Jatengkita.id – Kota Semarang menjadi tempat lahirnya sejumlah bisnis kuliner yang kemudian berkembang menjadi merek yang dikenal masyarakat luas.
Salah satu fenomena menarik datang dari bisnis ayam goreng. Di tengah menjamurnya usaha kuliner tersebut, terdapat dua merek yang sama-sama lahir di Kota Semarang, yakni Rocket Chicken dan OTI Fried Chicken.
Menariknya, kedua bisnis tersebut menyasar segmen konsumen yang relatif serupa, tetapi memilih strategi pengembangan usaha yang berbeda. Perbedaan strategi inilah yang kemudian membuat jumlah gerai keduanya terpaut cukup jauh.
Rocket Chicken Memiliki Ribuan Gerai
Waralaba ini pertama kali membuka usahanya pada 2010 di Jalan Wolter Monginsidi, Semarang. Dari sebuah gerai ayam goreng, bisnis ini kemudian berkembang dengan model kemitraan atau franchise.
Model tersebut menjadi salah satu faktor penting yang membuat ekspansi Rocket Chicken berlangsung sangat cepat. Hingga Juli 2026, jumlah gerai Rocket Chicken telah mencapai sekitar 1.340 outlet yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Target pasarnya pun tergolong luas, terutama anak sekolah, mahasiswa, dan masyarakat kelas menengah. Harga yang relatif terjangkau membuat produk ayam goreng cepat saji seperti Rocket Chicken mudah diterima di berbagai wilayah.
Namun, ekspansi melalui kemitraan bukan berarti dilakukan tanpa pengawasan. Rocket Chicken menerapkan sejumlah ketentuan kepada mitranya untuk menjaga standar operasional dan kualitas produk.
Mulai dari pengaturan jumlah karyawan, ketentuan jarak antargerai, hingga pelatihan bagi pegawai menjadi bagian dari sistem yang diterapkan. Dengan demikian, meskipun gerainya dimiliki dan dijalankan oleh mitra, standar merek tetap dapat dikontrol oleh perusahaan.
OTI Fried Chicken Memilih Jalan Berbeda
Lima tahun setelah Rocket Chicken berdiri, bisnis ayam goreng lain muncul di Kota Semarang. OTI Fried Chicken hadir pada 2015, bermula dari kawasan Tembalang yang dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas mahasiswa di sekitar Universitas Diponegoro (UNDIP).
Sama seperti Rocket Chicken, OTI juga menyasar konsumen yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti pelajar, mahasiswa, dan masyarakat kelas menengah.
Namun, OTI memilih strategi ekspansi yang berbeda. Jika Rocket Chicken menggunakan model franchise untuk memperluas jaringan, OTI tidak menjual franchise dan memilih membuka serta mengelola gerainya sendiri.
Strategi tersebut membuat pertumbuhan jumlah gerai OTI tidak secepat Rocket Chicken. Hingga 2026, jumlah gerainya berada di kisaran puluhan toko.
Meski jumlah gerainya jauh lebih sedikit, OTI justru memiliki keleluasaan untuk mengembangkan karakter masing-masing gerainya.
Dari OTI Biasa hingga OTI Signature
Karena seluruh gerai dikelola sendiri, OTI dapat bereksperimen dengan berbagai konsep toko. Tidak semua gerainya hadir dengan desain dan pengalaman yang sama.
Beberapa konsep yang dikembangkan antara lain OTI biasa, OTI Express, OTI Heritage, hingga OTI Signature.
Konsep OTI Signature bahkan membawa pendekatan yang lebih dekat dengan kafe. Pengunjung tidak hanya datang untuk membeli ayam goreng, tetapi juga dapat memanfaatkan ruang untuk mengerjakan tugas atau bekerja secara work from anywhere (WFA).
Strategi tersebut menunjukkan bahwa bisnis ayam goreng tidak selalu harus berhenti pada produk makanan. Pengalaman konsumen juga dapat menjadi bagian dari nilai yang ditawarkan sebuah merek.
Mengapa Jumlah Outlet Keduanya Bisa Terpaut Jauh?
Jika melihat angka gerai, perbedaan antara Rocket Chicken dan OTI Fried Chicken memang cukup mencolok. Rocket Chicken telah mencapai sekitar 1.340 outlet, sementara OTI masih berada di kisaran puluhan gerai.
Lantas, mengapa bisa demikian? Salah satu jawabannya adalah model bisnis.
Rocket Chicken tidak hanya menjalankan bisnis dengan menjual ayam goreng kepada konsumen. Perusahaan juga memiliki lini bisnis melalui kemitraan atau franchise. Artinya, ekspansi gerai dapat dilakukan bersama mitra di berbagai daerah.
Sementara itu, OTI memilih berkonsentrasi pada satu lini utama, yakni menjual produk ayam goreng secara langsung kepada konsumen melalui gerai yang dikelola sendiri.
Perbedaan ini membuat keduanya memiliki skala bisnis yang berbeda. Artinya, banyaknya gerai tidak serta-merta menunjukkan bahwa satu model bisnis lebih baik daripada model lainnya.
Keduanya memiliki konsekuensi, kebutuhan modal, sistem pengawasan, dan strategi operasional yang berbeda.
Keduanya juga menunjukkan bahwa tidak ada satu formula tunggal untuk membangun bisnis yang berhasil. Yang terpenting adalah menemukan strategi yang sesuai dengan kemampuan, karakter produk, dan pasar yang ingin dituju.
Belajar dari 4P Bisnis
Fenomena dua bisnis ayam goreng asal Semarang ini juga dapat menjadi pelajaran bagi pelaku usaha yang sedang membangun bisnis.
Salah satu konsep dasar yang penting dipahami adalah 4P Marketing Mix, yaitu Product, Price, Place, dan Promotion.
Dari Semarang, keduanya memberikan satu pelajaran sederhana bagi calon pengusaha: sebelum memperbesar bisnis, kenali terlebih dahulu produk, harga, tempat, promosi, dan siapa sebenarnya konsumen yang ingin dilayani.
