Jatengkita.id – Lokananta menjadi ikon sekaligus museum yang tengah populer di daerah Solo. Namun, tahukah kamu bahwa Museum Lokananta Solo ini memiliki sejarah panjang yang sangat berdampak di peradaban musik Indonesia?
Bagi mereka yang tumbuh di era 1960 hingga 1980-an, Lokananta adalah ikon keren simbol kreativitas dan tempat berkumpulnya para musisi. Tempat ini juga sekaligus studio rekaman paling bergengsi di Indonesia pada zamannya.
Jauh dari sorotan panggung dan gemerlap dunia hiburan, Lokananta berdiri anggun di Jalan Ahmad Yani No. 379, Kerten, Solo, Jawa Tengah. Dari tempat inilah ribuan rekaman musik dan dokumentasi sejarah bangsa dijaga dengan penuh dedikasi, menjadi saksi bisu perjalanan panjang industri musik Indonesia.
Didirikan pada tahun 1956, Lokananta lahir dengan tujuan besar, yaitu memproduksi sekaligus mendistribusikan materi siaran untuk Radio Republik Indonesia (RRI) dalam bentuk piringan hitam.
Ide ini dicetuskan oleh R. Maladi, Kepala Jawatan RRI saat itu. Ia ingin menghadirkan lebih banyak musik lokal di udara agar lagu-lagu Indonesia tak kalah oleh dominasi musik barat.
Pada 29 Oktober 1956, sebuah babak baru dalam sejarah musik Indonesia dimulai. Di kota Surakarta, berdirilah Pabrik Piringan Hitam Lokananta Jawatan Radio Kementerian Penerangan Republik Indonesia.
Lembaga ini kemudian dikenal sebagai studio rekaman pertama milik negara dan cikal bakal industri musik nasional.
Baca juga: Menyusuri Pelestarian Seni Lewat Balai Soedjatmoko Solo
Nama Lokananta memiliki makna mendalam. Dalam kisah pewayangan Jawa, Lokananta adalah gamelan surgawi yang mampu berbunyi sendiri, menghasilkan nada-nada indah tanpa sentuhan tangan manusia.
Filosofi itu tercermin dalam Gamelan Sri Kuncoro Mulyo yang disimpan di gedung Lokananta hingga kini, dipercaya sebagai wujud duniawi dari gamelan sakral tersebut.
Perjalanan Lokananta tak berhenti di sana. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 215 Tahun 1961, bidang usahanya berkembang menjadi label rekaman nasional yang memproduksi lagu daerah, pertunjukan seni, serta buku dan majalah budaya.
Dari ruang-ruang rekamannya, lahirlah karya abadi dari musisi legendaris seperti Gesang, Sam Saimun, Waldjinah, Buby Chen, dan Jack Lesmana. Hal ini menjadikan studio Lokananta sebagai simbol kejayaan musik Indonesia di masa lalu.
Tak hanya dikenal lewat koleksi lagu-lagu daerah, Lokananta juga menyimpan rekaman bersejarah yang menjadi saksi perjalanan bangsa Indonesia.
Di antaranya adalah sub-master pidato proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yang ternyata direkam pada tahun 1951 dan dikirim ke Lokananta pada 1959 untuk digandakan.
Selain itu, terdapat pula rekaman lagu kebangsaan “Indonesia Raya” versi instrumental karya Jos Cleber dengan aransemen tiga stanza lengkap, serta rekaman pidato Presiden Soekarno saat membuka Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955.

Memasuki era 1970-an hingga akhir 1980-an, Lokananta ada pada masa kejayaannya. Studio ini memutuskan untuk beralih dari piringan hitam ke kaset pada tahun 1972 terbukti menjadi langkah tepat.
Dalam satu bulan, Lokananta mampu memproduksi hingga 100 ribu kaset, yang laris di pasaran dan menjadikan nama Lokananta semakin dikenal masyarakat luas.
Puncak kemajuan Lokananta terjadi pada tahun 1985, saat Menteri Penerangan, Harmoko, meresmikan pembangunan studio rekaman baru. Studio ini dilengkapi tata akustik terbaik dan mampu digunakan untuk rekaman live. Fasilitas ini menjadikan Lokananta Solo studio terbesar di Indonesia hingga kini.
Namun, masa kejayaan itu tak berlangsung selamanya. Setelah Departemen Penerangan dibubarkan pada era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Lokananta kehilangan induk organisasi tempat bernaung.
Periode ini menjadi masa paling sulit dalam sejarah Lokananta. Sehingga pada tahun 2004, Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) memberikan kejelasan terhadap status Lokananta.
Melalui proses likuidasi, aset Lokananta kemudian dialihkan sebagai penambahan modal negara ke dalam Perum PNRI. Langkah ini menjadi awal dari babak baru perjalanan Lokananta, membuka harapan untuk kembali bangkit dan berkembang di era modern.
Lokananta kini menjelma menjadi ruang kreatif yang menampung energi seni dari berbagai generasi musisi Indonesia. Mulai dari Glenn Fredly hingga Shaggydog, semuanya pernah menjadi bagian dari perjalanan baru Lokananta sebagai simbol kebangkitan musik tanah air.
Tak hanya menjadi studio bersejarah, Lokananta juga membuka pintu lebar bagi musisi independen yang ingin merilis karya mereka dalam format rekaman analog.
Hingga tahun 2015, Lokananta bahkan menerima pesanan duplikasi kaset mencapai tiga ribu keping per bulan, menunjukkan bahwa format klasik ini masih punya tempat di hati para pecinta musik.
Dengan area yang luas, lokasi strategis di kota Solo, dan bangunan berarsitektur kolonial yang ikonik, Lokananta kini juga difungsikan sebagai ruang multifungsi.
Beragam kegiatan dapat digelar di sini, mulai dari konser musik, pameran seni, diskusi, workshop, seminar, pemotretan, hingga acara pernikahan. Tak ketinggalan, museum musik Lokananta Solo selalu terbuka untuk para pengunjung yang ingin menyelami sejarah musik Indonesia dari dekat.
Lokananta juga berkomitmen untuk terus beradaptasi dengan zaman. Salah satu langkah pentingnya adalah mengajak para musisi di wilayah Solo dan Yogyakarta untuk mendistribusikan karya mereka secara digital, menjembatani warisan analog dengan dunia musik modern.
Baca juga: Didi Kempot, Solois Kondang Surakarta dengan Daya Tariknya
Keyword: solo, museum lokananta, studio lokananta, sejarah






