Sejarah Lawang Sewu Era Kolonial, dari Kantor hingga Tempat Eksekusi

Sejarah Lawang Sewu Era Kolonial, dari Kantor hingga Tempat Eksekusi
(Gambar: istockphoto.com)

Jatengkita.id – Lawang Sewu merupakan ikon populer Kota Semarang yang dulunya bekas bangunan perkantoran yang menjadi pusat komunikasi dan transportasi di Jawa pada masa penjajahan Belanda. Sejarah Lawang Sewu di era kolonial menjadi salah satu bahan yang menarik untuk dikuliti.

Bangunan ini memiliki lima gedung, yaitu gedung A, B, C, D, dan E serta satu rumah pompa. Lawang Sewu punya fasilitas percetakan, telegraf, dan telepon. Bangunan bersejarah ini dikenal karena punya banyak pintu. Meski namanya Lawang Sewu, namun jumlah pintu yang ada hanya 429 pintu dan 1200 daun pintu.

Tahun 1903, seorang arsitek dari Negeri Kincir Angin merancang dan mendesain sebuah bangunan gedung untuk instansi kereta api di Semarang. Ia membuat blue print yang kemudian projek tersebut dilaksanakan oleh Belanda pada tahun 1904 hingga 1907.

Oleh arsitek Belanda bernama Cosman Citroen, bangunan ini dirancang dalam gaya Hindia Baru. Konstruksi dimulai pada tahun 1904 dengan bangunan A yang selesai pada 1907.

Sisanya selesai pada tahun 1919 dan awalnya digunakan oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappi (NISM) sebagai kantor pusat persusahaan kereta api Hindia Belanda.

Baca juga: Kembali Dibuka! Menyingkap Ruang Bawah Tanah Lawang Sewu

Era Jepang

Pada tahun 1942, Jepang mengambil alih Lawang Sewu dan menjadikannya sebagai kantor Riyuku Sokyaku atau jawatan transportasi Jepang.

Setelah Jepang berhasil menduduki Hindia Belanda, tentara Jepang menjadikan Lawang Sewu dan ruang bawah tanah gedung B menjadi penjara dengan eksekusi mati atau tempat penyiksaan bagi tahanan perang.

Bangunan ini juga pernah digunakan oleh militer Jepang sebagai markas. Banyak tentara Indonesia yang gugur dalam pertempuran tersebut akibat kekejaman Jepang.

sejarah lawang sewu
Tidak mengacu pada nama, jumlah pintu di Lawang Sewu hanya 429 pintu (Gambar: istockphoto.com)

Pertempuran Lima Hari di Semarang

Lawang Sewu punya peran penting dalam sejarah Indonesia dari berbagai peristiwa penting selama masa kolonial. Peristiwa paling bersejaraha dalah pertempuran lima hari di Semarang pada tahun 1945 antara Angkatan Pemuda Kereta Api (APKA) melawan tentara Jepang.

Pada Oktober 1945, dua bulan setelah proklamasi, kota ini berubah menjadi medan pertempuran. Alumni guru, teknisi, pelajar, dan petani, bersatu padu menjadi pejuang melawan keganasan Jepang. Titik paling berdarah berada di Lawang Sewu di mana gedung megah ini berubah menjadi tempat mencekam.

Para pemuda yang ikut dalam pertempuran telah terjebak dan Jepang berhasil mengepung dari segala arah. Di lantai bawah tanah, mereka diseret secara paksa dan tak manusiawi dengan cara disiksa. Lorong panjang yang gelap ini kemudian berubah menjadi kuburan massal.

Setelah lima hari bertempur, bantuan datang dari BKR dan pemuda Yogyakarta. Jepang pada akhirnya mundur. Tentara Indonesia kemudian mengambil alih kompleks bangunan tersebut dan dioperasikan oleh Djawatan Kereta Republik Indonesia.

Keberlanjutan Lawang Sewu

Lanjut pada tahun 1992, bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya. Lawang Sewu terus berfungsi sebagai kantor kereta api hingga tahun 1995 ketika PT Kereta Api Indonesia (KAI) memindahkan kantor pusatnya ke Bandung.

Pada tahun 2009, Lawang Sewu direnovasi dan dijadikan sebagai museum dan galeri sejarah perkereta apian oleh Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitekstur. Upaya ini berada di bawah kendali anak perusahaan PT KAI, yaitu KAI Wisata.

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *