Jatengkita.id – Sapardi Djoko Damono merupakan sastrawan Indonesia yang lahir di Surakarta pada 20 Maret tahun 1940. Namanya unik karena diambil dari bulan kelahiran dalam penanggalan Jawa, yaitu bulan Safar.
Diketahui, Sapardi Djoko Damono pernah menempuh pendidikan Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada (UGM), serta pernah meraih doktor dari Universitas Indonesia (UI).
Ia merupakan profesor dan guru besar di Fakultas Ilmu Budaya UI. Pada tahun 1995-1999, pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra UI.
Gaya Puitis
Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai pujangga legendaris yang telah melahirkan banyak puisi terkenal dengan gaya bahasanya yang sederhana dan mendalam. Sebagai salah satu sastrawan terbesar Indonesia, ia begitu piawai mengubah hal-hal sederhana menjadi puisi yang menyentuh hati.
Sang maestro puisi ini, lihai dalam menyampaikan perasaan rumit atau makna kehidupan menjadi kata-kata ringan. Puisinya banyak menggunakan metafora alam yang mudah dipahami untuk menggambarkan kasih sayang seperti hujan, angin, daun, dan lainnya.
Karakteristik tulisannya cukup mudah dipahami karena menggunakan bahasa yang sederhana di mana kata-katanya menonjolkan cinta. Puisinya juga seringkali bernuansa liris (lyrical poetry) dan lebih mengutamakan makna.

Karya-karyanya, khususnya puisi, sarat dalam memaknai cinta, baik cinta manusia maupun hubungan dengan Tuhan.
Beberapa karya puisi fenomenalnya meliputi Dukamu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Aku Ingin (sajak-sajak cinta), Hujan Bulan Juni (kumpulan puisi), dan Ayat-ayat Api (2017).
Penerjamah Berkualitas
Tak hanya menulis puisi, Sapardi Djoko Damono juga pandai menerjemahkan karya sastra asing. Ia handal dalam menerjemahkan berbagai karya sastra dunia seperti puisi milik Jalaludin Rumi, Kahlil Gibran, dan lain sebagainya.
Salah satu karya terjemahannya yang mampu menyedot perhatian publik yaitu buku The Old Man and the Sea (Lelaki Tua dan Laut) karya Ernest Hemingway. Melalui hasil karya terjemahan asingnya ini, ia telah dianggap sebagai penerjemah karya sastra yang berkualitas.
Karya populernya, terutama “Hujan Bulan Juni” dan “Aku Ingin” kemudian diadaptasi menjadi lagu (musikalisasi puisi), hingga ia dijuluki sebagai “Sang Pencipta Hujan Bulan Juni” berkat karya ikoniknya tersebut.
Selama berkarir melalui karya-karyanya yang fenomenal, ia telah menerima banyak penghargaan nasional hingga internasional, seperti Cultural Award dari Australia (1978), SEA Write Award dari Thailand (1986), dan Achmad Bakrie Award tahun 2003.
Sapardi Djoko Damono wafat pada 19 Juli 2020 di usia 80 tahun akibat penurunan fungsi organ. Meski sudah tiada, karyanya tetap abadi dan filosofi serta pesan moralnya selalu relevan sepanjang zaman.
Baca juga: Habiburrahman El Shirazy dan Masterpiece Ayat-Ayat Cinta-nya


