3 Nama Tempat di Jawa Ini Berasal dari Palestina

3 Nama Tempat di Jawa Ini Berasal dari Palestina
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta (Gambar: jogjacagar.jogjaprov.go.id)

Jatengkita.id – Hubungan Nusantara dengan Timur Tengah sudah terjalin sejak berabad-abad silam. Jejaknya tidak hanya dapat ditemukan melalui penyebaran agama atau peninggalan sejarah, tetapi juga masih bertahan dalam nama-nama tempat yang digunakan masyarakat hingga saat ini.

Sebuah kajian dari Departemen Riset Museum Ullen Sentalu mengungkap bahwa terdapat sejumlah toponim atau nama tempat di Pulau Jawa yang dipinjam dari berbagai wilayah di luar negeri.

Penelitian tersebut menemukan adanya pengaruh Palestina dalam sejumlah nama tempat dan landmark bersejarah di Jawa.

Keberadaan nama-nama tersebut menjadi bukti bahwa pengaruh budaya serta agama Abrahamik, terutama Islam dan Kristen, ikut membentuk lanskap sejarah Pulau Jawa sekitar lima hingga enam abad lalu.

Dari Yogyakarta hingga Jawa Tengah, jejak Palestina masih dapat ditemukan melalui Rumah Sakit Bethesda, Kota Kudus, hingga Gunung Muria.

  • Rumah Sakit Bethesda, Nama Bersejarah yang Berasal dari Yerusalem

Salah satu jejak Palestina yang paling menarik justru berada di jantung Kota Yogyakarta.

Rumah Sakit Bethesda yang kini dikenal sebagai salah satu rumah sakit tertua di Indonesia ternyata memiliki nama yang berasal dari Yerusalem. Rumah sakit ini didirikan pada tahun 1897 oleh lembaga misi Gereformeede Zending dengan nama awal Petronella Ziekenhuis.

Seiring perjalanan sejarah, rumah sakit tersebut beberapa kali berganti nama. Pada masa pendudukan Jepang sempat dikenal sebagai Jogjakarta Tjuo Bjoin.

Kemudian menjadi Roemah Hospital Poesat pada masa Revolusi Kemerdekaan. Barulah pada 28 Juni 1950 nama Bethesda resmi digunakan dan tetap bertahan hingga sekarang.

Nama Bethesda sendiri diambil dari Kolam Bethesda, sebuah pemandian kuno di Yerusalem yang disebut dalam Injil Yohanes. Tempat tersebut dikenal sebagai lokasi ketika Yesus menyembuhkan seorang pria yang telah lumpuh selama 38 tahun.

Pemilihan nama Bethesda bukan sekadar identitas rumah sakit, tetapi juga mencerminkan nilai pelayanan, kepedulian, dan harapan akan kesembuhan.

Hingga kini, nama tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana toponim Palestina masih hidup di Indonesia melalui institusi yang terus melayani masyarakat.

  • Kudus, Kota yang Namanya Berasal dari Al-Quds

Jika berbicara mengenai kota yang memiliki hubungan dengan Palestina, Kudus menjadi contoh paling terkenal.

Kota di Jawa Tengah yang dikenal sebagai Kota Kretek sekaligus Kota Jenang itu ternyata memperoleh namanya dari Al-Quds, sebutan dalam bahasa Arab untuk Kota Yerusalem.

Seiring waktu, pelafalan Al-Quds mengalami penyesuaian dengan lidah masyarakat Jawa hingga akhirnya berubah menjadi “Kudus”. Nama tersebut kemudian melekat sebagai identitas daerah yang kini menjadi salah satu pusat perkembangan Islam di Pulau Jawa.

Masjid Menara Kudus (Gambar: Pinterest)

Penamaan Kudus diyakini berkaitan erat dengan Sunan Kudus atau Jafar Shadiq. Ia adalah salah satu anggota Walisongo yang memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di Nusantara.

Sejumlah catatan sejarah bahkan menyebut bahwa Sunan Kudus memiliki keterkaitan dengan Palestina. Hal tersebut membuat penggunaan nama Al-Quds sebagai inspirasi penamaan wilayah menjadi sesuatu yang masuk akal.

