Serat Wulang Reh: Panduan Meraih Kepribadian Luhur

Serat Wulang Reh: Panduan Meraih Kepribadian Luhur
(Gambar: Pinterest)

Jatengkita.id – Masyarakat Jawa sangat identik dengan tatanan moral dan laku kebajikan. Apalagi masyarakat jaman kuno. Mereka menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban dan hubungan antara individu-manusia-Tuhan.

Bukan semata-mata identitas. Perilaku tersebut menjadi prioritas apabila ingin mencapai derajat kehidupan yang luhur dan harmonis. Orang-orang Jawa sangat akrab dengan berbagai filosofi yang mengantarkan pada kedamaian hidup dalam menaati aturan Tuhan.

Salah satu sumber referensi yang mengajarkan tentang moralitas kehidupan adalah Serat Wulang Reh. Karya ini sudah banyak diteliti dan masih bisa dijumpai hingga sekarang meskipun dengan akses terbatas.

Mengenal Serat Wulang Reh

Serat Wulang Reh merupakan karya sastra kuno yang ditulis oleh Sri Susuhanan Pakubuwana IV. Karya ini selesai ditulis pada tahun 1808 Masehi dan banyak digunakan sebagai pedoman bagi masyarakat Jawa dan pengikutnya di keraton.

Serat Wulang Reh berasal dari dua kata, yaitu “wulang” yang berarti ajaran atau pedoman dan “reh” dari Bahasa Jawa Kuno yang artinya jalan untuk mencapai sesuatu. Sementara “serat” sendiri bermakna karya sastra Jawa yang ditulis oleh pujangga Jawa dalam bentuk tembang.

Serat Wulang Reh berbentuk puisi tembang macapat yang memiliki 13 pupuh. Ada Dhandhanggula, Kinanthi, Gambuh, Pangkur, Maskumambang, Megatruh, Durma, Wirangrong, Pocung, Mijil, Asmaradana, Sinom, dan Girisa.

Ketiga belas pupuh tersebut masing-masing memiliki ajaran moral tersendiri. Serat Wulang Reh tersimpan di Museum Radya Pustaka, Perpustakaan Reksa Pustaka, dan Perpustakaan Sasana Pustaka di Kota Surakarta.

Ajaran dalam Serat Wulang Reh

  1. Memahami makna hidup

Dalam pupuh Dhandhanggula, manusia diajarkan untuk menjalani kehidupan sesuai aturan dan pedoman Tuhan yang Maha Esa. Dengan demikian, hidup akan mencapai kesempurnaan.

Manusia yang merasa memiliki keburukan dalam bertingkah laku, maka bergurulah pada ahli ibadah atau mencari keteladanan.

  1. Tekun dan sopan dalam bertata krama

Ajaran moral ini tercantum dalam pupuh Kinanthi. Seseorang harus bertekad kuat dalam meraih cita-cita. Selain itu, penting untuk menjaga pergaulan dengan lingkungan yang baik.

Adab dan akhlak adalah dua nilai yang jadi senjata utama bagi generasi muda di tengah gempuran budaya-budaya barat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai di Indonesia, khususnya Jawa.

  1. Sabar dan hati-hati

Penting untuk menjaga sikap dari kesombongan karena hanya akan merugikan diri sendiri. Ajaran ini terdapat dalam Pupuh Gambuh. Manusia harus bersikap sabar, cermat, dan hati-hati untuk bisa menghadapi semua kemungkinan buruk.

  1. Mempertimbangkan hal baik dan buruk

Mempertimbangkan berbagai hal sebelum bertindak dan mempertimbangkan dengan siapa kita berteman adalah ajaran dalam Pupuh Pangkur. Semua hal yang kita kerjakan akan mendatangkan konsekuensi.

Karenanya, penting untuk menimbang berbagai kemungkinan yang berpotensi merugikan diri sendiri dan orang lain. Selain itu, memilih pertemanan juga penting. Jangan sampai kita terjebak dan terbawa arus dalam lingkup yang tidak sehat dan baik.

  1. Hormat dan berbakti pada orang tua

Pupuh Maskumambang mengajarkan pentingnya menghormati orang tua. Ajaran ini tidak terbatas pada hubungan antara anak dengan orang tua, melainkan juga berlaku untuk seseorang dengan orang yang lebih tua dan pemimpin dengan rakyatnya.

