Mengungkap Standar Kecantikan Perempuan Jawa Kuno

Mengungkap Standar Kecantikan Perempuan Jawa Kuno
(Gambar: Pinterest)

Di masa kini, kecantikan perempuan sering diidentikkan dengan penampilan fisik—kulit cerah, tubuh proporsional, hingga riasan yang menawan. Namun, bagaimana sebenarnya standar kecantikan perempuan Jawa atau Indonesia kuno? Apakah sama seperti sekarang, atau justru berbeda jauh?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, salah satu rujukan penting yang sering digunakan adalah kitab sastra Jawa klasik, yaitu Serat Centhini.

Naskah ini tidak hanya berisi kisah dan ajaran kehidupan, tetapi juga memuat pandangan masyarakat Jawa masa lampau tentang perempuan ideal, termasuk kriteria kecantikan yang menjadi dambaan para bangsawan dan pangeran.

Warisan Sastra yang Menyimpan Nilai Kehidupan

Serat Centhini awalnya ditulis dalam aksara Jawa dan dikenal pula dengan sebutan Suluk Tambangraras atau Suluk Tambanglaras. Meskipun termasuk dalam karya sastra Jawa Baru, isi naskah ini menghimpun berbagai pengetahuan dan budaya Jawa dari masa-masa sebelumnya.

Tujuannya adalah menjaga agar tradisi dan ilmu lama tidak punah seiring berjalannya waktu. Naskah ini disusun pada tahun 1742 dalam penanggalan Jawa atau sekitar 1814 Masehi, pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwana IV.

Penulisan dilakukan oleh para juru tulis istana atas prakarsa putra mahkota Surakarta saat itu, yakni Sunan Pakubuwana V, yang kelak naik takhta pada tahun 1820 Masehi.

Melalui naskah inilah, masyarakat masa kini dapat mengetahui bahwa kecantikan perempuan pada masa Jawa kuno tidak hanya dinilai dari wajah atau tubuh, melainkan lebih menekankan pada sikap, kecerdasan, dan kemampuan menjalankan peran dalam kehidupan sehari-hari.

standar kecantikan perempuan jawa
(Gambar: Pinterest)

Tujuh Kriteria Perempuan Cantik Menurut Tradisi Jawa

Dalam salah satu bagian, Serat Centhini menjelaskan tujuh kriteria perempuan cantik yang dianggap layak menjadi pasangan para pangeran atau bangsawan. Menariknya, kriteria ini lebih menekankan pada karakter dan kemampuan hidup.

  • Pertama, sama, yaitu memiliki sifat welas asih atau rasa kasih sayang kepada sesama makhluk hidup. Perempuan yang penyayang dianggap memiliki hati yang lembut dan mampu menciptakan kedamaian di sekitarnya.
  • Kedua, beda, yakni kemampuan untuk membedakan dan mempertimbangkan sesuatu sebelum bertindak. Perempuan diharapkan mampu memilih mana yang baik dan lebih penting untuk dilakukan.
  • Ketiga, dana, yaitu gemar berbagi dan memberi kebahagiaan kepada orang lain. Sikap dermawan dipandang sebagai tanda kemuliaan hati.
  • Keempat, dhendha, yakni ketaatan terhadap aturan dan norma. Seorang perempuan diharapkan memahami mana yang benar dan salah dengan mempertimbangkan situasi dan tempat atau dikenal dengan prinsip empan papan.
  • Kelima, guna, yaitu memiliki kecakapan dan memahami tanggung jawab dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan perannya sebagai perempuan.
  • Keenam, busana, bukan sekadar soal pakaian, tetapi kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi, termasuk cara berpenampilan yang tepat sesuai kebutuhan.
  • Ketujuh, asana, yaitu kemampuan menata, menjaga, dan memelihara rumah agar menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan.

Ketujuh kriteria tersebut menunjukkan bahwa kecantikan dalam pandangan masyarakat Jawa kuno erat kaitannya dengan kecerdasan emosional, etika, dan keterampilan hidup.

Tiga Watak Keselarasan dalam Rumah Tangga

Selain tujuh kriteria utama, naskah ini juga menjelaskan tiga watak yang dianggap penting dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki, khususnya dalam kehidupan rumah tangga.

  • Pertama, sawanda, yang berarti keselarasan antara keinginan lahir dan batin. Perempuan diharapkan mampu melayani pasangan dengan tulus, seolah memperlakukan dirinya sendiri.
  • Kedua, saekapraya, yakni kemampuan menyelaraskan keinginan pribadi dengan keinginan pasangan, sehingga tercipta keharmonisan dalam hubungan.
  • Ketiga, sajiwa, yang berarti satu jiwa atau kesetiaan penuh kepada pasangan. Kesetiaan ini dianggap sebagai fondasi penting dalam membangun keluarga yang kokoh.

Kecantikan yang Lebih dari Sekadar Penampilan

Melihat pandangan tersebut, jelas bahwa standar kecantikan perempuan pada masa Jawa kuno tidak hanya bertumpu pada fisik. Justru, karakter, perilaku, serta kemampuan menjalankan peran dalam kehidupan sehari-hari menjadi ukuran utama.

Nilai-nilai yang tercantum dalam Serat Centhini menggambarkan bahwa kecantikan sejati pada masa itu adalah perpaduan antara hati yang baik, kecerdasan dalam bertindak, serta kesetiaan dalam menjalani kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *