Jatengkita.id – Keistimewaan Iduladha tidak berhenti pada satu hari saja. Islam menetapkan bahwa setelah tanggal 10 Dzulhijjah, masih ada tiga hari lanjutan yang juga sangat mulia, yakni tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Ketiga hari ini disebut sebagai hari-hari tasyrik.
Perayaan ini begitu istimewa karena bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji, khususnya prosesi wukuf di Arafah yang menjadi puncak haji, serta ibadah qurban yang dilakukan oleh kaum Muslimin di seluruh dunia.
Rasulullah ﷺ menyatakan dalam sabdanya,
“Hari Arafah, hari qurban, dan hari-hari tasyrik adalah hari raya kita umat Islam, dan itu adalah hari makan dan minum.” – (HR. An-Nasa’i dan At-Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa hari-hari tasyrik termasuk bagian dari rangkaian hari raya. Maka, bukan hanya hari Iduladha yang perlu kita muliakan, tetapi juga tiga hari setelahnya. Momentum ini menjadi ladang amal dan kesempatan memperkuat hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Menjaga Kebugaran Iman di Hari-Hari Mulia
Seorang Muslim yang baik tentu akan senantiasa menjaga kebugaran imannya. Sebab iman, sebagaimana diajarkan dalam Islam, bukan sesuatu yang statis. Iman bisa naik dan turun. Ia bertambah dengan amal saleh, dan berkurang karena perbuatan dosa.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah pernah menjelaskan bahwa iman terdiri dari tiga unsur, yaitu pengakuan dengan lisan, keyakinan di dalam hati, dan amal dengan anggota badan.
Maka, menjaga iman bukan hanya sekadar mempercayai kebenaran ajaran Islam di hati, tetapi juga mengekspresikannya melalui tindakan nyata.
Beliau mengatakan,
“Iman bertambah dengan taat dan amal, dan berkurang karena maksiat.”
(Aaro-ahu wal I’tiqodiyah was Shufiyah, hal. 92)
Dari sinilah pentingnya memahami bahwa momentum seperti Iduladha dan hari tasyrik merupakan peluang besar untuk menyegarkan dan memperkuat iman kita melalui berbagai amalan yang disyariatkan.
Baca juga : Iduladha Banyak Daging Kurban? Simak Tips Aman Konsumsinya!
Empat Amalan Utama di Hari-Hari Tasyrik
1. Memperbanyak Takbir
Salah satu amalan yang sangat dianjurkan di hari tasyrik adalah takbir, yaitu mengagungkan nama Allah dengan lafaz “Allahu Akbar” yang disertai dzikir lainnya seperti tahmid dan tahlil.
Takbir ini terbagi menjadi dua jenis.
- Takbir Mutlak
Takbir bebas yang bisa dilakukan kapan saja, tidak terikat waktu. Disyariatkan sejak awal bulan Dzulhijjah sampai akhir hari tasyrik (13 Dzulhijjah). - Takbir Muqayyad
Takbir yang dilakukan setiap selesai salat wajib. Dimulai setelah salat Subuh pada 09 Dzulhijjah (hari Arafah) sampai setelah Ashar pada 13 Dzulhijjah.
Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 28:
“Agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.”
Menurut penafsiran para ulama seperti Ibnu Abbas dan Imam Qurtubi, hari-hari yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah dan tiga hari tasyrik. Ini menjadi dalil kuatnya anjuran memperbanyak dzikir dan takbir pada waktu tersebut.
2. Tidak Berpuasa
Pada hari-hari biasa, puasa termasuk ibadah yang sangat dianjurkan, bahkan diwajibkan di bulan Ramadan. Namun pada hari tasyrik, puasa justru diharamkan bagi kebanyakan orang. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ:
“Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.” – (HR. Muslim)
Dengan kata lain, pada hari-hari ini umat Islam dilarang berpuasa karena merupakan waktu untuk merayakan nikmat Allah, bukan menahan diri dari makan dan minum.
Meski demikian, ada pengecualian. Orang yang sedang berhaji dengan manasik tamattu’ dan tidak mampu menyembelih hewan hadyu, diperbolehkan berpuasa pada hari-hari tersebut.
Hal tersebut sebagai bentuk pelaksanaan kewajiban puasa tiga hari saat berhaji, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 196.
3. Menyembelih Hewan Qurban

Banyak yang mengira bahwa ibadah qurban hanya bisa dilakukan pada 10 Dzulhijjah. Padahal, waktu menyembelih hewan qurban dalam syariat Islam berlangsung hingga hari terakhir tasyrik, yaitu 13 Dzulhijjah.
Ali bin Abi Thalib ra. berkata:
“Hari-hari untuk menyembelih qurban adalah hari Idul Adha dan tiga hari sesudahnya.” – (Jami’ul Fiqh, 3/576)
Hal ini sangat memudahkan, khususnya bagi panitia qurban atau lembaga sosial yang mengelola banyak hewan. Waktu tiga hari tambahan ini memberi keleluasaan untuk membagi dan mendistribusikan daging qurban dengan baik.
4. Memperbanyak Amal Salih
Hari-hari tasyrik adalah waktu yang sangat dimuliakan Allah. Maka segala bentuk ibadah, baik yang wajib maupun sunah, memiliki nilai yang tinggi jika dilakukan di hari-hari ini.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Hari yang paling mulia di sisi Allah adalah hari Iduladha, lalu hari Al-Qarr (hari pertama tasyrik).”- (HR. Abu Daud, no. 1765. Disahihkan oleh Al-Albani)
Ibadah yang bisa dilakukan sangat luas, mulai dari salat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, membantu orang lain, memberi makan, menyebar senyum, dan bentuk-bentuk kebaikan lainnya. Bahkan amal kecil jika dilakukan pada waktu mulia, bisa bernilai besar di sisi Allah.
Hari-hari tasyrik adalah kelanjutan dari kemuliaan Iduladha. Ia bukan sekadar hari tambahan setelah hari raya, melainkan hari-hari istimewa yang penuh peluang untuk memperkuat iman dan memperbanyak amal salih.
Mari kita isi hari-hari ini dengan takbir, beramal baik, menghindari larangan seperti puasa, serta memaknai ibadah qurban sebagai bentuk kepatuhan kepada Allah SWT. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang memanfaatkan waktu-waktu mulia ini dengan sebaik-baiknya.
Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!






