Jatengkita.id – Banjir kembali melanda Kabupaten Demak setelah tanggul Sungai Tuntang dilaporkan jebol akibat tingginya debit air. Peristiwa ini memicu genangan luas di sejumlah wilayah dan memaksa ribuan warga mengungsi demi keselamatan.
Melansir dari antaranews.com, hingga saat ini, total ada 2.839 jiwa dari sembilan desa terdampak yang telah dievakuasi ke berbagai titik pengungsian.
Pemerintah daerah bersama tim gabungan terus melakukan penanganan darurat guna memastikan kondisi warga tetap aman serta kebutuhan dasar terpenuhi.
Ribuan Warga Mengungsi di 14 Titik Aman
Akibat luapan air yang cukup tinggi, ribuan warga terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mencari tempat aman. Tercatat ada 14 lokasi pengungsian yang tersebar di berbagai tempat, mulai dari balai desa, kantor kecamatan, tempat ibadah, sekolah, hingga rumah warga.
Selain evakuasi, pemerintah juga bergerak cepat dalam menyalurkan bantuan logistik, layanan kesehatan, serta tempat tinggal sementara bagi para pengungsi agar kondisi mereka tetap terjaga selama masa darurat.
Tanggul Jebol di Enam Titik Picu Banjir
Hasil pendataan menunjukkan tanggul Sungai Tuntang mengalami kerusakan di enam titik berbeda. Tiga titik berada di Desa Trimulyo dengan panjang kerusakan mencapai sekitar 30 meter dan 10 meter, sementara tiga titik lainnya berada di Desa Sidoharjo dengan panjang sekitar 15 meter.
Jebolnya tanggul yang terjadi pada Jumat pagi langsung menyebabkan air sungai meluap ke permukiman warga dan merendam ratusan rumah.

Sembilan Desa Terdampak, hingga Air Capai 1,5 Meter
Banjir berdampak pada sembilan desa di empat kecamatan, yaitu Guntur, Karangtengah, Wonosalam, dan Kebonagung. Desa-desa yang terdampak antara lain Trimulyo, Sidoharjo, Turitempel, Tlogorejo, Bumiharjo, Ploso, Lempuyang, Sarimulyo, dan Solorire.
Ketinggian air di beberapa titik mencapai 100 hingga 150 sentimeter, terutama di Desa Trimulyo dan Ploso. Kondisi ini menyebabkan akses jalan tidak dapat dilalui kendaraan kecil dan menghambat aktivitas warga. Meski demikian, kondisi genangan dilaporkan mulai berangsur menurun di beberapa wilayah.
Upaya Penanganan Terus Dilakukan
Tim gabungan dari pemerintah daerah, BPBD, dan relawan terus melakukan berbagai langkah penanganan. Mulai dari koordinasi lintas instansi, pendataan warga terdampak, distribusi karung pasir untuk penanganan darurat, hingga penyediaan lokasi pengungsian tambahan.
Evakuasi warga juga masih terus dilakukan untuk memastikan tidak ada korban yang tertinggal di wilayah rawan banjir.
BNPB Turun Tangan Percepat Penanganan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ikut turun tangan dalam penanganan banjir ini. Koordinasi dengan BPBD Jawa Tengah terus dilakukan untuk mempercepat langkah darurat di lapangan.
Personel BNPB juga diterjunkan langsung ke lokasi terdampak guna membantu proses evakuasi dan pemenuhan kebutuhan warga.
Kebutuhan Dasar dan Kesehatan Jadi Prioritas
Dalam situasi darurat ini, pemenuhan kebutuhan dasar menjadi fokus utama. Bantuan makanan, air bersih, serta layanan kesehatan terus diberikan kepada para pengungsi.
Beberapa warga dilaporkan mengalami gangguan kesehatan akibat kelelahan dan kondisi lingkungan, sehingga tim medis disiagakan di berbagai titik pengungsian.
Waspada Banjir Susulan
Meski kondisi air mulai surut, masyarakat tetap diimbau untuk waspada terhadap kemungkinan banjir susulan. Perbaikan tanggul darurat dan pemantauan debit air Sungai Tuntang terus dilakukan.
Melalui kerja sama berbagai pihak ini, diharapkan kondisi dapat segera pulih dan warga dapat kembali beraktivitas dengan aman.






