Jatengkita.id – Sebuah hasil penelitian yang dipublikasikan Departemen Riset Museum Ullen Sentalu menunjukkan ada sejumlah toponim (nama tempat) yang diduga merupakan serapan atau dipinjam dari anak benua India dan wilayah sekitarnya.
Jejak tersebut menjadi bukti kuat adanya hubungan perdagangan, agama, dan kebudayaan antara Nusantara dengan India sejak lebih dari seribu tahun lalu. Berikut tujuh nama tempat di Pulau Jawa yang disebut memiliki keterkaitan dengan bahasa luar, khususnya India.
-
Yogyakarta
Nama Yogyakarta diyakini terinspirasi dari Ayodhya, ibu kota Kerajaan Kosala dalam kisah Ramayana di India. Kata “Ayodhya” dalam bahasa Sanskerta berarti “kota yang tidak dapat ditaklukkan”.
Ketika Kesultanan Yogyakarta berdiri pada 1755, nama tersebut diadaptasi menjadi Yogyakarta dengan makna yang masih berkaitan dengan kemakmuran dan kejayaan.
Pemilihan nama ini menunjukkan kuatnya pengaruh budaya India terhadap penamaan wilayah penting di Jawa, meskipun identitas Yogyakarta kemudian berkembang menjadi sangat khas Jawa.
-
Imogiri
Nama Imogiri, lokasi kompleks makam raja-raja Mataram Islam di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, juga diduga memiliki akar dari bahasa Sanskerta.
Nama ini dikaitkan dengan kata Himagiri, gabungan dari hima (salju) dan giri (gunung), yang merujuk pada Pegunungan Himalaya. Dalam perkembangannya, Himagiri berubah pelafalan menjadi Imogiri.
Penamaan tersebut dinilai mencerminkan simbol tempat yang tinggi, suci, dan sakral sebagai lokasi pemakaman para raja.
-
Serayu
Sungai Serayu, yang berhulu di Dataran Tinggi Dieng dan bermuara di Cilacap, memiliki nama yang diduga berasal dari Sarayu. Nama tersebut adalah sebuah sungai di India Utara yang mengalir di wilayah Ayodhya.
Kemiripan nama maupun karakter sungainya dianggap sebagai salah satu petunjuk adanya pengaruh budaya India dalam penamaan bentang alam di Pulau Jawa.
-
Semeru
Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa, dipercaya mengambil nama dari Gunung Sumeru dalam kosmologi Hindu-Buddha. Dalam mitologi India, Sumeru merupakan gunung suci yang menjadi pusat alam semesta.
Nama tersebut kemudian disematkan pada gunung tertinggi di Jawa sebagai simbol kemuliaan dan kesakralan, terutama pada masa kerajaan Hindu-Buddha.
-
Abhayagiriwihara
Kompleks Abhayagiriwihara di kawasan Ratu Boko, Sleman, Yogyakarta, menggunakan nama yang berasal dari Abhayagiri Vihara di Sri Lanka. Nama ini menjadi salah satu bukti adanya hubungan keagamaan antara Nusantara dan Sri Lanka pada masa perkembangan agama Buddha.
Penamaan tersebut menunjukkan bahwa pengaruh luar tidak hanya datang dari India, tetapi juga dari pusat-pusat penyebaran agama Buddha di Asia Selatan.
-
Kalingga (Holing)
Kerajaan Kalingga yang berkembang di pesisir utara Jawa Tengah diduga mengambil nama dari wilayah Kalinga di India bagian timur. Dalam catatan Dinasti Tang dari Tiongkok, kerajaan ini juga disebut sebagai Holing.
Kesamaan nama tersebut memperkuat dugaan adanya hubungan perdagangan dan pelayaran antara Jawa dengan India sejak abad awal Masehi.
-
Gomati
Nama Gomati dikenal dari Prasasti Tugu yang berkaitan dengan Sungai Gomati pada masa Kerajaan Tarumanagara. Toponim ini diduga dipinjam dari Sungai Gomti (Gomati) di India Utara.
Penggunaan nama tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana nama geografis dari India diadopsi ke wilayah Nusantara, kemungkinan sebagai bagian dari proses penyebaran budaya dan keagamaan.
-
Jejak Hubungan India dan Jawa
Ketujuh nama tempat tersebut menunjukkan bahwa hubungan Jawa dengan India pada masa lalu tidak hanya tercermin melalui candi, prasasti, atau ajaran agama Hindu-Buddha, tetapi juga melalui nama-nama wilayah yang masih digunakan hingga sekarang.
Meski sebagian besar telah mengalami penyesuaian pelafalan sesuai bahasa lokal, akar katanya masih dapat ditelusuri hingga bahasa Sanskerta maupun nama-nama geografis di anak benua India.
Perlu dicatat bahwa sebagian keterkaitan ini merupakan hasil kajian toponimi dan linguistik yang didasarkan pada kemiripan sejarah, bahasa, serta konteks budaya.
Sejumlah nama, seperti Semeru dan Kalingga, telah diterima luas dalam kajian sejarah. Sementara beberapa lainnya masih menjadi bahan diskusi dan penelitian lebih lanjut di kalangan sejarawan dan ahli bahasa.
