Menelusuri Sejarah Jurnalisme Lewat Monumen Pers Nasional Surakarta

Menelusuri Sejarah Jurnalisme Lewat Monumen Pers Nasional Surakarta
Salah satu koleksi pustaka di Museum Pers Nasional (Gambar: mpn.komdigi.go.id)

Jatengkita.id – Monumen Pers Nasional sebuah gedung pertemuan yang dibangun pada awal abad ke-20. Gedung ini awalnya merupakan Societeit Sasana Soeka yang berada di Jalan Gajah Mada, Surakarta.

Pada masa kolonial Belanda, bangunan tersebut digunakan sebagai tempat berkumpul masyarakat Eropa dan kalangan elite di Surakarta untuk mengadakan berbagai kegiatan sosial maupun budaya. 

Peran bangunan ini berubah setelah Indonesia merdeka. Pada 9 Februari 1946, gedung tersebut menjadi lokasi penyelenggaraan Kongres Pers Indonesia pertama.

Kongres yang dihadiri wartawan dari berbagai daerah itu menghasilkan kesepakatan penting, yaitu pembentukan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai organisasi profesi wartawan pertama di Indonesia.

Peristiwa tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah perkembangan pers nasional. Hingga kini tanggal 9 Februari diperingati sebagai Hari Pers Nasional. 

Melihat nilai sejarah yang dimilikinya, pemerintah menetapkan gedung ini sebagai Monumen Pers Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 59 Tahun 1978. Peresmian dilakukan pada 9 Februari 1978 oleh Presiden Soeharto.

Sejak saat itu, bangunan bersejarah ini tidak hanya berfungsi sebagai monumen, tetapi juga sebagai pusat pelestarian arsip, dokumentasi, dan koleksi sejarah pers Indonesia.

Keberadaan Monumen Pers Nasional menjadi pengingat bahwa pers memiliki peran besar dalam perjalanan bangsa.

Berbagai surat kabar, majalah, hingga media penyiaran pernah menjadi sarana perjuangan untuk menyampaikan informasi, membangun kesadaran masyarakat, dan mengawal perjalanan demokrasi Indonesia.

Pusat Dokumentasi dan Edukasi Pers

Saat ini, Monumen Pers Nasional berada di bawah pengelolaan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Monumen Pers Nasional.

Pengelolaan tersebut berfokus pada pelestarian bangunan cagar budaya. Selain itu juga pada upaya menjaga warisan dokumentasi pers Indonesia agar tetap dapat diakses oleh masyarakat.

Sebagai lembaga dokumentasi, Monumen Pers Nasional mengumpulkan, merawat, menginventarisasi, serta mendigitalisasi berbagai koleksi yang berkaitan dengan sejarah media massa.

museum pers nasional
(Gambar: mpn.komdigi.go.id)

Ribuan arsip berupa surat kabar, majalah, buku, foto jurnalistik, rekaman audio, hingga dokumentasi audio visual terus dirawat agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi bagi peneliti, mahasiswa, wartawan, maupun masyarakat umum.

 

Selain menjadi museum, Monumen Pers Nasional juga aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan edukasi. Misalnya, seminar, diskusi, pameran tematik, pelatihan jurnalistik, hingga kunjungan belajar bagi pelajar dan mahasiswa.

Berbagai program tersebut bertujuan memperkenalkan sejarah pers sekaligus meningkatkan literasi media di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat.

Koleksi Monumen Pers

Daya tarik utama Monumen Pers Nasional terletak pada bangunan bersejarahnya. Tak hanya itu, kekayaan koleksi yang merekam perjalanan dunia pers dan komunikasi di Indonesia juga sangat dinikmati.

Sebagai pusat dokumentasi pers nasional, museum ini menyimpan berbagai arsip dan benda bersejarah yang menjadi saksi perkembangan media massa dari masa ke masa.

Salah satu koleksi paling berharga adalah jutaan eksemplar surat kabar dan majalah yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Koleksi tersebut mencakup terbitan dari masa kolonial, periode Revolusi Nasional Indonesia, hingga era modern.

Lembaran-lembaran media cetak ini menjadi sumber informasi penting bagi peneliti untuk menelusuri dinamika sosial, politik, dan budaya yang pernah terjadi di Indonesia.

Selain koleksi media cetak, Monumen Pers Nasional juga menyimpan beragam peralatan komunikasi dan reportase yang pernah digunakan oleh para jurnalis.

Mesin ketik manual, pesawat telepon, pemancar radio, kamera, hingga berbagai perangkat komunikasi lawas dipamerkan sebagai gambaran perkembangan teknologi jurnalistik sebelum hadirnya era digital.

Benda-benda tersebut memperlihatkan bagaimana proses peliputan dan penyebaran informasi dilakukan dengan teknologi yang jauh lebih sederhana dibandingkan saat ini.

Pengunjung juga dapat melihat diorama sejarah pers yang menggambarkan perjalanan media massa Indonesia dari masa ke masa. Melalui rangkaian diorama tersebut, kisah perkembangan pers disajikan secara visual sehingga lebih mudah dipahami oleh berbagai kalangan.

Diorama tersebut memperlihatkan bagaimana pers berkembang seiring perubahan zaman, mulai dari masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga Indonesia modern.

Melengkapi koleksi tersebut, museum ini juga menyimpan berbagai artefak wartawan dan memorabilia tokoh-tokoh pers nasional.

Foto-foto bersejarah, dokumen penting, naskah, hingga benda pribadi yang pernah digunakan oleh insan pers menjadi bagian dari koleksi yang bernilai tinggi.

Kehadiran koleksi ini tidak hanya memperkaya pengetahuan pengunjung mengenai sejarah jurnalistik Indonesia. Museum ini juga menjadi penghormatan terhadap para wartawan yang berperan dalam menyampaikan informasi dan mengawal perjalanan bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *