Jatengkita.id – Ada salah satu filosofi Jawa yang cukup mendarah daging, yaitu ajining diri ana ing lathi. Artinya, nilai seseorang terletak pada lisan atau perkataannya.
Bukan sekadar modal komunikasi. Filosofi ini sejatinya membawa nilai moral yang melekat pada identitas masyarakat Jawa.
Orang akan menilai seorang lainnya dari bagaimana sikapnya saat bertutur, tingkat bahasa yang digunakan, diksi yang dipilih, dan waktu-tempat-emosi yang tepat untuk membicarakan suatu hal. Dari proses tersebut, barulah lawan bicara akan memutuskan sikap yang akan diambil.
Apakah sepenuhnya percaya dan patuh, atau menolak dan mencukupkan, atau bahkan menarik-ulur untuk mendapatkan validasi.
Pemimpin dan Komitmennya
Budaya Jawa dikenal dengan nilai-nilai luhur dan ajaran-ajaran moralnya. Dalam konteks kepemimpinan, seorang penguasa memiliki kekuatan besar yang terletak pada lisannya.
Dari ucapan seorang pemimpin, masyarakat bisa sangat patuh, sangat percaya, hingga menjadikannya tuntunan.
Ya. Sedahsyat itulah kekuatan lisan. Seorang pemimpin dilihat dari bagaimana ia memegang komitmennya dan bertanggung jawab pada setiap perkataannya. Singkatnya, pemimpin harus bisa dipegang ucapannya.
Jika seorang pemimpin negara menyebutkan tidak akan menerjunkan anggota keluarga dalam perpolitikan, harusnya ditepati. Bukan malah menempatkan mereka pada posisi strategis lewat cara melanggar konstitusi.
Jika berkomitmen menguatkan lembaga antirasuah, harusnya dilanjutkan. Bukan justru mencari kambing hitam dan mencari pembenaran untuk melemahkan.
Jika bertekad memajukan industri lokal (industri mobil listrik) dan mempersulit investasi asing, harusnya direalisasikan. Bukan sebaliknya, membuka keran-keran investasi asing yang membunuh ekonomi lokal.
Jika berjanji tidak akan mengintervensi pemilihan umum, harusnya ditepati. Bukan pada akhirnya mengacaukan proses demokrasi.
Jika telah memutuskan untuk kembali ke kampung halaman menjadi rakyat biasa setelah lengser, maka harus tunduk pada aturan. Bukan justru melakukan safari politik untuk menggalang massa demi kemenengan elektoral.
Pemimpin dan Nilainya
Konsep ajining diri ana ing lathi penting menjadi pedoman bagi setiap pemimpin dalam menjalankan amanah rakyat. Apalagi jika pemimpin tersebut berasal dari suku Jawa.
Tentunya, ia paham betul bagaimana nilai-nilai luhur Jawa sudah tumbuh dan mengakar dalam perilakunya. Ia harus konsisten pada apa yang diucapkan. Pertaruhan kepercayaan harusnya mampu membimbingnya pada langkah yang semestinya.
Pemimpin yang mengabaikan komitmen dan “mencla-mencle” sesungguhnya telah kehilangan “aji” (harga diri). Ia tidak akan lagi dipercaya rakyat karena terlalu sering melanggar dan berbohong. Ia juga tidak lagi memiliki martabat.
Hingga akhirnya, munculah konsep, “apa yang dikatakan pemimpin itu adalah kebalikannya” di ruang digital. Pemimpin dari suku Jawa yang berperilaku seperti itu justru menodai budaya Jawa itu sendiri.
Cara-cara berkomunikasi yang manipulatif tersebut dapat disimpulkan sebagai upaya menjaga stabilitas kekuasaan dan elektabilitas.
Dari “perkataan” pemimpin, sistem demokrasi sebuah negara bisa dianalisis. Soal hak asasi manusia juga bisa terbaca. Serta, soal konsep negara hukum juga bisa disimpulkan.
Jika sebuah perkataan mampu menimbulkan daya rusak separah itu, rakyat sangat berhak merasa menjadi korban dan menuntut.
Lalu, jika rakyat menuntut, apa yang akan mereka suarakan? Jika hukuman, apa yang tepat bagi pemimpin yang tidak bertanggung ajwab pada kata-katanya?
