Jatengkita.id – Siapa sih yang nggak kenal Dieng? Dataran tinggi yang penuh pesona ini akhirnya resmi menyandang status Geopark Nasional, lho! Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkannya pada 7 Mei 2025 melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 172.K/GL01/MEM.G/2025.
Dengan gelar baru ini, keindahan alam, kekayaan geologi, dan budaya unik Dieng nggak cuma bikin kagum, tapi juga diakui dan dilindungi secara nasional. Jadi makin bangga, punya tempat sekeren Dieng di negeri sendiri!
Baca juga : 9 Penginapan Estetik Dieng, Tawarkan Pesona Alam
Kekayaan Alam dan Budaya Dieng
Dieng adalah surga tersembunyi yang kini menjadi bagian dari Geopark Nasional. Kawasan ini menyimpan 40 situs warisan yang terdiri dari 23 situs geologi, 8 situs keanekaragaman hayati, dan 9 situs budaya yang tersebar di 45 desa di Wonosobo dan 58 desa di Banjarnegara.
Daya tarik utama Dieng terletak pada lanskap vulkaniknya yang masih aktif dan memukau. Kawah-kawah yang terus mengepul, danau vulkanik dengan warna yang mencolok, serta formasi batuan purba menjadi bukti betapa istimewanya kawasan ini.
Tak hanya menyuguhkan keindahan visual, tetapi juga nilai ilmiah dan edukatif yang tinggi. Selain pesona alamnya yang menakjubkan, Dieng juga menyimpan kekayaan hayati khas dataran tinggi yang sangat berharga dan perlu dijaga kelestariannya.
Upaya tersebut bisa dilakukan lewat konservasi dan pengelolaan yang ramah lingkungan oleh warga sekitar.
Tak hanya itu, budaya Dieng yang telah hidup turun-temurun selama ribuan tahun, seperti tradisi unik Ruwatan Rambut Gimbal, memberikan sentuhan spiritual dan kearifan lokal yang membuat kawasan ini semakin memikat hati para wisatawan dan peneliti budaya.

Manfaat dan Tantangan Pengelolaan Geopark
Penetapan Dieng sebagai Geopark Nasional membawa angin segar bagi masyarakat sekitarnya. Bukan hanya soal pengakuan atas keindahan alam dan budayanya, tapi juga peluang nyata untuk meningkatkan kesejahteraan warga.
Dengan status geopark, potensi wisata Dieng bisa dikembangkan ke arah yang lebih edukatif dan ramah lingkungan seperti membuka lapangan kerja baru. Selain itu, kawasan ini juga menjadi panggung bagi produk-produk UMKM lokal seperti kerajinan tangan hingga kuliner khas dataran tinggi.
Lebih dari itu, pengelolaan berbasis geopark mendorong masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus menjaga kekayaan hayati dan tradisi leluhur yang ada. Artinya, keindahan alam dan budaya Dieng tak hanya dinikmati hari ini, tapi juga diwariskan utuh kepada generasi mendatang.
Inilah bentuk pembangunan yang ideal, mampu mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa harus mengorbankan lingkungan. Hal tersebut sejalan dengan semangat geopark yang hijau dan berkelanjutan.
Karena itu, pengelolaan Dieng membutuhkan kerja sama dari banyak pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, akademisi, hingga masyarakat.
Sinergi kebijakan, alokasi anggaran yang tepat, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar pengembangan kawasan ini tetap berada di jalur yang berkelanjutan.
Selain itu, penting untuk terus menanamkan kesadaran di tengah masyarakat tentang pentingnya menjaga kekayaan alam dan budaya Dieng.
Pengelolaan mencakup keindahan geologinya, keanekaragaman hayatinya, hingga tradisi-tradisi leluhur yang masih hidup hingga kini. Tanpa pengelolaan yang tepat, semua keistimewaan ini bisa tergerus oleh waktu dan tekanan pembangunan.
Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!






