Jatengkita.id – Ketika berbicara mengenai dunia horologi, sebagian besar orang langsung teringat pada Swiss, Jerman, Jepang, atau nama-nama besar seperti Rolex, Patek Philippe, Omega, hingga Breguet.
Padahal, jauh sebelum Indonesia merdeka, Nusantara ternyata pernah memiliki seorang ahli pembuat arloji yang kemampuannya mendapat pengakuan langsung dari kalangan horolog Eropa.
Sosok tersebut adalah Kadjo, seorang abdi dalem muda asal Kasunanan Surakarta. Pada pertengahan abad ke-19, ia dikirim ke Belgia untuk mempelajari seni pembuatan arloji.
Kisahnya bukan sekadar perjalanan belajar ke luar negeri. Ia membuktikan bahwa putra Nusantara pernah berdiri sejajar dengan para perajin jam terbaik di Eropa.
Sayangnya, nama Kadjo kini nyaris tenggelam dalam sejarah. Padahal, kontribusinya menjadi salah satu tonggak awal lahirnya pembuat arloji pribumi di Indonesia layak dikenang.
Berawal dari Keluhan yang Mengubah Sejarah
Perjalanan Kadjo bermula dari sebuah keluhan yang disampaikan seorang pengusaha Belgia bernama C. Coenaes kepada Susuhunan Paku Buwono VIII.
Saat itu, Coenaes mengeluhkan kualitas para tukang keraton yang dinilai belum mampu memperbaiki arloji, lonceng, maupun barang-barang logam presisi dengan baik.
Alih-alih terus mendatangkan tenaga ahli dari Eropa, Coenaes mengusulkan solusi yang jauh lebih visioner. Ia menyarankan agar seorang pemuda Jawa dikirim langsung ke Belgia untuk belajar horologi dari para ahlinya.
Usulan tersebut diterima oleh pihak keraton. Pilihan kemudian jatuh kepada seorang pemuda berusia sekitar 21 tahun bernama Kadjo. Ia adalah abdi dalem sekaligus putra dari perwira rendah pasukan kavaleri Kasunanan Surakarta.
Keputusan ini menjadi awal dari salah satu perjalanan pendidikan paling menarik dalam sejarah teknologi Nusantara.
Menempuh Perjalanan Laut Menuju Belgia
Pada 1856, Kadjo berangkat menuju Brussel bersama keluarga Coenaes. Perjalanan laut menuju Eropa bukanlah sesuatu yang mudah. Ia harus menghabiskan waktu lebih dari tiga minggu mengarungi samudra dengan kapal layar.
Sesampainya di Belgia, Kadjo tidak langsung mempelajari mekanisme arloji. Ia diwajibkan terlebih dahulu menguasai bahasa Prancis agar mampu mengikuti proses pendidikan secara optimal.

Setelah menguasai bahasa, Kadjo mulai berguru kepada pembuat arloji ternama bernama Heckmann. Menariknya, pendidikan yang diterimanya tidak hanya berkaitan dengan mekanisme mesin jam, tetapi juga seni menggambar ornamen di Akademi Seni Brussel.
Hal tersebut menunjukkan bahwa menjadi seorang pembuat arloji pada masa itu bukan sekadar memahami roda gigi dan pegas. Mereka harus menguasai estetika, desain, hingga seni ukir yang menjadi identitas sebuah arloji berkualitas.
Bakat Kadjo Cepat Diakui
Kemampuan Kadjo berkembang dengan sangat pesat. Dalam waktu relatif singkat, ia berhasil menunjukkan kemajuan yang bahkan melampaui sejumlah murid senior.
Pada 1859, Kadjo meraih penghargaan dalam bidang seni ornamen di Akademi Seni Menggambar Brussel. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa dirinya tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki kemampuan artistik yang diakui oleh para pengajarnya.
Salah satu pembimbingnya bahkan memberikan pujian tinggi atas perkembangan Kadjo. Pengakuan tersebut menjadi pencapaian yang luar biasa, mengingat pada masa kolonial sangat jarang seorang pribumi memperoleh apresiasi akademik di Eropa.
Keberhasilan itu sekaligus mematahkan anggapan bahwa masyarakat Nusantara tidak mampu menguasai teknologi presisi yang berkembang di dunia Barat.
Menciptakan Arloji Bernuansa Jawa
Setelah menyelesaikan pendidikan, Kadjo menciptakan sebuah arloji khusus yang dipersembahkan kepada Susuhunan Paku Buwono VIII.
Yang membuat karya tersebut begitu istimewa bukan hanya mekanisme mesinnya, tetapi identitas budaya yang melekat di dalamnya.
Alih-alih menggunakan angka Romawi sebagaimana lazimnya arloji Eropa saat itu, Kadjo memilih menggunakan aksara Jawa sebagai penunjuk waktu.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa dirinya tidak sekadar menguasai teknologi Barat. Ia tetap membawa identitas budaya Nusantara dalam karya yang diciptakannya.
Pada bagian pelat arloji, Kadjo bahkan menuliskan identitas dirinya sebagai abdi dalem Surakarta dan murid Heckmann di Brussel. Prasasti tersebut menjadi simbol kebanggaan atas asal-usulnya sekaligus bukti bahwa ilmu modern tidak harus menghapus jati diri budaya lokal.
Membuat Para Ahli Jam Eropa Terkesan
Sebelum dikirim kembali ke Surakarta, arloji karya Kadjo sempat diperlihatkan kepada sejumlah tokoh penting di Belanda, termasuk pembuat jam kerajaan.
Menurut berbagai catatan sejarah, kualitas arloji tersebut menuai respons yang sangat positif. Para ahli horologi Eropa mengagumi presisi sekaligus keunikan desain yang memadukan teknik Eropa dengan sentuhan budaya Jawa.
Pengakuan ini menjadi pencapaian yang sangat langka bagi seorang pribumi pada abad ke-19. Di tengah dominasi bangsa Eropa dalam bidang teknologi, Kadjo berhasil menunjukkan bahwa kemampuan dan kreativitas tidak mengenal batas asal-usul maupun latar belakang sosial.
Nama Besar yang Nyaris Terlupakan
Ironisnya, meski pernah memperoleh pengakuan internasional, nama Kadjo kini jarang muncul dalam literatur sejarah populer Indonesia.
Padahal, kisahnya dapat menjadi inspirasi bahwa semangat belajar, kerja keras, dan keberanian keluar dari zona nyaman telah dimiliki oleh putra-putra Nusantara sejak ratusan tahun lalu.
Di tengah maraknya apresiasi terhadap merek-merek jam dunia, perjalanan Kadjo mengingatkan bahwa Indonesia juga memiliki jejak panjang dalam sejarah horologi.
Ia bukan sekadar pembuat arloji. Kadjo menjadi simbol bagaimana ilmu pengetahuan, seni, dan identitas budaya dapat berpadu menjadi karya yang diakui dunia.
