Jatengkita.id – Jauh sebelum Indonesia memiliki perusahaan kereta api nasional, jalur rel di Pulau Jawa telah lebih dulu dibangun oleh perusahaan-perusahaan swasta.
Salah satu yang paling berpengaruh adalah Semarang–Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), perusahaan kereta api swasta yang berpusat di Semarang.
SJS lahir pada akhir abad ke-19 ketika kebutuhan transportasi di pesisir utara Jawa terus meningkat. Kawasan Semarang, Demak, Kudus, Pati, hingga Jepara berkembang sebagai pusat perdagangan hasil bumi, gula, kayu jati, dan berbagai komoditas ekspor.
Untuk mempercepat distribusi barang dan mobilitas penduduk, dibutuhkan moda transportasi yang lebih efisien dibandingkan jalur darat biasa.
Perusahaan ini kemudian mengembangkan jaringan trem uap dan kereta api yang menghubungkan sejumlah kota penting di wilayah pantura timur Jawa Tengah.
Pada masanya, SJS menjadi salah satu perusahaan transportasi paling sibuk dan berpengaruh di kawasan tersebut.
-
Kantor Megah di Tepi Pelabuhan Semarang
Jejak kejayaan SJS masih dapat ditemukan di Kota Semarang. Salah satunya adalah bangunan bekas kantor pusat SJS yang berada di kawasan Jalan Pengapon, dekat Pelabuhan Tanjung Emas.
Merujuk catatan sejarah yang dimuat dalam buku De Tramweg op Java dalam Gedenkboek der (SJS) Semarang, peletakan batu pertama kantor tersebut dilakukan pada 1 Desember 1882.
Bangunan itu sengaja didirikan di dekat pelabuhan karena menjadi pusat aktivitas perdagangan dan lalu lintas barang pada masa kolonial.
Arsitekturnya mencerminkan gaya bangunan Eropa akhir abad ke-19. Bentuknya memanjang, balkon lebar, serta jendela-jendela tinggi yang dirancang untuk menyesuaikan iklim tropis.
Dari lantai dua bangunan, para pejabat perusahaan dapat memantau aktivitas kapal dan bongkar muat barang di kawasan pelabuhan.
Kini kondisi bangunan tersebut jauh berbeda. Sebagian area di sekitarnya terdampak rob, sementara bangunan utama terlihat tua dan tidak lagi digunakan untuk aktivitas perkeretaapian.
Meski demikian, struktur utamanya masih berdiri dan menjadi saksi bisu perkembangan transportasi di Semarang.
-
Menghubungkan Semarang dengan Kota-Kota Pantura
Peran utama SJS adalah membuka akses transportasi antara Semarang dan berbagai daerah di pesisir utara Jawa Tengah. Jalur yang dibangun perusahaan ini menghubungkan pusat perdagangan dengan daerah penghasil komoditas pertanian dan perkebunan.
Keberadaan kereta api membuat waktu perjalanan menjadi lebih singkat dibandingkan menggunakan gerobak atau angkutan sungai.
Selain mengangkut penumpang, kereta SJS juga berfungsi mengangkut hasil perkebunan, gula, kayu jati, hingga berbagai kebutuhan industri yang berkembang pada masa itu.
Bagi masyarakat pantura, kehadiran SJS bukan sekadar alat transportasi. Kereta api menjadi penggerak ekonomi yang mempercepat pertumbuhan kota-kota kecil di sepanjang jalur rel.
-
Kisah Stasiun SJS Mayong yang Masih Bertahan
Salah satu peninggalan paling menarik dari SJS adalah bangunan Stasiun SJS Mayong. Stasiun ini dahulu menjadi bagian dari jalur yang menghubungkan wilayah Semarang dengan Jepara dan daerah sekitarnya.
Berdasarkan informasi yang masih tersimpan pada bangunan tersebut, stasiun dibangun pada tahun 1873 sebagai stasiun utama rute Demak–Jepara.
Selain melayani penumpang, stasiun ini berperan penting dalam pengiriman barang dari dan menuju kawasan perkebunan serta industri gula.
Setelah jaringan kereta api SJS berhenti beroperasi, bangunan stasiun sempat terbengkalai selama bertahun-tahun. Namun bangunan itu tidak hilang begitu saja. Struktur kayunya diselamatkan dan dipindahkan ke kawasan Grabag, Kabupaten Magelang.
Saat ini bangunan bekas Stasiun SJS Mayong menjadi bagian dari kompleks Mesastila Hotel and Resort. Bentuk arsitektur aslinya masih dipertahankan, mulai dari dinding kayu, jendela besar, hingga detail ornamen khas bangunan stasiun era kolonial.
Kehadiran bangunan tersebut menjadi pengingat bahwa jaringan kereta api SJS pernah memiliki peran penting dalam menghubungkan berbagai wilayah di Jawa Tengah.
-
Meredup di Tengah Perubahan Zaman
Memasuki awal abad ke-20, kejayaan SJS perlahan mulai menurun. Persaingan dengan moda transportasi yang lebih modern semakin ketat. Di sisi lain, biaya operasional terus meningkat sementara inovasi perusahaan tidak berkembang secepat perubahan kebutuhan transportasi.
Masa kejayaan yang berlangsung sejak akhir abad ke-19 mulai memudar hingga akhirnya layanan SJS berhenti beroperasi pada tahun 1940. Berakhirnya operasional perusahaan menandai berakhir pula salah satu bab penting sejarah perkeretaapian swasta di Jawa.
Perubahan besar terjadi setelah Indonesia merdeka. Berbagai perusahaan kereta api yang sebelumnya dikelola pemerintah kolonial maupun swasta kemudian dilebur ke dalam sistem perkeretaapian nasional.
Pada 1 Januari 1946, SJS bersama sejumlah perusahaan lain resmi menjadi bagian dari Djawatan Kereta Api (DKA), cikal bakal PT Kereta Api Indonesia saat ini.
