Mengulik Makna Rawe-Rawe Rantas Malang-Malang Putung

Mengulik Makna Rawe-Rawe Rantas Malang-Malang Putung
(Gambar: Pinterest)

Jatengkita.id – Salah satu ungkapan Jawa yang paling populer sekaligus sarat makna adalah “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.”

Ungkapan ini telah hidup selama berabad-abad dalam tradisi Jawa dan terus relevan hingga sekarang. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bahkan menjadi inspirasi bagi para pejuang kemerdekaan Indonesia dalam melawan penjajahan.

Makna Harfiah dan Filosofis

Secara harfiah, “rawe-rawe” berarti segala sesuatu yang mengganggu atau menghalangi. Sementara itu, “malang-malang” merujuk pada hambatan yang menghadang dari berbagai arah.

Kata “rantas” berarti membersihkan atau menyingkirkan, sedangkan “putung” bermakna memutus hingga tuntas.

Jika digabungkan, ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai ajakan untuk menyingkirkan segala rintangan dan memutus semua hambatan yang menghalangi tercapainya tujuan.

Namun, makna sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekadar tindakan menghilangkan penghalang. Dalam pandangan hidup Jawa, ungkapan ini menggambarkan tekad yang kuat untuk mewujudkan cita-cita yang telah ditetapkan.

Filosofi tersebut mengajarkan bahwa setiap tujuan mulia membutuhkan keberanian, kesungguhan, dan keteguhan hati dalam menjalaninya.

Ketika seseorang memiliki niat baik dan tujuan yang benar, maka segala hambatan yang muncul harus dihadapi dengan penuh keyakinan. Bukan untuk menghindari masalah, melainkan untuk menyelesaikannya dengan cara yang tepat dan bertanggung jawab.

Karena itulah, ungkapan ini sering dipahami sebagai simbol mentalitas pantang menyerah. Seseorang tidak boleh mudah mundur hanya karena menghadapi kesulitan. Sebaliknya, tantangan harus dijadikan bagian dari proses menuju keberhasilan.

Bukan Menghalalkan Segala Cara

Meski mengandung semangat yang kuat dan tegas, filosofi “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung” sering kali disalahartikan. Sebagian orang menganggap ungkapan tersebut sebagai pembenaran untuk mencapai tujuan dengan cara apa pun.

Padahal, dalam etika Jawa, tujuan yang baik harus ditempuh melalui cara yang baik pula. Filosofi ini tidak pernah mengajarkan tindakan yang melanggar norma, merugikan orang lain, atau menghalalkan segala cara demi memperoleh keuntungan.

Masyarakat Jawa mengenal prinsip keseimbangan antara tujuan dan proses. Keberhasilan yang diperoleh melalui cara yang tidak etis dianggap tidak memiliki nilai kebajikan.

Oleh karena itu, semangat menyingkirkan hambatan dalam ungkapan ini lebih diarahkan kepada hambatan yang bersifat negatif, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam diri sendiri.

Rasa malas, ketakutan berlebihan, kurang disiplin, mudah menyerah, dan sikap tidak percaya diri merupakan contoh hambatan internal yang harus “dirantas” dan “diputung.” Begitu pula berbagai kebiasaan buruk yang menghambat kemajuan seseorang.

Dalam konteks ini, filosofi tersebut justru mengajarkan pengendalian diri dan pembentukan karakter yang kuat. Seseorang dituntut untuk berani melawan kelemahan dirinya sendiri sebelum menghadapi tantangan dari luar.

(Gambar: widiantigunawan.wordpress.com)

Semangat Kerja Keras dalam Budaya Jawa

Masyarakat Jawa mengajarkan pentingnya proses yang benar agar hasil yang diperoleh juga baik. Karena itulah, semangat “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung” hadir sebagai pelengkap nilai.

Jika “alon-alon waton kelakon” mengajarkan kehati-hatian, maka “rawe-rawe rantas, malang-malang putung” mengajarkan keteguhan dalam menjalani proses tersebut. Keduanya tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi.

Jejak Sejarah dari Masa Majapahit

Ungkapan “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung” sering dikaitkan dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Pada masa itu, semangat perjuangan menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan kerajaan memperluas pengaruhnya ke berbagai wilayah Nusantara.

Banyak sejarawan dan budayawan menghubungkan ungkapan tersebut dengan semangat keprajuritan yang berkembang pada era Mahapatih Gajah Mada.

Sebagai tokoh yang terkenal dengan Sumpah Palapa, Gajah Mada dikenal memiliki tekad kuat untuk mempersatukan Nusantara.

Meski tidak semua sumber sejarah menyebutkan secara langsung keterkaitan ungkapan tersebut dengan Gajah Mada, nilai yang terkandung di dalamnya memang sejalan dengan semangat perjuangan dan kepemimpinan yang menjadi ciri khas Majapahit.

Semangat itu kemudian diwariskan dari generasi ke generasi hingga menjadi bagian dari identitas budaya Jawa.

Menjadi Semboyan Para Pejuang Kemerdekaan

Nilai perjuangan yang terkandung dalam ungkapan ini kembali menemukan relevansinya pada masa pergerakan nasional dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Saat bangsa Indonesia menghadapi penjajahan yang berlangsung selama ratusan tahun, semangat pantang menyerah menjadi modal utama para pejuang. 

Makna “menyingkirkan segala rintangan” yang terkandung dalam semboyan tersebut sangat sesuai dengan kondisi bangsa saat itu. Penjajahan merupakan hambatan terbesar yang harus diakhiri demi mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Tidak mengherankan jika semboyan ini digunakan oleh sejumlah tokoh pergerakan nasional. Tokoh seperti dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara dikenal pernah menggunakan ungkapan tersebut sebagai simbol perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Relevan untuk Kehidupan Modern

Meskipun lahir dari konteks sejarah dan budaya masa lalu, filosofi “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung” tetap relevan untuk kehidupan masa kini.

Di era modern, hambatan yang dihadapi manusia mungkin tidak lagi berupa peperangan atau penjajahan. Namun, tantangan hidup hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari persaingan pendidikan, tekanan pekerjaan, kesulitan ekonomi, hingga persoalan pribadi.

Menaklukkan Musuh Terbesar, yaitu Diri Sendiri

Dalam kehidupan modern, musuh terbesar sering kali bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam diri sendiri. Rasa malas, takut gagal, kurang percaya diri, dan kebiasaan menunda pekerjaan menjadi penghalang yang lebih sulit diatasi dibandingkan hambatan fisik.

Di sinilah makna terdalam dari “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung” menemukan relevansinya. Filosofi ini mengajak setiap individu untuk berani menghadapi kelemahan diri dan mengubahnya menjadi kekuatan.

Ketika seseorang mampu mengatasi hambatan internalnya, maka berbagai tantangan eksternal akan lebih mudah dihadapi.

Exit mobile version