh menemukan sejumlah nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, ketekunan, kesederhanaan, dan kesadaran spiritual.

Karya tersebut dipandang relevan sebagai rujukan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Karena itu, istilah Tridaya pendidikan dapat digunakan untuk membaca kembali warisan tersebut.

Catatannya adalah bahwa Tridaya cipta, rasa, dan karsa merupakan kerangka interpretatif, bukan istilah “Tri Sula Pendidikan” yang secara literal disebut oleh Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh.

Dari sini, kritik terhadap pidato Prabowo dapat ditempatkan dalam pertanyaan yang lebih luas. Jika pendidikan bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa, maka kecerdasan tidak cukup diukur dari kemampuan menguasai pengetahuan.

Pendidikan juga perlu membentuk kemampuan mengendalikan diri, menghargai perbedaan, mempertimbangkan akibat perkataan, serta mengubah ilmu menjadi tindakan yang bermanfaat.

Itulah pelajaran yang dapat dibaca dari cipta, rasa, dan karsa dalam pembacaan terhadap Serat Wulangreh.

Exit mobile version