Jatengkita.id – Bagi masyarakat di tanah Jawa, tentu tidak akan melupakan sastrawan dan punjangga besar bernama Raden Ngabehi Ranggawarsita. Sosok ini merupakan tokoh penting yang hidup di masa keemasan Keraton Surakarta dengan nama asli Bagus Burhan.
Ia lahir pada Senin Legi, 10 Zulkaidah 1728 Saka atau 25 Maret 1802 Masehi di Kampung Yasadipura, Surakarta. Raden Ngabehi Ranggawarsita merupakan putra dari Mas Pajangswara, cucu dari Yasadipura II, pujangga utama Kasunanan Surakarta.
Dari keturunan ibunya, ia merupakan seorang bangsawan berdarah Demak. Ayahnya wafat sewaktu sang pujanggaa masih kecil dan kemudian ikut dengan kakeknya, Raden Tumenggung Sastranegara yang juga seorang bangsawan Keraton Solo.
Raden Ngabehi Ranggawarsita dijuluki pujangga besar budaya Jawa yang telah meninggalkan warisan berupa puluhan serat yang memiliki nilai serta pencapaian estetika yang luar biasa.
Ketekunannya pada sastra, budaya, teologi serta bakat yang diimilikinya, menjadikannya sebagai pujangga terakhir Keraton Surakarta sekaligus tanah Jawa. Hal ini karena sepeninggalnya, belum ada sastrawan lain yang bisa mengunggulinya di bidang yang sama.
Sejak belia, Raden Ngabehi Ranggawarsita sudah mengembara mencari ilmu. Ia mendapat didikan secara langsung dari Raden Tumenggung Sastranegara. Saat kakek buyutnya, Yasadipura I masih hidup, ia telah meramalkan bahwa Raden Ngabehi Ranggawarsita kelak akan menjadi pujangga Jawa terakhir.
Pujangga yang dibesarkan di lingkungan Keraton Surakarta ini terkenal karena berhasil mengubah Jangka Jayabaya yang tersohor hingga ke mancanegara meski hingga kini ramalan tersebut masih menjadi misteri dan kontroversi.
Salah satu ramalannya yang membuatnya makin dikenal adalah peristiwa Kemerdekaan Indonesia.
Baca juga: Mengakrabi Raden Saleh, Maestro Lukis Asal Semarang
Keistimewaan Karya
Besar dari kalangan yang mengutamakan dunia pendidikan, membuat Raden Ngabehi Ranggawarsita menjelma menjadi seorang yang haus akan ilmu pengetahuan.

Melalui kemampuan yang dimilikinya hingga menjadikannya istimewa, Raden Ngabehi Ranggawarsita berhasil menggabungkan pengetahuan tradisional Jawa dengan pemikiran ajaran keislaman.
Ia berhasil memadukan tradisi Jawa dengan ajaran Islam, khususnya dalam karya-karyanya yang bernuansa tasawuf. Julukan filsuf Jawa yang tersemat pada Radeng Ngabehi Ranggawarsita bisa dilihat melalui karya “Serat Hidayat Jati”.
Karya ini berisi ajaran tasawuf berdasarkan pemikiran Ranggawarsita. Dalam serat itu dijabarkan tentang konsep ketuhanan, konsep penciptaan manusia, hingga hakikat kesempurnaan hidup. Tak hanya itu saja, karyanya yang sarat akan kritik sosial dan filosofi mendalam juga menjadikannya seorang pujangga besar.
Selain Serat Hidayat Jati, ada beberapa karya fenomenal lainnya, yaitu Serat Ajidarma Tuwin, Serat Ajinirmala, Serat Suluk Sukmalelana, Serat Jaka Lodhang, Serat Jayengbaya, Serat Pawarsakan, Serat Kalatidha, dan juga Serat Witaradya. Kemudian, ada juga prosa “Pustaka Raja Purwa”.
Ragam Karya Fenomenal
Raden Ngabehi Ranggawarsita berhasil melahirkan karya-karya penting di bidang kesusastraan Jawa, di antarannya dongeng, lakon wayang, babad salasilah, sastra, kesusilaan, kebatinan, ilmu kasampurnan, filsafat Jawa, primbon, hingga ramalan.
Raden Ngabehi Ranggawarsita tidak hanya seseorang yang berhasil menciptakan sebuah karya sastra saja. Ia merupakan sosok pecinta budaya dan tradisi hingga menuangkannya ke dalam berbagai karya ciptaannya.
Pujangga besar ini juga berhasil mendokumentasikan sejarah dan budaya Jawa seperti mitos, legenda, dan ajaran-ajaran spiritual lainnya. Ketekunannya dalam berkarya dan keterbukaan pemikiran membuat dirinya terus belajar hingga berhasil mengembangkan diri.
Raden Ngabehi Ranggawarsita meninggal dunia pada tanggal 5 Zulkaidah 1802 Saka atau 24 Desember 1873, dalam usia 71 tahun. Ia dimakamkan di Palar, Trucuk, Klaten, Jawa Tengah.
Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!






