Cermin Perempuan dalam Ronggeng Dukuh Paruk

Cermin Perempuan dalam Ronggeng Dukuh Paruk
(Gambar: fimela.com)

Jatengkita.idSalah satu sisi yang menarik untuk dibahas dari novel “Ronggeng Dukuh Paruk” adalah posisi perempuan. Karya penulis asal Banyumas, Jawa Tengah, ini mampu menembus kancah Internasional dengan diterjemahkannya novel tersebut ke dalam bahasa Jepang, Belanda, dan juga Jerman.

Novel ini juga diangkat ke film layar lebar dengan judul, “Darah dan Mahkota Ronggeng” di tahun 1986 dan “Sang Penari” pada tahun 2011.

Dalam karya tersebut, seks, miras, dan ronggeng merupakan sebuah hiburan untuk para masyarakat miskin.

Singkatnya, novel ini mengisahkan seorang anak perempuan yang menggantikan peran ronggeng desa. Ia adalah Srintil.

Sebagai ronggeng, ia bertugas memenuhi hasrat para lelaki yang berasal dari Dukuh Paruk sekaligus meneruskan kebudayaan yang telah terbentuk sebelumnya oleh pendiri desa mereka, Ki Secamenggala.

Eksploitasi Perempuan

Konsep patriarki dalam novel ini menjadi perhatian khusus karena fokus pada peran perempuan. Masyarakat desa berprinsip bahwa perempuan memiliki tugas macak (berdandan), manak (melahirkan), dan masak (memasak).

 

(Ilustrasi: Pinterest)

Ronggeng bisa disebut sebagai paket lengkap yang memuat kehormatan, kesuburan, hiburan, serta seks secara bersamaan. Kisah ini bukan sekedar cerita mengenai budaya Banyumasan, kemiskinan, maupun percintaan antara Rasus dan Srintil.

Ronggeng Dukuh Paruk adalah cerita mengenai tindak eksploitasi dengan embel-embel kebudayaan. Ini adalah kisah seorang perempuan yang benar-benar memiliki trauma yang sangat mendalam yang kehilangan bagian-bagian penting dalam dirinya.

Di dalam novel, kita disuguhkan kenyataan yang pahit bahwa seluruh istri di Dukuh Paruk akan mengupayakan segala cara agar para suami mereka dapat “menikmati” keperawanan dari Srintil si calon ronggeng.

Tubuh seorang perempuan dapat dijadikan sebuah sayembara terbuka sekaligus milik bersama. Bahkan, para perempuan di desa yang telah menikah pun juga merestui hubungan terlarang antara suaminya dengan Ronggeng karena dianggap sakral.

Kehormatan Sekaligus Penindasan

Sebagai seorang ronggeng yang menjadi simbol Dukuh Paruk, Srintil mendapatkan banyak perhatian dan penghormatan orang-orang. Ia adalah manifestasi sebuah desa yang hidup karena hiburan.

Namun, secara bersamaan, ia adalah korban keberingasan orang-orang tidak beradab dan tradisi yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Srintil tidak bisa memiliki kehidupannya sendiri karena dikendalikan.

Orang berhak menentukan keputusan dan mengaturnya. Ia bahkan tidak mengerti kenapa dan untuk apa ia harus menjalani kehidupan seperti ini. Tidak kah itu penindasan yang sangat brutal dan jauh dari nilai kemanusiaan?

Exit mobile version