Tak hanya menjadi simbol religius, nama Kudus juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan geografis dunia Islam pada masa itu telah dikenal oleh masyarakat Jawa melalui para ulama dan jaringan dakwah.

Hingga kini, Kota Kudus tetap menjadi salah satu destinasi wisata religi terpenting di Indonesia. Landmark populernya adalah Masjid Menara Kudus yang setiap tahun dikunjungi ribuan peziarah.

  • Gunung Muria Menyimpan Kisah yang Tak Banyak Diketahui

Selain Kudus, kawasan lain di Jawa Tengah yang memiliki keterkaitan dengan Palestina adalah Gunung Muria.

Gunung dengan ketinggian sekitar 1.625 mdpl tersebut berdiri di antara Kabupaten Kudus, Jepara, dan Pati.

Menurut kajian Ullen Sentalu, nama Muria diyakini berasal dari Moriah, nama sebuah bukit yang berada di Yerusalem, Palestina.

Hubungan tersebut menjadi semakin menarik karena letak Gunung Muria berdekatan dengan Kota Kudus yang juga sama-sama menggunakan nama hasil adaptasi dari wilayah di Palestina.

Sejumlah peneliti menilai kedua nama tersebut kemungkinan muncul pada masa berkembangnya dakwah Islam di Jawa menjelang runtuhnya Majapahit hingga masa Kesultanan Demak dan Pajang.

Kawasan Muria sendiri memiliki nilai sejarah yang sangat penting. Selain dikenal sebagai kawasan pegunungan, wilayah ini juga menjadi lokasi makam Sunan Muria yang berada di Desa Colo.

Hingga sekarang, makam tersebut menjadi salah satu tujuan utama wisata religi di Pulau Jawa.

Menariknya lagi, catatan Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java menyebut bahwa pada abad ke-19 Gunung Muria juga pernah dikenal dengan nama Gunung Jepara.

Hal ini menunjukkan bahwa proses penamaan kawasan tersebut mengalami perkembangan sebelum akhirnya nama Muria menjadi identitas yang bertahan hingga kini.

Toponim Menjadi Bukti Hubungan Jawa dan Timur Tengah

Nama tempat bukan sekadar penanda lokasi di peta. Dalam kajian sejarah dan geografi, toponim sering menjadi petunjuk mengenai perjalanan budaya, migrasi, perdagangan, hingga penyebaran agama pada masa lampau.

Keberadaan Bethesda, Kudus, dan Muria memperlihatkan bahwa masyarakat Jawa telah mengenal berbagai wilayah di Timur Tengah sejak ratusan tahun silam.

Hubungan tersebut berkembang melalui aktivitas perdagangan, pendidikan, hingga dakwah para ulama yang membawa pengetahuan baru dari kawasan Asia Barat.

Nama-nama tersebut kemudian diadaptasi ke dalam budaya lokal tanpa menghilangkan identitas masyarakat Jawa. Justru perpaduan itulah yang membuat sejarah Indonesia semakin kaya.

Warisan Sejarah yang Masih Digunakan Hingga Sekarang

Nama tempat merupakan warisan sejarah yang terus digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tentu berbeda dengan peninggalan berupa bangunan atau artefak yang hanya bisa ditemukan di museum.

Kajian Departemen Riset Museum Ullen Sentalu memperlihatkan bahwa nama-nama tersebut bukan hadir secara kebetulan. Di baliknya terdapat sejarah penyebaran agama, perjalanan para ulama, hingga interaksi budaya yang berlangsung selama berabad-abad.

Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa identitas budaya Indonesia dibangun melalui proses panjang yang melibatkan berbagai peradaban dunia.

Di tengah perkembangan zaman, memahami asal-usul nama tempat menjadi cara sederhana untuk mengenali sejarah bangsa. 

Sumber:

Kuncahyono, Trias. 2008. Jerusalem: Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Halaman 129-141 dan 220-232.

Exit mobile version