Jatengkita.id – Di lereng Gunung Muria, tepatnya di kawasan Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, tumbuh sebuah tanaman yang dulu hanya dianggap bagian dari hutan. Tanaman itu adalah parijoto, atau secara ilmiah dikenal sebagai Medinilla speciosa.
Kini, parijoto bukan lagi sekadar tanaman liar yang tumbuh tanpa perhatian. Ia telah bertransformasi menjadi simbol penting.
Bukan hanya sebagai bagian dari tradisi dan kepercayaan lokal, tetapi juga sebagai sumber daya genetik, komoditas ekonomi, dan model pertanian berkelanjutan yang menjaga kelestarian hutan.
Karakteristik Unik Tanaman Parijoto
Parijoto merupakan tanaman semak epifit dengan tinggi sekitar setengah hingga satu meter lebih. Tanaman ini termasuk jenis evergreen, yang berarti tetap hijau sepanjang tahun.
Daunnya berbentuk lonjong dengan ujung meruncing, sementara buahnya tersusun dalam kelompok besar menyerupai malai. Buah muda berwarna merah muda, kemudian berubah menjadi merah keunguan saat matang.
Keindahan bentuk daun dan bunganya membuat parijoto juga diminati sebagai tanaman hias. Bahkan, dalam dunia hortikultura, tanaman ini dikenal sebagai salah satu tanaman hutan tropis yang memiliki nilai estetika tinggi.
Dari Hutan Liar ke Kebun Produktif
Puluhan tahun lalu, parijoto tumbuh liar di hutan-hutan Muria. Warga biasanya hanya memetik buahnya saat musim tiba, tanpa ada upaya serius untuk membudidayakan atau mengelolanya secara intensif.
Buah ini lebih dikenal sebagai bagian dari cerita spiritual, terutama yang berkaitan dengan tokoh wali seperti Sunan Muria.
Kepercayaan yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa buah parijoto membawa berkah, terutama bagi pasangan yang menginginkan keturunan. Tak heran jika para peziarah yang datang ke kawasan Muria sering mencari buah ini sebagai oleh-oleh sekaligus simbol harapan.
Permintaan yang terus meningkat dari para peziarah menjadi titik awal perubahan. Warga mulai melihat potensi ekonomi dari tanaman ini. Dari sinilah muncul inisiatif untuk membudidayakan parijoto secara lebih terencana.
Pola Tanam yang Menjaga Alam
Berbeda dengan praktik pertanian konvensional yang sering membuka lahan dengan cara menebang pohon, budidaya parijoto justru mengandalkan keberadaan hutan itu sendiri. Tanaman ini tumbuh optimal di bawah naungan pepohonan besar, seperti alpukat, durian, atau jenis kayu hutan lainnya.
Metode ini menjadikan kebun parijoto tetap menyerupai hutan alami. Tidak ada pembabatan besar-besaran, tidak ada pembakaran lahan. Yang dilakukan petani hanyalah merawat tanaman dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Pola ini memiliki banyak keuntungan. Tanah tetap subur karena terlindungi dari erosi. Mikroklimat di sekitar tanaman tetap stabil. Sumber air terjaga. Bahkan, keanekaragaman hayati tetap terpelihara.
Dalam konteks yang lebih luas, pendekatan ini menjadi contoh nyata pertanian konservatif, di mana produksi dan pelestarian berjalan beriringan.
Fleksibilitas Panen dan Sumber Penghasilan Harian
Salah satu keunggulan parijoto dibandingkan tanaman lain seperti kopi adalah fleksibilitas panennya. Jika kopi hanya bisa dipanen setahun sekali, parijoto bisa dipetik hampir setiap hari, terutama saat musim hujan.
Hal ini memberikan keuntungan besar bagi petani. Mereka tidak perlu menunggu musim tertentu untuk mendapatkan penghasilan. Setiap hari bisa menjadi peluang ekonomi, tergantung pada jumlah buah yang matang dan jumlah wisatawan yang datang.

Pendapatan dari parijoto memang bervariasi. Dalam satu hari, petani bisa memperoleh penghasilan mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Meski tidak selalu stabil, sumber penghasilan ini cukup membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selain dijual dalam bentuk buah segar, parijoto juga mulai diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah.
Inovasi Produk Olahan
Seiring berkembangnya budidaya parijoto, muncul pula inovasi dalam pengolahannya. Buah ini tidak lagi hanya dijual mentah, tetapi juga diolah menjadi sirup, permen, teh herbal, hingga minuman fermentasi seperti kombucha.
Langkah ini membuka peluang baru dalam rantai ekonomi lokal. Nilai jual parijoto meningkat, pasar menjadi lebih luas, dan ketergantungan pada penjualan buah segar bisa dikurangi.
Produk olahan juga memungkinkan parijoto dikenal di luar kawasan Muria. Dengan pengemasan yang menarik dan strategi pemasaran yang tepat, parijoto berpotensi menjadi ikon kuliner khas Kudus.
Pelestarian Melalui Budidaya
Ironisnya, meningkatnya popularitas parijoto sempat membuat tanaman ini semakin sulit ditemukan di alam liar. Banyaknya permintaan menyebabkan eksploitasi berlebihan, ditambah dengan perubahan kondisi hutan.
Situasi ini mendorong petani untuk mulai melakukan pembibitan dan penanaman di pekarangan atau kebun. Tujuannya bukan hanya untuk memenuhi permintaan pasar, tetapi juga untuk menjaga keberlangsungan tanaman ini.
Sejak pertengahan 2010-an, penjualan bibit parijoto mulai berkembang. Bibit ini tidak hanya ditanam di kawasan Muria, tetapi juga mulai menyebar ke daerah lain.
Langkah ini menjadi bagian penting dalam konservasi. Dengan memperbanyak populasi tanaman di luar habitat aslinya, risiko kepunahan bisa ditekan.
Parijoto sebagai Sumber Daya Genetik Lokal
Pemerintah Kabupaten Kudus telah memberikan pengakuan resmi terhadap parijoto sebagai sumber daya genetik lokal. Status ini menunjukkan bahwa parijoto memiliki nilai penting, baik dari segi keanekaragaman hayati maupun identitas daerah.
Pengakuan ini juga menjadi langkah awal untuk perlindungan yang lebih kuat, termasuk rencana pengajuan indikasi geografis. Sertifikasi ini akan memastikan bahwa parijoto Muria memiliki identitas yang jelas dan tidak bisa diklaim oleh pihak lain.
Selain itu, pengakuan ini membuka peluang untuk pengembangan lebih lanjut, baik dalam penelitian, budidaya, maupun pemasaran.
Ke depan, parijoto memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Dengan dukungan pemerintah, inovasi petani, dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya konservasi, tanaman ini bisa menjadi model pertanian masa depan.
Menjawab Tantangan Kerusakan Hutan
Data menunjukkan bahwa ratusan hektar hutan di kawasan Muria pernah mengalami kerusakan akibat alih fungsi lahan dan praktik pertanian yang tidak berkelanjutan.
Dalam kondisi seperti ini, parijoto hadir sebagai solusi alternatif. Tanaman ini tidak membutuhkan pembukaan lahan baru, justru tumbuh optimal di bawah tegakan pohon.
Dengan demikian, budidaya parijoto dapat membantu memulihkan fungsi hutan tanpa mengorbankan kebutuhan ekonomi masyarakat.