Apabila hubungan yang baik dapat diterapkan, maka relasi sosial yang lebih luas juga akan terbangun dengan baik.

ajaran moral dalam serat wulang reh
Serat Wulang Reh (Gambar: wikipedia)
  1. Loyalitas dan penerimaan

Manusia diajarkan untuk memiliki loyalitas dalam hal pengabdian. Bersabar dan ikhlas dalam melayani tanpa mengharapkan imbalan adalah satu sikap terpuji.

Menjalankan amanah dengan baik dan mementingkan pemenuhan kewajiban atas menuntut hak adalah ajaran dalam serat ini.

  1. Mengokohkan diri

Manusia diajarkan untuk mengendalikan hawa nafsu. Untuk mencapai sesuatu, kita tidak bisa mengabaikan kuasa Tuhan. Ajaran utama yang terletak dalam Pupuh Durma ini adalah jangan sombong, jangan mencela, dan jangan mengritik hasil yang diperoleh orang lain.

  1. Menjalin komunikasi yang baik

Ajaran membangun komunikasi yang baik dijabarkan dalam Pupuh Wirangrong. Seseorang harus mampu mengondisikan lisan saat berbicara dengan lawan tutur. Perhatikan apakah topik tersebut menyinggung dan tidak layak untuk disampaikan.

Pupuh ini juga mengajarkan untuk tidak mudah membuat janji yang tidak bisa ditepati.

  1. Menjaga silaturahim

Silaturahim dengan saudara harus dijaga hingga akhir hayat. Memiliki saudara yang banyak tentu menjadi hal positif karena bisa saling tolong-menolong bila ada kesulitan.

Selain itu, bersaudara juga mengajarkan tentang kesabaran, bersikap lapang dada, dan saling memberi nasihat kebaikan. Dengan begitu, hubungan harmonis akan terjalin awet. Nilai-nilai moral ini diajarkan dalam Pupuh Pocung.

  1. Berjiwa satria

Pupuh Mijil mengajarkan bagaimana seseorang harus memiliki jiwa satria. Manusia harus berani, tegas, dan tidak malu menunjukkan kebodohan.

Apabila merasa kurang dalam ilmu, maka belajarlah dengan sungguh-sungguh sebagai bekal menjalani kehidupan. Selanjutnya, kepandaian yang dimiliki harapannya bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang satria juga harus memiliki sikap syukur atas semua rahmat dan rezeki yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

  1. Religiusitas

Nilai-nilai religi diajarkan dalam Pupuh Asmaradana. Manusia diajarkan untuk tidak melupakan perannya sebagai seorang hamba. Artinya, ia harus menaati setiap perintah dan larangan Allah SWT.

Manusia juga tidak bisa menjadikan dunia sebagai pijakan, karena sifatnya sementara. Karena itu, jangan sampai terlena dengan hal-hal duniawi.

Ajaran lainnya adalah bagaimana menjadi pemimpin yang baik bagi rakyat dan negara. Pemimpin harus mampu menjaga negara, bijaksana, dan membawa kemakmuran bagi rakyatnya.

  1. Nasihat bagi kaum muda

Generasi muda harus memiliki ilmu dan membangun karakter sebagai pribadi yang luhur. Nasihat leluhur bisa dijadikan sebagai pedoman dalam bertingkah laku. Anak-anak muda bisa membersihkan diri dengan mengurangi makan dan tidur.

Kemudian, banyak memohon pada Allah SWT agar dimudahkan dalam menggapai cita-cita. Ajaran ini dijelaskan dalam Pupuh Sinom.

  1. Mendengarkan dan menghormati nasihat orang tua

Generasi muda diharapkan mampu memberikan nilai-nilai keteladanan kepada generasi selanjutnya. Penting untuk menjaga silaturahim dan menjalin kasih sayang dengan sesama.

Anak-anak muda juga harus banyak bersyukur dan menerima takdir hidup dengan sabar. Terus menuntut ilmu dan menjaga tata krama yang baik akan memudahkan jalan mencapai cita-cita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *