Jatengkita.id – Banyumas dan Purbalingga punya salah satu kuliner khas tradisional yang istimewa. Namanya Nopia Mino.
Selain warga lokal, wisatawan yang berkunjung ke wilayah Banyumas maupun Purbalingga juga menyukai Nopia Mino. Tidak heran jika makanan yang satu ini sering dijadikan sebagai buah tangan yang spesial dan unik.
Kuliner ini terbuat dari tepung terigu, gula Jawa, dan rempah-rempah. Cita rasanya gurih, manis, dan legit saat dikunyah. Pada awalnya, Nopia Mino hanya memiliki rasa original dengan isian bawang goreng saja.
Berbeda dengan sekarang, varian rasa dari Nopia Mino ikut berkembang. Saat ini, isian dalamnya juga semakin beragam. Ada rasa cokelat, durian, nangka, rasa bawang, pandan, hingga rasa lainnya.
Nopia Mino hadir dengan bentuk unik seperti telur. Inilah kenapa, jajanan tersebut sering disebut dengan pia telur gajah, endog penyu, telur halilintar, dan ndog gludhug.
Baca Juga: Unik! Kuliner Khas Banyumas Ini Terapkan Konsep Sustainability
Kuliner ini sering dijadikan cemilan ringan atau oleh-oleh karena lebih tahan lama. Makanan ringan ini juga digemari oleh berbagai kalangan usia, mulai dari usia anak-anak hingga orang dewasa.
Bahkan, Nopia Mino sendiri sudah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda Jawa Tengah oleh Pemerintah setempat. Di Purbalingga, kue ini tidak hanya menjadi camilan atau oleh-oleh saja.
Nopia Mino sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Purbalingga seperti dijadikan suguhan pada hari-hari yang spesial, misalnya menyambut tamu atau hajatan.
Nopia Mino juga menjadi simbolisme dan identitas watak dari masyarakat Banyumas yang apa adanya. Hal ini tercermin dari tekstur yang keras di bagian luar dan lembut di bagian dalamnya.
Selain itu, makanan ini juga menjadi warisan gastronomi yang menggambarkan nilai sejarah, kearifan lokal, dan teknik tradisional.
Sejarah Nopia Mino
Kemunculan Nopia Mino diperkirakan sudah ada sejak tahun 1950-an silam. Namun, namanya baru dikenal oleh masyarakat setempat setelah dipopulerkan oleh keluarga keturunan Tionghoa pada tahun 1880-an.
Pada awalnya, camilan tradisional ini dibuat pertama kali di wilayah Purbalingga. Seiring berjalannya waktu dan rasanya yang familiar dengan lidah orang Jawa, Nopia Mino mulai digemari oleh masyarakat.
Hingga kini, makanan tersebut merupakan salah satu oleh-oleh khas yang legendaris dari Banyumas dan Purbalingga.
Melihat peminatnya yang semakin banyak, saat ini sudah ada sentra pembuatan Nopia yang berada di Desa Wisata Pekunden, Banyumas yaitu Kampoeng Nopia Mino.
Di kampung ini, wisatawan bisa melihat secara langsung proses pembuatan dan belajar membuat Nopia Mino. Selain Pekunden, ada juga Desa Kalisube dan Sudagaran yang bisa dicoba.
Baca Juga: Deretan Kuliner Purbalingga Ini Masih Sarat Tradisi
Proses Pembuatan Nopia Mino
Uniknya, Nopia Mino masih diolah menggonakan cara tradisional, misalnya dalam proses pemanggangan yang masih menggunakan oven tradisional berbentuk lingkaran silinder yang terbuat dari tanah liat dan batu bata. Tujuannya agar bisa mempertahankan suhu panas secara stabil.
Selain itu, sumber api yang digunakan saat memanggang berasal dari kayu bakar pelepah pohon kelapa. Hal ini dimaksudkan agar menghasilkan tekstur kulit yang keras, sedangkan, bagian dalamnya tetap renyah, manis, dan lembut saat dikonsumsi.
Biasanya, kue tradisional ini akan dipanggang selama 15 menit dengan suhu 90 derajat lebih. Ketika adonan sudah mengembang, langsung segera diangkat. Jangan tunggu adonan sampai meletus atau mengeluarkan bau gosong.
