Jatengkita.id – Selain air terjun dan kebun tehnya yang terkenal sebagai destinasti alam, Kabupaten Karanganyar juga memiliki destinasi religi populer, yaitu Astana Giribangun.
Destinasi ini merupakan kompleks pemakaman yang menjadi tempat peristirahatan terakhir presiden kedua Indonesia, Soeharto. Mausoleum ini dibangun untuk keluarga Soeharto yang terletak di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 660 mdpl.
Astana Giribangun punya daya tarik karena lokasinya yang berada di atas bukit, sehingga tempat ini menawarkan pemandangan alam yang indah dan suasana sejuk.
Jadi, selain sebagai tempat ziarah, Astana Giribangun juga menjadi destinasi wisata religi yang menarik bagi pengunjung. Terlebih, gaya arsitektur di kompleks pemakaman Soeharto ini bergaya Jawa, yakni Joglo yang sangat kental budaya dan dipenuhi dengan pepohonan.
Suasananya lebih tenang dan sejuk, apalagi dengan panorama alamnya yang indah akan membuat pengunjung betah. Untuk menuju Astana Giribangun, pengunjung harus melewati beberapa perkampungan karena lokasinya jauh dari keramainan kota.
Tempatnya juga bersih dan luas. Meskipun tampak sederhana, namun sangat asri karena bersebelahan dengan hutan cemara.
Baca juga : Rebranding De Tjolomadoe, Napak Tilas Pabrik Gula Hindia Belanda
Kompleks Astana Giribangun
Astana Giribangun punya histori yang panjang. Mausoleum ini dibangun pada tahun 1974 atas perintah Presiden Soeharto untuk Keluarga Cendana dan kemudian diresmikan pada tahun 1967.
Tatanannya terletak di bawah Astana Mangadeg yang merupakan kompleks pemakaman keluarga Pura Mangkunegaran. Letak dengan susunan tersebut menunjukkan arti bahwa masih terdapat garis keturunan antara Sri Hartinah (Tien Soeharto) dengan keluarga Mangkunegaran III.

Bangunan di atas Bukit Ngipik seluas kurang lebih 4.3 hektare ini berjarak kurang lebih 35 kilometer dari Kota Surakarta.
Terdapat tiga bagian cungkup, yaitu Argosari, Argokembang, dan Argotuwuh. Satu bagian cungkup utama dan dua bagian cungkup lainnya merupakan calon makam yang diperuntukkan bagi keluarga dan para pengurus Yayasan Mangadeg.
Cungkup Argosari merupakan cungkup utama di Astana Giribangun. Di cungkup inilah Soeharto beserta istrinya dimakamkan. Selain itu, terdapat juga makam kedua orang tua Tien Soeharto yang masih keturunan keluarga Mangkunegaran III.
Pada area ini, terdapat lima makam berisi keluarga, mulai dari sebelah kiri Siti Hartini (kakak Tien Soeharto), KPH Soemuharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo (orang tua Tien Soeharto), Jendral besar TNI (Purn) H.M Soeharto (Presiden RI ke-2), dan Raden Ayu Hj, Siti Hartinah atau Tien Soeharto (istri Presiden RI ke-2).
Empat tiang utama di dalam Cungkup Argosari ini terbuat dari beton yang dihiasi dengan lapisan kayu ukiran asal Jepara.
Setelah mengunjungi makam Soeharto dan Tien Soeharto, pengunjung juga dapat melanjutkan berziarah ke teras Cungkup Argosari. Teras seluas 243 meter persegi ini merupakan calon lokasi makam anak dan para menantu Soeharto.
Kemudian, di selasar seluas 405 meter persegi merupakan calon makam para penasihat, pengurus harian, serta anggota pengurus Yayasan Mangadeg.
Cungkup Argokembang yang memiliki luas 567 meter persegi ini merupakan makam yang diperuntukkan kepada pengurus pleno, para pengurus seksi Yayasan Mangadeg, dan keluarga besar Mangkunegaran.
Terakhir, pada Cungkup Argotuwuh yang merupakan cungkup terluar dengan luas 729 meter persegi, akan digunakan sebagai calon makam bagi para pengurus Yayasan Mangadeg atau keluarga besar Mangkunegaran, sama seperti pada Cungkup Argokembang.
Kompleks Astana Giribangun memiliki berbagai fasilitas, termasuk masjid, rumah peristirahatan bagi peziarah, kamar mandi, tandon air, gapura utama, tempat tunggu, rumah jaga, dan tempat parkir khusus. Pengunjung akan terbantu dengan papan informasi yang telah disediakan.
Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!






