Mengenal Fenomena Sungai Kali Odo Semarang yang Unik

Mengenal Fenomena Sungai Kali Odo Semarang yang Unik
(Gambar: travel.detik.com)

Jatengkita.id – Berlokasi di Dusun Karangnongko, Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Kali Odo menawarkan fenomena alam yang unik dari sungai-sungai lainnya.

Bagaimana tidak? Aliran air di Kali Odo ini justru mengalir deras saat awal musim kemarau tiba dan mengering ketika musim hujan tiba. 

Bukan sulap bukan sihir, peristiwa langka yang menghampiri Kali Odo ini tentu saja memiliki penjelasan secara ilmiah. Inilah yang membuat sungai Kali Odo membuat banyak wisatawan penasaran dengan pola aliran airnya.

Nah, apakah kamu tertarik berkunjung ke sini? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di sini!

Menawarkan Pesona yang Memukau

Secara umum, Kali Odo merupakan bagian dari kawasan Desa Wisata Gedangan. Destinasi wisata air yang ikonik ini memiliki aliran air sungai yang jernih karena berasal dari sumber mata air murni.

Tidak heran jika air yang terdapat di Kali Odo ini memberikan kesegaran tersendiri kepada para pengunjung. 

Selain itu, kawasan di sekitar area wisata ini memiliki pemandangan alam yang hijau dan masih terjaga keasriannya. Sehingga, banyak dimanfaatkan oleh wisatawan untuk healing, berenang, berendam, fotografi, dan bersantai sambil menikmati ketenangan alam sekitar yang indah. 

Sumber Air Kali Odo Semarang

Lantas, dari mana sumber air yang terdapat di Kali Odo dengan kedalaman air sekitar 1,7 meter ini? Tentu saja berasal dari sumber mata air bawah tanah dengan arus yang tenang. Saat memasuki musim kemarau, mata air alami ini mulai mengalir dari hulu sungai. 

Ketersediaan air yang melimpah di Kali Odo ini oleh masyarakat setempat dimanfaatkan menjadi air minum, memasak, mandi, mencuci piring, hingga mencuci baju.

Tidak jarang, aliran air sungai ini juga digunakan untuk mengairi sawah warga seluas 50 hektare di Desa Gedangan, Sretan, dan Rowosari. 

Sudah dikenal Sejak Zaman Dahulu Kala

Peristiwa yang terjadi di Kali Odo ini sudah sejak lama diketahui oleh masyarakat setempat yaitu dari zaman leluhur.

Fenomena ini sering disebut dengan istilah ‘air tolongan’ karena muncul di musim kemarau yang bisa membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saat sumber air lainnya mengering. 

Berdasarkan kepercayaan warga setempat, Kali Odo sendiri mempunyai tujuh buah mata air atau disebut dengan ‘tuk’. Hal ini karena hanya mengeluarkan aliran air saat musim kemarau dan berhenti mengalir saat musim hujan yang disertai petir. 

Tercipta dari Anomali Hidrologi

Fenomena alam yang terjadi di Kali Odo ini disebabkan oleh anomali hidrologi. Hal ini sesuai dengan penjelasan dari Guru Besar Keairan Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Ign Sriyana.

Ia juga mengatakan jika ada beberapa faktor yang memengaruhi terjadinya anomali hidrologi tersebut. 

  • Lag Time atau Waktu Jeda Aliran

Ketika musim hujan tiba, air hujan baru akan meresap ke dalam tanah. Namun, membutuhkan waktu untuk melewati vadose zone (zona titik jenuh air) sebelum mencapai akuifer (zona jenuh air).

Penyebabnya karena adanya konduktivitas hidrolik lapisan tanah di atasnya yang berjalan lambat. Sehingga, air belum terkumpul pada mata air atau sumur. 

Air hujan akan tiba ke lapisan akuifer ketika musim kemarau. Dengan demikian, mata air bisa mengalir ketika musim kering tiba.

Pada musim kemarau, air akan meresap ke dalam lapisan akuifer dalam sepanjang musim penghujan selama berbulan-bulan lamanya. Inilah yang mengakibatkan debit aliran air tanah meningkat di permukaan. 

(Gambar: jurnalflores.co.id)
  • Karakteristik Sistem Akuifer

Pola aliran air yang tidak lazim di Kali Odo ini bisa dipengaruhi oleh karakteristik sistem akuifer. Khususnya, jika kawasan setempat didominasi dengan batuan kapur atau karst.

Di dalam batuan karst, air bisa mengalir melalui struktur gua yang menyerupai pipa melengkung (siphon) dan jaringan sungai bawah tanah. 

Efek siphon ini akan muncul ketika musim kering tiba yaitu saat air sudah terkumpul di dalam rongga batuan melalui ketinggian tertentu.

Pengumpulan air ini tentu memakan waktu sepanjang musim penghujan. Dengan begitu, air baru akan muncul ketika musim kemarau tiba lewat efek siphon. 

  • Tekanan Hidrolik Air Permukaan dan Pumping Test

Menurut Ign Sriyana, anomali hidrologi bisa terjadi karena adanya tekanan hidrolik air permukaan dan pumping tes. Hal ini karena pada air permukaan seperti sungai atau danau dan air tanah yang terhubung bisa menyebabkan munculnya anomali.

Apalagi saat musim hujan level air permukaan sungai atau limpasan banjir akan meningkat secara drastis.

Tentu, bisa menciptakan tekanan hidrolik sehingga proses keluarnya air tanah melalui titik-titik mata air tertentu atau graining-losing stream interaction bisa membuat air tanah menjadi terjebak. 

Berbeda saat musim kemarau tiba, level air permukaan akan menyusut secara drastis yang dapat menurunkan tekanan balik.

Alhasil, dapat mengakibatkan pelepasan air tanah secara masif yaitu dari recharge area (area tangkapan air) yang posisinya jauh dari titik keluar dengan tekanan yang lebih rendah.

  • Antropogenik atau Intervensi dari Manusia

Faktor lain yang bisa memicu anomali hidrologi yaitu adanya pengaruh antropogenik antara aktivitas manusia di kawasan mata air.

Ign Sriyana menjelaskan bahwa pola pompa bersama pada saat musim hujan tiba biasanya para petani atau pelaku industri setempat cenderung mematikan sumur bor dan mengandalkan air hujan. 

Selain itu, debit air lokal bisa mengecil jika terdapat anomali penggunaan seperti sistem drainase besar yang menyedot air tanah ketika hujan dengan tujuan agar tidak terjadi banjir.

Di samping itu, artificial recharge (regulasi pengisian kembali) yang berhasil di hulu sungai baru terlihat dampaknya saat adanya peningkatan debit air di hilir ketika musim kemarau.

Berdasarkan empat faktor di atas, ada dua faktor utama yang paling memungkinkan menyebabkan terjadinya anomali hidrologi di Kali Odo. Pertama, karena adanya lag time atau waktu jeda aliran dan karakteristik sistem akuifer karst. 

Melahirkan Warisan Tradisi Leluhur

Fenomena alam yang terjadi di Kali Odo ini tak hanya membawa kebermanfaatan saja bagi masyarakat Desa Gedangan. Namun, juga membentuk warisan tradisi leluhur secara turun-temurun hingga saat ini. 

Tradisi tersebut bernama ‘Sadranan’ yang dilakukan sebagai wujud dari rasa syukur atas anugerah dan nikmat dari Tuhan Yang Maha Esa melalui aliran air di Kali Odo.

Tradisi Sadranan ini dilakukan dengan cara mengadakan selamatan dan menghidangkan puluhan nasi tumpeng. Selain itu, ada juga doa yang dipanjatkan oleh para tokoh agama. 

Tradisi yang sudah melekat ini biasanya dilakukan setiap memasuki musim kemarau. Saat itu, warga desa akan melakukan kegiatan bersih kali untuk membersihkan sampah yang ada di sekitar sungai. 

Kali Odo menjadi bukti bahwa fenomena alam bisa hidup berdampingan dengan sempurna melalui sejarah dan tradisi. Tentunya, tanpa mengganggu proporsi keseimbangan alam dan kehidupan manusia di era modern seperti sekarang ini. 

Exit mobile version